Pepatah yang Terlupa: Pelajaran dari Minang untuk Melayu Langkat

- Kontributor

Sabtu, 9 Agustus 2025 - 15:56 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Traktir kopi buat penulis biar semangat
+ Traktir Kopi
Foto: infosumbar.net

Oleh: Al Faqih

STABAT (Langkatoday) “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” pepatah yang sarat makna ini seharusnya menjadi pedoman hidup dalam masyarakat majemuk. Artinya, siapa pun yang tinggal di suatu daerah mestinya menghormati adat setempat. Namun, di Langkat, pepatah ini justru terasa berbalik arah.

Dengan jumlah penduduk sekitar 15,04% dari total populasi, suku Melayu di Langkat bukanlah mayoritas. Tetapi, identitas Melayu kini kerap dijadikan wajah tunggal kabupaten, mulai dari simbol resmi hingga kebijakan penggunaan seragam adat yang berlaku untuk semua.

Pertanyaannya, apakah ini bentuk pelestarian budaya atau justru penyeragaman simbol yang mengabaikan keberagaman etnis di Langkat?

Belajar dari Minang

Mari menengok Sumatra Barat. Orang Minangkabau memang mayoritas mutlak di sana. Mereka berhasil menjadikan adat Minang sebagai wajah provinsi – dari bahasa, pakaian, hingga sistem pemerintahan nagari. Namun, yang jarang dibicarakan adalah strategi inklusif mereka: pendatang tetap diberi ruang hidup, berdagang, dan berkontribusi, meski aturan adat tetap dijunjung.

Baca Juga:  Bansos dan Kesejahteraan: Antara Solusi Sementara dan Ketergantungan Struktural

Artinya, kekuatan budaya Minang dibangun di atas legitimasi mayoritas dan dukungan konsensus sosial. Itulah mengapa simbol budaya mereka diterima luas, bahkan oleh pendatang.

Realitas Langkat yang Berbeda

Di Langkat, kenyataannya berbanding terbalik. Mayoritas penduduk adalah suku Jawa (sekitar 50–56%), disusul Batak dalam berbagai sub-etnis. Dalam konteks ini, menjadikan simbol Melayu sebagai identitas tunggal tanpa konsultasi publik yang memadai justru berpotensi menimbulkan jarak sosial dan resistensi diam-diam dari mayoritas.

Pepatah “di mana bumi dipijak” mestinya juga berlaku bagi orang Melayu Langkat. Menghormati “langit” Langkat hari ini berarti mengakui bahwa bumi ini ditapaki bersama oleh banyak suku, bukan satu etnis saja.

Baca Juga:  Ketika Kritik Menjadi Panggung: Menyoroti Manuver Fraksi Gerindra di DPRD Langkat

Politik Simbol atau Pelestarian Budaya?

Kebijakan publik seharusnya berlandaskan data, bukan sekadar romantisme sejarah. Pelestarian budaya Melayu tetap penting, tetapi langkahnya harus disertai keterbukaan pada pluralitas. Jika tidak, pelestarian akan berubah menjadi dominasi simbolik yang justru melemahkan semangat kebersamaan.

Menjunjung Langit Bersama

Orang Minang mengerti bahwa kekuatan adat datang dari penerimaan kolektif. Melayu Langkat pun bisa mengambil pelajaran yang sama: kejayaan budaya tidak lahir dari pemaksaan, tetapi dari rasa bangga yang dibangun bersama semua warga.

Langkat hari ini adalah rumah banyak etnis. Dan di rumah bersama, langit yang dijunjung seharusnya adalah langit milik semua.

Follow WhatsApp Channel langkatoday.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perlahan Tapi Pasti, Langkat Tunjukkan Tren Positif dari Tahun ke Tahun
“Seikhlasnya, Tapi Ada Tarifnya”, Kisah Receh dari Puskesmas Stabat
Tanggap Darurat Diperpanjang, Wakil Rakyat Justru Mengungsi ke Luar Daerah
Tak Punya Empati! Banjir Belum Surut, Mayoritas Anggota DPRD Langkat Pergi Kunjungan Kerja
Hampir Seluruh Nahdliyin Sepakat Gus Yahya Diberhetikan sebagai Ketum PBNU
Alun-Alun Stabat yang Berubah Jadi Kolam, Cermin Buram Tata Kota Langkat
Ketika Wakil Rakyat Lupa Menjadi Teladan
Dulu Dicopot Karena Tahanan Kabur, Kini Kapolres Langkat Dituding Tutup Mata atas Skandal Besar!

Berita Terkait

Senin, 13 April 2026 - 06:45 WIB

Perlahan Tapi Pasti, Langkat Tunjukkan Tren Positif dari Tahun ke Tahun

Kamis, 9 April 2026 - 09:28 WIB

“Seikhlasnya, Tapi Ada Tarifnya”, Kisah Receh dari Puskesmas Stabat

Kamis, 4 Desember 2025 - 21:33 WIB

Tanggap Darurat Diperpanjang, Wakil Rakyat Justru Mengungsi ke Luar Daerah

Kamis, 4 Desember 2025 - 14:10 WIB

Tak Punya Empati! Banjir Belum Surut, Mayoritas Anggota DPRD Langkat Pergi Kunjungan Kerja

Sabtu, 22 November 2025 - 17:28 WIB

Hampir Seluruh Nahdliyin Sepakat Gus Yahya Diberhetikan sebagai Ketum PBNU

Berita Terbaru