Wajah Langkat yang Tak Sepenuhnya Melayu

- Kontributor

Jumat, 8 Agustus 2025 - 21:28 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Traktir kopi buat penulis biar semangat
+ Traktir Kopi
Tepung tawar budaya melayu, foto: islami.co

Oleh: Al Faqih

STABAT (Langkatoday) – Pemerintah Kabupaten Langkat dalam beberapa tahun terakhir kerap menggaungkan identitas budaya Melayu sebagai ciri khas daerah.

Salah satu kebijakan simboliknya adalah penggunaan seragam Melayu pada momen-momen tertentu bagi aparatur sipil negara (ASN) dan bahkan siswa sekolah.

Namun, data resmi menunjukkan bahwa jumlah masyarakat suku Melayu di Langkat hanya sekitar 147.785 jiwa atau 15,04% dari total populasi ±1,2 juta jiwa. Artinya, mayoritas penduduk Langkat justru berasal dari suku lain seperti Jawa, Karo, Batak, Mandailing, dan etnis lainnya.

Di titik inilah muncul pertanyaan mendasar: layakkah penggunaan seragam Melayu menjadi identitas resmi daerah jika faktanya suku Melayu bukan kelompok mayoritas?

Identitas Daerah vs Representasi Populasi

Melayu memang merupakan suku asli dan bagian dari sejarah pembentukan Langkat, dengan warisan adat, bahasa, dan kesultanan yang patut dilestarikan. Mengangkat budaya Melayu sebagai simbol daerah dapat menjadi langkah positif untuk melestarikan sejarah.

Baca Juga:  Langkat Sejahtera: Sinergi Sumber Daya Manusia dan Alam Menuju Kemakmuran

Namun, ketika simbol ini diwajibkan secara massal, termasuk bagi mereka yang tidak memiliki akar budaya Melayu, risiko yang muncul adalah perasaan “dihegemoni” oleh identitas etnis tertentu. Simbol budaya seharusnya bersifat inklusif, bukan eksklusif.

Potensi Reduksi Pluralisme

Langkat adalah miniatur Indonesia: beragam suku, agama, dan budaya hidup berdampingan. Mengedepankan satu identitas budaya tanpa menyeimbangkan representasi budaya lain dapat memunculkan kesan bahwa pemerintah mengutamakan satu kelompok saja. Pada konteks sosial, ini berpotensi menimbulkan jarak psikologis antarwarga.

Bayangkan, jika daerah dengan mayoritas Jawa memaksakan seragam beskap atau kebaya setiap minggu bagi seluruh warganya, tanpa ruang bagi ekspresi budaya lain. Nilai pluralisme akan terkikis.

Alternatif yang Lebih Inklusif

Identitas Melayu layak dijaga, tetapi penerapannya bisa lebih bijak:

Baca Juga:  “Seikhlasnya, Tapi Ada Tarifnya”, Kisah Receh dari Puskesmas Stabat

  1. Hari Budaya Multietnis – Mengatur rotasi penggunaan pakaian adat berbagai suku yang ada di Langkat, bukan hanya Melayu.
  2. Penguatan Festival Budaya – Menjadikan budaya Melayu sebagai salah satu pilar, bukan satu-satunya wajah resmi.
  3. Pendekatan Sukarela – Menggunakan seragam Melayu sebagai opsi kebanggaan, bukan kewajiban yang seragam bagi semua.

Melestarikan budaya Melayu adalah hal mulia, tetapi kebijakan publik harus mempertimbangkan realitas demografis dan prinsip keadilan budaya.

Di kabupaten yang multietnis seperti Langkat, identitas daerah sebaiknya mencerminkan keberagaman warganya, bukan hanya warisan satu suku.

Jika hanya 15% penduduk adalah Melayu, penggunaan seragam Melayu secara wajib patut dipertanyakan: apakah ini pelestarian budaya atau dominasi simbolik?

Dalam masyarakat majemuk, keindahan justru hadir ketika semua identitas diberi ruang yang sama untuk bersinar.

Follow WhatsApp Channel langkatoday.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perlahan Tapi Pasti, Langkat Tunjukkan Tren Positif dari Tahun ke Tahun
“Seikhlasnya, Tapi Ada Tarifnya”, Kisah Receh dari Puskesmas Stabat
Tanggap Darurat Diperpanjang, Wakil Rakyat Justru Mengungsi ke Luar Daerah
Tak Punya Empati! Banjir Belum Surut, Mayoritas Anggota DPRD Langkat Pergi Kunjungan Kerja
Hampir Seluruh Nahdliyin Sepakat Gus Yahya Diberhetikan sebagai Ketum PBNU
Alun-Alun Stabat yang Berubah Jadi Kolam, Cermin Buram Tata Kota Langkat
Ketika Wakil Rakyat Lupa Menjadi Teladan
Dulu Dicopot Karena Tahanan Kabur, Kini Kapolres Langkat Dituding Tutup Mata atas Skandal Besar!

Berita Terkait

Senin, 13 April 2026 - 06:45 WIB

Perlahan Tapi Pasti, Langkat Tunjukkan Tren Positif dari Tahun ke Tahun

Kamis, 9 April 2026 - 09:28 WIB

“Seikhlasnya, Tapi Ada Tarifnya”, Kisah Receh dari Puskesmas Stabat

Kamis, 4 Desember 2025 - 21:33 WIB

Tanggap Darurat Diperpanjang, Wakil Rakyat Justru Mengungsi ke Luar Daerah

Kamis, 4 Desember 2025 - 14:10 WIB

Tak Punya Empati! Banjir Belum Surut, Mayoritas Anggota DPRD Langkat Pergi Kunjungan Kerja

Sabtu, 22 November 2025 - 17:28 WIB

Hampir Seluruh Nahdliyin Sepakat Gus Yahya Diberhetikan sebagai Ketum PBNU

Berita Terbaru