“Seikhlasnya, Tapi Ada Tarifnya”, Kisah Receh dari Puskesmas Stabat

- Kontributor

Kamis, 9 April 2026 - 09:28 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Traktir kopi buat penulis biar semangat
+ Traktir Kopi

BERITA LANGKAT – Ada-ada saja cerita dari ruang tunggu pelayanan publik. Kali ini datang dari Puskesmas Stabat, yang mungkin terdengar sepele, tapi kalau dipikir-pikir… kok ya bikin senyum tipis.

Rabu (8/4), Rahmad, warga Stabat, datang untuk mengurus surat keterangan sehat. Prosesnya seperti biasa, isi data pribadi, cek kesehatan dan tunggu surat selesai dicetak, sesekali melamun sambil lihat orang lalu-lalang.

Nah, di tengah suasana yang tenang itu, tiba-tiba terdengar pertanyaan klasik dari seorang ibu, sebut saja namanya Buk Wati.

“Berapa buk biayanya?” tanyanya polos.

Pertanyaan yang sangat wajar. Tapi jawaban yang datang… sedikit di luar dugaan.

Baca Juga:  Menakar Efektivitas Kegiatan Reses Anggota Dewan

“Seikhlasnya saja, buk… tapi biasanya orang-orang beri Rp10 ribu.”

Rahmad yang mendengar itu sempat terdiam. Dalam hati mungkin berpikir, ini konsep baru dalam dunia per-ikhlas-an.

Di satu sisi “seikhlasnya”, di sisi lain ada “biasanya Rp10 ribu”. Jadi ini ikhlas… tapi diarahkan?

Kalau diibaratkan, seperti makan di warung yang bilang “bayar seikhlasnya”, tapi di depan kasir sudah ada tulisan kecil: “rata-rata pelanggan bayar segini ya…”.

Memang tidak ada paksaan. Tidak ada juga larangan untuk tidak membayar. Tapi penyebutan angka itu, entah kenapa, terasa seperti kode halus yang sulit diabaikan.

Rahmad pun hanya tersenyum. Bukan karena keberatan dengan nominalnya, Rp10 ribu tentu bukan angka yang membuat dompet menjerit. Tapi lebih ke rasa heran: kalau memang ikhlas, kenapa perlu dikasih bocoran harga?

Baca Juga:  Pawai Obor: Antara Semangat Beragama atau Euforia Semata?

Cerita kecil ini mungkin sering terjadi dan dianggap biasa. Tapi di balik kelucuannya, ada satu hal yang layak dipikirkan bersama, tentang kejelasan dalam pelayanan publik.

Sebab kadang, yang membuat masyarakat bingung bukan soal mahal atau murahnya biaya, tapi soal: ini sebenarnya gratis… atau tidak?

Dan dari ruang tunggu sederhana tersebut, kita belajar satu hal bahwa “ikhlas” ternyata juga bisa punya kisaran harga. 😁

Follow WhatsApp Channel langkatoday.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perlahan Tapi Pasti, Langkat Tunjukkan Tren Positif dari Tahun ke Tahun
Tanggap Darurat Diperpanjang, Wakil Rakyat Justru Mengungsi ke Luar Daerah
Tak Punya Empati! Banjir Belum Surut, Mayoritas Anggota DPRD Langkat Pergi Kunjungan Kerja
Hampir Seluruh Nahdliyin Sepakat Gus Yahya Diberhetikan sebagai Ketum PBNU
Alun-Alun Stabat yang Berubah Jadi Kolam, Cermin Buram Tata Kota Langkat
Ketika Wakil Rakyat Lupa Menjadi Teladan
Dulu Dicopot Karena Tahanan Kabur, Kini Kapolres Langkat Dituding Tutup Mata atas Skandal Besar!
Aktivis Bayaran: Saat Idealisme Mahasiswa Dijual Murah di Pinggir Jalan

Berita Terkait

Senin, 13 April 2026 - 06:45 WIB

Perlahan Tapi Pasti, Langkat Tunjukkan Tren Positif dari Tahun ke Tahun

Kamis, 9 April 2026 - 09:28 WIB

“Seikhlasnya, Tapi Ada Tarifnya”, Kisah Receh dari Puskesmas Stabat

Kamis, 4 Desember 2025 - 21:33 WIB

Tanggap Darurat Diperpanjang, Wakil Rakyat Justru Mengungsi ke Luar Daerah

Kamis, 4 Desember 2025 - 14:10 WIB

Tak Punya Empati! Banjir Belum Surut, Mayoritas Anggota DPRD Langkat Pergi Kunjungan Kerja

Sabtu, 22 November 2025 - 17:28 WIB

Hampir Seluruh Nahdliyin Sepakat Gus Yahya Diberhetikan sebagai Ketum PBNU

Berita Terbaru