Aktivis Bayaran: Saat Idealisme Mahasiswa Dijual Murah di Pinggir Jalan

- Kontributor

Senin, 20 Oktober 2025 - 10:31 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Traktir kopi buat penulis biar semangat
+ Traktir Kopi

BINJAI (Langkatoday) Apa jadinya jika nurani bangsa dijual seharga sebungkus nasi padang dan ongkos bensin? Itulah potret getir gerakan mahasiswa hari ini. Mereka yang dulu digadang-gadang sebagai pewaris semangat reformasi, kini sebagian berubah menjadi “pasukan sewaan” yang siap berteriak apa saja, asal ada amplop yang berpindah tangan.

Demonstrasi yang seharusnya menjadi simbol perlawanan moral kini berubah menjadi event berbayar. Ada yang datang membawa spanduk tanpa tahu isi tuntutan, ada yang berorasi membaca teks yang bahkan bukan tulisannya sendiri. Ironis, tapi nyata. Di tengah sorotan kamera, mereka tampak gagah, tapi di balik layar, sebagian hanya menunggu “transferan.”

Inilah kematian pelan-pelan idealisme mahasiswa, kematian yang tidak disebabkan peluru, tapi uang receh. Aktivisme kehilangan makna ketika moral dikonversi menjadi tarif. Ketika suara nurani bisa dipesan dengan harga, maka mahasiswa tak lagi menjadi pengontrol kekuasaan, melainkan bagian dari mesin kepentingan itu sendiri. Mereka tidak menggugat kebijakan, melainkan memerankan naskah pesanan.

Baca Juga:  Bagaimana ke Depannya, jika Kini Umat Islam Indonesia hanya 38,9% Saja yang Shalat?

Namun, fenomena ini tidak lahir di ruang kosong. Kemiskinan struktural di kalangan mahasiswa, tekanan ekonomi, dan budaya konsumtif kampus turut menyuburkannya. Banyak mahasiswa hari ini yang lebih sibuk mencari cuan ketimbang mencari makna. Tapi persoalannya, apakah alasan ekonomi cukup untuk membenarkan penjualan idealisme? Kalau begitu, apa bedanya aktivis dengan calo politik?

Pergerakan mahasiswa seharusnya berangkat dari kesadaran, bukan kontrak kerja. Dari kegelisahan intelektual, bukan dari perintah sponsor. Dari keberanian moral, bukan dari rasa lapar. Begitu idealisme mulai ditukar dengan uang, maka “gerakan” itu mati, bahkan sebelum melangkah ke jalan.

Baca Juga:  Ketika Kritik Menjadi Panggung: Menyoroti Manuver Fraksi Gerindra di DPRD Langkat

Dan lucunya, sebagian dari mereka mungkin masih percaya diri menyebut diri “pejuang rakyat.” Padahal rakyat yang mana? Rakyat yang menjerit karena kebijakan zalim, atau rakyat yang kebetulan membayar mereka?

Kita butuh mahasiswa yang berani miskin tapi bermartabat, bukan yang kaya dari amplop tapi miskin dari nurani. Karena bangsa ini tidak akan berubah oleh teriakan yang dibayar, melainkan oleh pikiran yang jujur dan hati yang berani.

Sebelum semuanya terlambat, kampus perlu menjadi ruang cuci bersih, bukan mencuci uang, tapi mencuci kesadaran. Sebab jika mahasiswa tidak lagi bisa dipercaya sebagai kontrol sosial, maka jangan salahkan rakyat jika mereka berhenti percaya pada gerakan apa pun. Karena ketika kebenaran sudah bisa dinegosiasikan, maka kebohonganlah yang akan jadi harga pasar.

Follow WhatsApp Channel langkatoday.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perlahan Tapi Pasti, Langkat Tunjukkan Tren Positif dari Tahun ke Tahun
“Seikhlasnya, Tapi Ada Tarifnya”, Kisah Receh dari Puskesmas Stabat
Tanggap Darurat Diperpanjang, Wakil Rakyat Justru Mengungsi ke Luar Daerah
Tak Punya Empati! Banjir Belum Surut, Mayoritas Anggota DPRD Langkat Pergi Kunjungan Kerja
Hampir Seluruh Nahdliyin Sepakat Gus Yahya Diberhetikan sebagai Ketum PBNU
Alun-Alun Stabat yang Berubah Jadi Kolam, Cermin Buram Tata Kota Langkat
Ketika Wakil Rakyat Lupa Menjadi Teladan
Dulu Dicopot Karena Tahanan Kabur, Kini Kapolres Langkat Dituding Tutup Mata atas Skandal Besar!

Berita Terkait

Senin, 13 April 2026 - 06:45 WIB

Perlahan Tapi Pasti, Langkat Tunjukkan Tren Positif dari Tahun ke Tahun

Kamis, 9 April 2026 - 09:28 WIB

“Seikhlasnya, Tapi Ada Tarifnya”, Kisah Receh dari Puskesmas Stabat

Kamis, 4 Desember 2025 - 21:33 WIB

Tanggap Darurat Diperpanjang, Wakil Rakyat Justru Mengungsi ke Luar Daerah

Kamis, 4 Desember 2025 - 14:10 WIB

Tak Punya Empati! Banjir Belum Surut, Mayoritas Anggota DPRD Langkat Pergi Kunjungan Kerja

Sabtu, 22 November 2025 - 17:28 WIB

Hampir Seluruh Nahdliyin Sepakat Gus Yahya Diberhetikan sebagai Ketum PBNU

Berita Terbaru