Kasus Gagal Ginjal Remaja Meningkat, Institut Kesehatan Helvetia Gelar Edukasi di SMA PAB 6 Medan

- Kontributor

Sabtu, 13 Juni 2026 - 10:01 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Traktir kopi buat penulis biar semangat
+ Traktir Kopi

Medan, Langkatoday.com – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Institut Kesehatan Helvetia menggelar penyuluhan kesehatan bertajuk “Edukasi Faktor Risiko Penyebab Gagal Ginjal Bagi Siswa Remaja dan Cara Preventif Terhindar dari Gagal Ginjal” di SMA PAB 6 Helvetia Medan, Sabtu (9/5).

Kegiatan tersebut dipimpin oleh Dr. Jefri Naldi, M.Si., bersama Sri Handayani, S.Si., M.Si., dan Riska Hasmi Nasution, S.Pd., M.Pd. sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.

Dalam pemaparannya, Dr. Jefri Naldi menjelaskan bahwa angka kejadian gagal ginjal pada kelompok usia remaja menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena penyakit gagal ginjal tidak lagi hanya dialami oleh kelompok usia lanjut, tetapi mulai ditemukan pada usia produktif bahkan remaja.

“Gagal ginjal merupakan kondisi ketika ginjal kehilangan kemampuan menyaring limbah dan cairan berlebih dalam tubuh. Jika terjadi pada usia muda, dampaknya sangat besar terhadap kualitas hidup, pendidikan, produktivitas, hingga masa depan generasi bangsa,” ujarnya.

Menurutnya, kerusakan ginjal umumnya terjadi secara perlahan dan sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Karena itu, banyak kasus baru diketahui setelah memasuki stadium lanjut yang memerlukan tindakan medis serius seperti cuci darah.

Baca Juga:  Penyakit Akibat Rokok Tidak Ditanggung BPJS

Dr. Jefri menjelaskan bahwa salah satu faktor utama meningkatnya risiko gagal ginjal pada remaja adalah pola hidup tidak sehat, terutama kebiasaan mengonsumsi minuman manis dalam kemasan secara berlebihan.

Selain itu, pola makan tinggi garam dan lemak, kurang aktivitas fisik, serta kebiasaan menahan buang air kecil juga turut berkontribusi terhadap penurunan fungsi ginjal.

Ia mengungkapkan bahwa satu kemasan minuman manis umumnya mengandung 20 hingga 40 gram gula, sementara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan konsumsi gula maksimal 50 gram per hari.

Jika seorang remaja mengonsumsi dua hingga tiga minuman manis setiap hari, jumlah gula yang masuk ke dalam tubuh dapat melebihi batas yang dianjurkan.

“Gula yang berlebihan dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini berpotensi menyebabkan kerusakan ginjal permanen dan meningkatkan risiko diabetes maupun obesitas,” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut, para siswa juga diberikan pemahaman mengenai gejala awal gangguan ginjal yang sering diabaikan, seperti perubahan frekuensi buang air kecil, pembengkakan pada kaki dan wajah, nyeri pinggang, kelelahan berlebihan, hingga mual dan muntah.

Baca Juga:  Rektor USU Prof Muryanto Amin Dorong Transformasi Kampus di Tengah Hiperkompetisi Global

Sebagai langkah pencegahan, tim pengabdian mengajak siswa untuk membiasakan pola hidup sehat dengan memperbanyak konsumsi air putih, mengurangi minuman berpemanis, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, rutin berolahraga, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala apabila memiliki faktor risiko tertentu.

Kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang mendapat antusias tinggi dari para siswa. Peserta aktif mengajukan berbagai pertanyaan terkait kesehatan ginjal dan pola hidup sehat.

“Edukasi ini diharapkan dapat membuka wawasan siswa bahwa gagal ginjal tidak hanya menyerang orang dewasa atau lanjut usia, tetapi juga dapat dialami oleh anak-anak dan remaja akibat pola hidup yang kurang sehat,” kata Dr. Jefri.

Pihak SMA PAB 6 Helvetia Medan menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut dan berharap edukasi kesehatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan guna meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga kesehatan sejak dini.

Melalui kegiatan ini, Institut Kesehatan Helvetia kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat melalui edukasi, promosi kesehatan, serta pemberdayaan generasi muda agar lebih peduli terhadap kesehatan diri dan lingkungannya.

Follow WhatsApp Channel langkatoday.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mahasiswa UDA Gelar Demo, Soroti Status Akreditasi hingga Dugaan Pungutan Rp2 Juta
Sambut HUT ke-81 RI, PT Socfindo Gelar Donor Darah, 80 Peserta Berpartisipasi
MBG Dapur Kodim Disorot, 265 Pelajar di Karo Diduga Keracunan
Kemdiktisaintek Pulihkan Status STKIP Al Maksum Langkat Usai Evaluasi dan Perbaikan
Tiorita Ajak ASN Langkat Rutin Donor Darah: Sehat untuk Diri, Bermanfaat bagi Sesama
Menkes: Jika MBG Berhasil, Banyak Masalah Kesehatan Bisa Diselesaikan
RCW Desak Aparat Usut Dugaan Penyusutan Lahan Hibah Negara Universitas Amir Hamzah
Ahli Waris Tengku Amir Hamzah Desak Transparansi Yayasan Universitas Amir Hamzah di Tengah Polemik Lahan

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 18:12 WIB

Mahasiswa UDA Gelar Demo, Soroti Status Akreditasi hingga Dugaan Pungutan Rp2 Juta

Jumat, 14 Agustus 2026 - 11:50 WIB

Sambut HUT ke-81 RI, PT Socfindo Gelar Donor Darah, 80 Peserta Berpartisipasi

Kamis, 13 Agustus 2026 - 19:25 WIB

MBG Dapur Kodim Disorot, 265 Pelajar di Karo Diduga Keracunan

Selasa, 11 Agustus 2026 - 22:39 WIB

Kemdiktisaintek Pulihkan Status STKIP Al Maksum Langkat Usai Evaluasi dan Perbaikan

Selasa, 11 Agustus 2026 - 10:50 WIB

Tiorita Ajak ASN Langkat Rutin Donor Darah: Sehat untuk Diri, Bermanfaat bagi Sesama

Berita Terbaru