Bansos dan Kesejahteraan: Antara Solusi Sementara dan Ketergantungan Struktural

- Kontributor

Rabu, 21 Mei 2025 - 07:14 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Traktir kopi buat penulis biar semangat
+ Traktir Kopi

Oleh: Rahmatullah, S.E., M.SEI
Dosen FEBI INSAN Binjai

STABAT (Langkatoday) – Dalam beberapa tahun terakhir, bantuan sosial (bansos) menjadi instrumen utama pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi masyarakat, terutama di tengah krisis seperti pandemi COVID-19 dan kenaikan harga bahan pokok. Kabupaten Langkat, seperti banyak wilayah lain, juga menerima distribusi bansos secara berkala, mulai dari Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT), hingga bantuan langsung tunai (BLT).

Namun pertanyaannya: apakah bansos benar-benar mendorong kesejahteraan jangka panjang masyarakat?

Secara jangka pendek, bansos memang memberikan bantalan ekonomi bagi kelompok rentan. Ia mencegah lonjakan kemiskinan ekstrem, memperbaiki konsumsi rumah tangga, dan menjaga daya beli. Data BPS juga menunjukkan bahwa sebagian bansos berkontribusi menurunkan angka kemiskinan, meskipun dampaknya cenderung temporer.

Baca Juga:  Polisi Bedah Rumah Warga! Tugas Negara atau Cari Simpati?

Namun ketika bansos menjadi pola yang terus-menerus tanpa transformasi struktural, ia berisiko menciptakan ketergantungan. Ketika masyarakat terlalu lama bergantung pada bantuan, semangat produktivitas dan kemandirian dapat terkikis. Ini menjadi problem serius, apalagi jika bansos tidak dibarengi dengan pemberdayaan—seperti pelatihan usaha, akses modal UMKM, atau perluasan lapangan kerja.

Pemerintah daerah harus melihat bansos bukan sebagai solusi tunggal, tapi sebagai “jembatan” menuju program pembangunan berkelanjutan. Di sinilah pentingnya integrasi antara data penerima bansos dan program pemberdayaan. Jangan sampai kelompok miskin hanya menerima bantuan pasif, tanpa akses pada program peningkatan kapasitas diri.

Baca Juga:  Bayang-Bayang Kecurangan di Balik Seleksi BUMD Langkat

Lebih dari itu, evaluasi bansos harus transparan dan berbasis data. Siapa yang menerima? Seberapa besar dampaknya? Apakah tepat sasaran? Di Langkat, masih banyak keluhan tentang penerima bansos yang tidak sesuai kriteria, sementara masyarakat yang benar-benar membutuhkan justru tertinggal.

Bansos yang ideal adalah bansos yang menyiapkan masyarakat untuk tidak lagi membutuhkan bansos. Ia bukan akhir dari kebijakan sosial, tapi awal dari proses menuju masyarakat yang mandiri dan berdaya. Langkah ke arah itu harus dimulai sekarang.

Follow WhatsApp Channel langkatoday.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

607 Sumur Minyak Rakyat di Langkat Bakal Dilegalkan dan Dikelola BUMD!
Bupati Langkat Respons Dugaan Pungli Pupuk Subsidi, Inspektorat Diminta Turun Tangan
Langkat Go International! Gandeng UNDP, Syah Afandin Bidik Pembangunan Kelas Dunia di Bukit Lawang hingga Tangkahan
Perlahan Tapi Pasti, Langkat Tunjukkan Tren Positif dari Tahun ke Tahun
“Seikhlasnya, Tapi Ada Tarifnya”, Kisah Receh dari Puskesmas Stabat
Syah Afandin Imbau Warga Langkat Tidak Panic Buying BBM dan Sembako
Mobil Pabrik Es Dilempari Preman di Stabat, Tolak Setoran Berujung Kaca Pecah!
Tanggap Darurat Diperpanjang, Wakil Rakyat Justru Mengungsi ke Luar Daerah

Berita Terkait

Jumat, 5 Juni 2026 - 11:02 WIB

607 Sumur Minyak Rakyat di Langkat Bakal Dilegalkan dan Dikelola BUMD!

Kamis, 14 Mei 2026 - 07:25 WIB

Bupati Langkat Respons Dugaan Pungli Pupuk Subsidi, Inspektorat Diminta Turun Tangan

Rabu, 13 Mei 2026 - 13:05 WIB

Langkat Go International! Gandeng UNDP, Syah Afandin Bidik Pembangunan Kelas Dunia di Bukit Lawang hingga Tangkahan

Senin, 13 April 2026 - 06:45 WIB

Perlahan Tapi Pasti, Langkat Tunjukkan Tren Positif dari Tahun ke Tahun

Kamis, 9 April 2026 - 09:28 WIB

“Seikhlasnya, Tapi Ada Tarifnya”, Kisah Receh dari Puskesmas Stabat

Berita Terbaru