Surabaya, Langkatoday.com – Sebagian atau banyak orang mengira kalau kehidupan dunia adalah satu hal dan akhirat suatu hal yang lain. Tidak sedikit orang yang bekerja terus menerus mengumpulkan harta dan membeli barang impiannya yang dikemudian hari menimbulkan rasa khawatir atas harta yang ditinggalkan. Seakan-akan hidup hanya sekedar visi dan misi, tapi lupa akan tanggung jawabnya.
Barangkali lebih tepat jika kita menganggap kalau dunia dan akhirat itu adalah sebuah relasi. Yaitu saling berhubungan bukan sesuatu yang terpisah. Memang dunia adalah tempatnya berjuang dan bertarung, segala rintangan dalam hidup, mau tidak mau, suka tidak suka, harus tetap dijalani. Sedangkan akhirat adalah tempat penilaian akhir, tentang sejauh mana kebermanfaatan dan kemudaratan kita dalam menjalani kehidupan di dunia, apakah mendapatkan raport hijau atau merah.
Saya ingin mengutip dari beberapa nilai-nilai filsafat dari Mulla Sadra. Jika ingin mengetahui lebih lanjut tentang biografinya secara lengkap, saya rekomendasikan untuk mendengarkan penjelasan dari Pak Fakhrudin Faiz di youtube channel MJS Yogyakarta.
Mulla Sadra terkenal dengan filsafatnya yaitu Hikmah Muta’aliyah (kearifan puncak). Saya hanya mengutip dua sub bab dari beberapa tema nya. Pertama yaitu Tasykik al-Wujud (gradasi eksistensi), bahwa tingkat keimanan seseorang dengan manusia lainnya memiliki tingkatan atau level. Saya analogikan seperti cahaya dari senter, suatu benda jika semakin dekat dengan titik cahaya, tentu bendanya akan memiliki bias cahaya besar, sedangkan benda yang jauh dari titik cahaya cenderung jauh lebih redup, hanya sedikit terpapar cahaya akibat jauhnya gradasi dari titik pusat.
Manusia pun begitu, ada yang memiliki keimanan hampir mendekati kata sempurna, sebab kedekatannya dengan titik cahaya sangat dekat, tentu dari dia lah kita mengenal Allah SWT. Memang sudah dari awal penciptaan, kita mengakui bahwa Tuhan adalah Dia yang Ahad. Allah SWT mengatakan Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami). Ikrar tersebut adalah kesepakatan bersama, yang mana jika salah satu dari keduanya mengingkari perjanjian tersebut, tentu ada konsekuensi yang harus dijalani. Namun Allah SWT tidak mungkin mengikari janji-Nya.
Kepergian akan kampung halaman selalu membuat kerinduan semakin memuncak bagi penghuninya. Barangkali seperti itu jugalah hubungan Tuhan dan hamba-Nya. Maka sebelum pergi dan mengemban amanah di bumi, dipastikan-Nya terlebih dahulu bahwa yang menciptakannya adalah Dia Sang Maha Raja.
Kerinduan untuk bertemu kepada Sang Khalik, tidak dapat dirasakan jika gradasi kita jauh dari titik cahaya Tuhan. Lupa dan lalai dari mengingat Allah SWT akan membuat gradasi kita jauh dari titik cahaya-Nya.
Kedua adalah al-Harakah al-Jauhariyah (Gerakan Substansial), seyogianya manusia yang berpotensi memiliki banyak manfaat adalah yang senantiasa bergerak dan berubah. Emas tidak akan memiliki nilai yang berharga jika terus berdiam ditempatnya, besi tidak akan memiliki banyak manfaat jika tidak dibentuk dan diasah menjadi pisau yang tajam.
Bagi kaum pelajar sudah tidak asing dengan pengibaratan Imam Syafi’i tentang seseorang yang tidak merantau, lebih memilih hidup di zona zaman singkatnya begitu. Beliau mengibaratkan orang yang tidak berpergian jauh seakan-akan air yang berada di dalam kolam, yaitu keruh dan kotor, sedangkan orang yang mau berubah dan bergerak menjadi sesuatu yang lebih baik diibaratkan seperti air yang mengalir, bersih dan terus memperbaiki segala kekurangan.
Manusia juga demikian, bukan hanya eksistensinya saja yang berubah, melainkan esensi juga harus mengalami peningkatan pola pikir yang lebih baik kedepannya, karena berfikir adalah ciri orang yang hidup.
Editor : Fadli














Komentar