Selamat Hari Ibu: Nyawa Rumini Dikobaran Api Sang Bunda

- Kontributor

Sabtu, 21 Desember 2024 - 15:15 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Traktir kopi buat penulis biar semangat
+ Traktir Kopi
Ilustrasi

Oleh: H Affan Bey Hutasuhut
Wartawan Majalah TEMPO 1987-1994

STABAT (Langkatoday) – Tragedi yang memilukan hati ini patut menjadi pelajaran bagi siapapun yang nyinyir dan melawan pada orang tua. Apalagi sampai durhaka dan tega menggugatnya ke pengadilan hanya gara-gara harta warisan.

Simak cintanya Rumini, 29 tahun, terhadap ibunya yang sudah renta. Ketika Gunung Semeru meletus, Sabtu (4/12), semua warga berhamburan menyelamatkan diri, termasuk Rumini. Saat mengungsi, ia teringat ibunya tengah terkapar tak bisa berjalan terperangkap di rumah.

Seketika batinnya berontak segera kembali untuk menyelamatkan ibunya Salamah, 71 tahun. Meski keadaan sudah sangat berbahaya, Rumini tetap memaksakan masuk ke rumahnya.

Malang tak bisa ditolak. Saat tim evakuasi memasuki rumahnya, Rumini, sudah wafat bersama Ibunya. Jasad Rumini terlihat sedang memeluk sang Ibu di dapur rumah mereka.

Memeluk Surga

Ketua Tim SRU 1 Relawan Baret Nasdem Jember, Raditya, yang ikut dalam proses evakuasi korban amuk Semeru memperoleh pelajaran berharga.

Dari jenazah yang ia temukan, hati para relawan tersayat melihat dua insan meninggal berpelukan.

Inilah catatan Radit yang diposting dilaman media sosialnya.

Mungkin kami harus belajar darimu tentang mencintai, terutama ibu. Tak rela kau tinggalkan ibumu saat erupsi Semeru menyerang desamu, Curah Kobokan, Candipuro, Lumajang, Sabtu 4 Desember 2021.

Baca Juga:  Demokrasi Internal PB HIMALA, Antara Regulasi dan Elitisme

Pilihan berat bagi Rumini, antara lari menyelamatkan diri atau meninggalkan sang ibu yang tak sanggup berjalan.

Rupanya Rumini memilih untuk mendekap sang ibu berjuang hadapi terjangan erupsi Semeru. Jasad keduanya ditemukan di dapur rumah mereka.

Namamu melangit, malaikat menyambut ruh yang mewangi meski tubuh terbakar material panas, nafas terakhir mu saat memeluk ibumu, InsyaAllah seluruh penduduk langit kini tengah memelukmu.

Kami seluruh relawan di Semeru tak kuasa membendung haru, Rumini telah ajarkan kami tentang kesungguhan mencintai dan berbakti kepada ibu.

Angkat topi sejuta kali untukmu, Rumini. Tak terasa air mata menetes menulis kisahmu. 

Alfatihah Rumini, Kami yakin kau sedang tersenyum di langit. Sebab begitu banyak orang di bumi menyebut namamu, begitu besar cintamu pada ibumu, Salamah.

Teruslah tersenyum Rumini, kau memilih mendekap surgamu, InsyaAllah kau akan masuk surga dengan membawa serta kuncinya, ibumu.

“Kenapa harus lari jika surga bisa kupeluk?”

Alfatihah buat Rumini dan Sang Ibu

Kedua orang tua sungguh bagaikan malaikat bagi Rumini. Ia tahu betul bagaimana beratnya beban orang tua membelai, mengasuh, mulai dari bayi hingga dewasa. Seekor nyamukpun tak boleh mengganggu tidur sang bayi. Tengah malam pun orang tua terjaga saat mengetahui anak sakit dan membawanya ke rumah sakit.

Baca Juga:  Kita Terima, Tapi Tak Lupa

Saat masih wartawan di Medan, sering kali melihat ibu tertidur pulas di angkutan kota seraya memeluk tasnya yang boleh jadi berisi uang recehan hasil penjualan sayurnya di Pasar Sambu.

Mereka tampak mengantuk lantaran harus bangun pukul 03 dini hari buru-buru ke pasar agar tidak sampai kehabisan bahan sayuran yang dibeli dari pedagang sayur mayur yang datang dari luar kota.

Selepas itu mereka membuka lapaknya dan menjajakan dagangan sayur-mayurnya kepada pelanggan tetapnya para pemilik kedai. Biasanya mereka pulang berjualan pukul 10 pagi. Begitulah getirnya para ibu penjual sayur ini untuk menutupi kebutuhan sekolah anaknya dan dan lainnya.

Banyak kisah pilu para orang tua mencari rezeki demi kasih dan sayangnya pada sang anak.

Namun ada saja anak yang tidak tahu diri melawan orang tua bahkan tega mengnaiaya ibu akibat pengaruh narkoba, dan lainnya. Ada pula yang ogah-ogahan menjenguk ibuya meski sudah terkapar sakit sendirian di rumah.

Semoga kisah sayang Rumini yang tak terbatas bagai luasnya lautan terhadap sang ibu bisa menjadi mutiara yang memancarkan kasih sayang anak pada kedua orang tua, terlebih pada sang bunda yang kadang harus bertarung nyawa saat melahrkan sang bayi. (red)

Follow WhatsApp Channel langkatoday.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perlahan Tapi Pasti, Langkat Tunjukkan Tren Positif dari Tahun ke Tahun
“Seikhlasnya, Tapi Ada Tarifnya”, Kisah Receh dari Puskesmas Stabat
Tanggap Darurat Diperpanjang, Wakil Rakyat Justru Mengungsi ke Luar Daerah
Tak Punya Empati! Banjir Belum Surut, Mayoritas Anggota DPRD Langkat Pergi Kunjungan Kerja
Hampir Seluruh Nahdliyin Sepakat Gus Yahya Diberhetikan sebagai Ketum PBNU
Alun-Alun Stabat yang Berubah Jadi Kolam, Cermin Buram Tata Kota Langkat
Ketika Wakil Rakyat Lupa Menjadi Teladan
Dulu Dicopot Karena Tahanan Kabur, Kini Kapolres Langkat Dituding Tutup Mata atas Skandal Besar!

Berita Terkait

Senin, 13 April 2026 - 06:45 WIB

Perlahan Tapi Pasti, Langkat Tunjukkan Tren Positif dari Tahun ke Tahun

Kamis, 9 April 2026 - 09:28 WIB

“Seikhlasnya, Tapi Ada Tarifnya”, Kisah Receh dari Puskesmas Stabat

Kamis, 4 Desember 2025 - 21:33 WIB

Tanggap Darurat Diperpanjang, Wakil Rakyat Justru Mengungsi ke Luar Daerah

Kamis, 4 Desember 2025 - 14:10 WIB

Tak Punya Empati! Banjir Belum Surut, Mayoritas Anggota DPRD Langkat Pergi Kunjungan Kerja

Sabtu, 22 November 2025 - 17:28 WIB

Hampir Seluruh Nahdliyin Sepakat Gus Yahya Diberhetikan sebagai Ketum PBNU

Berita Terbaru