Dunia dan Akhirat: Sebuah Relasi

- Pewarta

Sabtu, 12 September 2026 - 07:07 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Traktir kopi buat penulis biar semangat
+ Traktir Kopi

Surabaya, Langkatoday.com – Sebagian atau banyak orang mengira kalau kehidupan dunia adalah satu hal dan akhirat suatu hal yang lain. Tidak sedikit orang yang bekerja terus menerus mengumpulkan harta dan membeli barang impiannya yang dikemudian hari menimbulkan rasa khawatir atas harta yang ditinggalkan. Seakan-akan hidup hanya sekedar visi dan misi, tapi lupa akan tanggung jawabnya.

Barangkali lebih tepat jika kita menganggap kalau dunia dan akhirat itu adalah sebuah relasi. Yaitu saling berhubungan bukan sesuatu yang terpisah. Memang dunia adalah tempatnya berjuang dan bertarung, segala rintangan dalam hidup, mau tidak mau, suka tidak suka, harus tetap dijalani. Sedangkan akhirat adalah tempat penilaian akhir, tentang sejauh mana kebermanfaatan dan kemudaratan kita dalam menjalani kehidupan di dunia, apakah mendapatkan raport hijau atau merah.

Saya ingin mengutip dari beberapa nilai-nilai filsafat dari Mulla Sadra. Jika ingin mengetahui lebih lanjut tentang biografinya secara lengkap, saya rekomendasikan untuk mendengarkan penjelasan dari Pak Fakhrudin Faiz di youtube channel MJS Yogyakarta.

Mulla Sadra terkenal dengan filsafatnya yaitu Hikmah Muta’aliyah (kearifan puncak). Saya hanya mengutip dua sub bab dari beberapa tema nya. Pertama yaitu Tasykik al-Wujud (gradasi eksistensi), bahwa tingkat keimanan seseorang dengan manusia lainnya memiliki tingkatan atau level. Saya analogikan seperti cahaya dari senter, suatu benda jika semakin dekat dengan titik cahaya, tentu bendanya akan memiliki bias cahaya besar, sedangkan benda yang jauh dari titik cahaya cenderung jauh lebih redup, hanya sedikit terpapar cahaya akibat jauhnya gradasi dari titik pusat.

Baca Juga:  Merdeka yang Tertunda: Refleksi Kritis atas Makna Kemerdekaan Indonesia

Manusia pun begitu, ada yang memiliki keimanan hampir mendekati kata sempurna, sebab kedekatannya dengan titik cahaya sangat dekat, tentu dari dia lah kita mengenal Allah SWT. Memang sudah dari awal penciptaan, kita mengakui bahwa Tuhan adalah Dia yang Ahad. Allah SWT mengatakan  Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami). Ikrar tersebut adalah kesepakatan bersama, yang mana jika salah satu dari keduanya mengingkari perjanjian tersebut, tentu ada konsekuensi yang harus dijalani. Namun Allah SWT tidak mungkin mengikari janji-Nya.

Kepergian akan kampung halaman selalu membuat kerinduan semakin memuncak bagi penghuninya. Barangkali seperti itu jugalah hubungan Tuhan dan hamba-Nya. Maka sebelum pergi dan mengemban amanah di bumi, dipastikan-Nya terlebih dahulu bahwa yang menciptakannya adalah Dia Sang Maha Raja.

Baca Juga:  Genealogi Photo

Kerinduan untuk bertemu kepada Sang Khalik, tidak dapat dirasakan jika gradasi kita jauh dari titik cahaya Tuhan. Lupa dan lalai dari mengingat Allah SWT akan membuat gradasi kita jauh dari titik cahaya-Nya.

Kedua adalah al-Harakah al-Jauhariyah (Gerakan Substansial), seyogianya manusia yang berpotensi memiliki banyak manfaat adalah yang senantiasa bergerak dan berubah. Emas tidak akan memiliki nilai yang berharga jika terus berdiam ditempatnya, besi tidak akan memiliki banyak manfaat jika tidak dibentuk dan diasah menjadi pisau yang tajam.

Bagi kaum pelajar sudah tidak asing dengan pengibaratan Imam Syafi’i tentang seseorang yang tidak merantau, lebih memilih hidup di zona zaman singkatnya begitu. Beliau mengibaratkan orang yang tidak berpergian jauh seakan-akan air yang berada di dalam kolam, yaitu keruh dan kotor, sedangkan orang yang mau berubah dan bergerak menjadi sesuatu yang lebih baik diibaratkan seperti air yang mengalir, bersih dan terus memperbaiki segala kekurangan.

Manusia juga demikian, bukan hanya eksistensinya saja yang berubah, melainkan esensi juga harus mengalami peningkatan pola pikir yang lebih baik kedepannya, karena berfikir adalah ciri orang yang hidup.

Editor : Fadli

Follow WhatsApp Channel langkatoday.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

HTML: Tulang Punggung Website Modern
Taktik ‘Siram-Menyiram’ di Langkat: Rahasia Sukses Bikin Suara Kritis Mendadak Serak
Merdeka yang Tertunda: Refleksi Kritis atas Makna Kemerdekaan Indonesia
Pangkalan Brandan Lautan Api: Ketika Rakyat Langkat Membakar Kilang Minyak demi Mempertahankan Kemerdekaan
Kasasi Ditolak, Alexander Halim Tetap Divonis 10 Tahun dalam Kasus Alih Fungsi Hutan Langkat
Tentang Kebebasan
Dari Sumatera ke Surabaya: Sebuah Perjalanan Mengubah Cara Pandang
Ketika Induk Semang Pergi, Sang Aktivis Kehilangan Kompas

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 07:07 WIB

Dunia dan Akhirat: Sebuah Relasi

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 12:42 WIB

HTML: Tulang Punggung Website Modern

Kamis, 20 Agustus 2026 - 16:30 WIB

Taktik ‘Siram-Menyiram’ di Langkat: Rahasia Sukses Bikin Suara Kritis Mendadak Serak

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 15:48 WIB

Merdeka yang Tertunda: Refleksi Kritis atas Makna Kemerdekaan Indonesia

Kamis, 13 Agustus 2026 - 12:49 WIB

Pangkalan Brandan Lautan Api: Ketika Rakyat Langkat Membakar Kilang Minyak demi Mempertahankan Kemerdekaan

Terbaru

Sajian Khusus

Dunia dan Akhirat: Sebuah Relasi

Sabtu, 12 Sep 2026 - 07:07 WIB