Pawai Obor: Antara Semangat Beragama atau Euforia Semata?

- Kontributor

Sabtu, 7 Juni 2025 - 08:43 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Traktir kopi buat penulis biar semangat
+ Traktir Kopi

STABAT (Langkatoday) – Pawai obor kerap menjadi salah satu tradisi yang meriah menyambut datangnya bulan suci Ramadhan atau memperingati Tahun Baru Islam.

Ribuan anak muda, khususnya remaja masjid, turun ke jalan membawa obor, berselawat, dan menunjukkan antusiasme luar biasa. Namun, di balik gemerlap cahaya obor dan semarak sorak sorai, muncul pertanyaan penting: Apakah ini benar-benar cerminan semangat beragama, atau sekadar euforia sesaat?

Ironisnya, setelah pawai selesai dan keramaian usai, masjid-masjid kembali lengang dari kehadiran remaja yang tadi begitu bersemangat.

Banyak dari mereka yang jarang terlihat dalam sholat berjamaah, bahkan pada waktu-waktu utama seperti Maghrib atau Isya. Aktivitas keagamaan yang bersifat rutin dan substansial justru sering diabaikan.

Baca Juga:  Sewindu Mengarungi Disrupsi Multidimensi

Fenomena ini menandakan adanya kegagalan dalam memaknai religiusitas secara mendalam. Agama seharusnya tidak hanya dirayakan melalui simbol dan seremoni, tetapi lebih penting lagi melalui komitmen dalam menjalankan kewajiban harian, seperti sholat berjamaah dan kegiatan kajian keislaman. Semangat religius seharusnya tidak berhenti pada kemeriahan, tetapi juga diwujudkan dalam konsistensi ibadah dan kontribusi nyata bagi kehidupan beragama di masyarakat.

Pawai obor tentu bukan sesuatu yang salah. Ia bisa menjadi sarana syiar yang positif jika dimaknai dan diikuti dengan pembinaan yang berkelanjutan. Namun, tanpa fondasi keagamaan yang kuat, kegiatan semacam ini rentan menjadi sekadar simbolisme kosong yang tidak berdampak pada pembentukan karakter Islami.

Baca Juga:  Langkat Membangun dari Desa: Akankah 5 Sarjana Jadi Kunci?

Sudah saatnya para pembina remaja masjid, pengurus DKM, dan tokoh masyarakat merenungkan ulang arah kegiatan keagamaan kita. Jangan sampai kita terjebak pada kemasan tanpa isi—ramai saat festival, sepi saat ibadah. Semangat religius sejati bukan tentang siapa yang paling keras bersorak, tetapi siapa yang paling konsisten dalam taat. (rel/rhm)

Follow WhatsApp Channel langkatoday.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perlahan Tapi Pasti, Langkat Tunjukkan Tren Positif dari Tahun ke Tahun
“Seikhlasnya, Tapi Ada Tarifnya”, Kisah Receh dari Puskesmas Stabat
Tanggap Darurat Diperpanjang, Wakil Rakyat Justru Mengungsi ke Luar Daerah
Tak Punya Empati! Banjir Belum Surut, Mayoritas Anggota DPRD Langkat Pergi Kunjungan Kerja
Hampir Seluruh Nahdliyin Sepakat Gus Yahya Diberhetikan sebagai Ketum PBNU
Alun-Alun Stabat yang Berubah Jadi Kolam, Cermin Buram Tata Kota Langkat
Ketika Wakil Rakyat Lupa Menjadi Teladan
Dulu Dicopot Karena Tahanan Kabur, Kini Kapolres Langkat Dituding Tutup Mata atas Skandal Besar!

Berita Terkait

Senin, 13 April 2026 - 06:45 WIB

Perlahan Tapi Pasti, Langkat Tunjukkan Tren Positif dari Tahun ke Tahun

Kamis, 9 April 2026 - 09:28 WIB

“Seikhlasnya, Tapi Ada Tarifnya”, Kisah Receh dari Puskesmas Stabat

Kamis, 4 Desember 2025 - 21:33 WIB

Tanggap Darurat Diperpanjang, Wakil Rakyat Justru Mengungsi ke Luar Daerah

Kamis, 4 Desember 2025 - 14:10 WIB

Tak Punya Empati! Banjir Belum Surut, Mayoritas Anggota DPRD Langkat Pergi Kunjungan Kerja

Sabtu, 22 November 2025 - 17:28 WIB

Hampir Seluruh Nahdliyin Sepakat Gus Yahya Diberhetikan sebagai Ketum PBNU

Berita Terbaru