Ketika Induk Semang Pergi, Sang Aktivis Kehilangan Kompas

- Kontributor

Senin, 27 Juli 2026 - 14:30 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Traktir kopi buat penulis biar semangat
+ Traktir Kopi

Ilustrasi

Ilustrasi

Stabat, Langkatoday.com – Di negeri yang demokratis ini, rupanya ada satu spesies aktivis yang cukup unik. Mereka bukan dikenal karena konsistensi memperjuangkan nilai, melainkan karena keahlian membaca arah angin kekuasaan. Selama angin bertiup dari arah yang menguntungkan, mereka berdiri paling depan sambil berteriak lantang tentang moralitas, keadilan, dan keberpihakan kepada rakyat.

Namun, ada satu masalah besar yang selalu menghantui: bagaimana jika sang induk semang tersandung kasus?

Saat itulah wajah kepanikan mulai terlihat. Telepon yang dulu tak pernah sepi mendadak sunyi. Undangan rapat menghilang. Amplop perjuangan tak lagi mampir. Sang aktivis pun mulai berkeliling, bukan mencari kebenaran, melainkan mencari sandaran baru.

Berbagai manuver pun dilakukan. Hari ini memuji tokoh A sebagai penyelamat bangsa. Besok bergeser memuji tokoh B sebagai harapan rakyat. Lusa sudah nongkrong di meja tokoh C sambil tersenyum seolah-olah mereka telah bersahabat sejak lahir.

Baca Juga:  BPS Ungkap Potret Pemerintahan Langkat 2025: ASN 10 Ribu Lebih, 277 Desa Jadi Fokus Layanan

Prinsip? Tentu masih ada. Prinsipnya sederhana: siapa yang memberi makan, dialah yang paling benar.

Dulu ia begitu garang membela induk semangnya. Siapa pun yang mengkritik akan dicap musuh rakyat. Kini, setelah sang pelindung terjerat masalah, pidato-pidato lama mendadak hilang dari media sosial. Foto kebersamaan ikut lenyap. Sejarah seakan dihapus hanya dengan beberapa kali menekan tombol “hapus”.

Ironisnya, lidah yang dahulu digunakan untuk membela kini berubah fungsi menjadi alat negosiasi. Sanjungan dilontarkan ke mana-mana. Pujian dipoles setebal mungkin. Bahkan orang yang dulu dicaci kini dielu-elukan dengan harapan pintu kekuasaan kembali terbuka.

Sayangnya, menjadi penjilat profesional pun membutuhkan reputasi. Para calon induk semang tentu juga berhitung. Jika hari ini seseorang rela meninggalkan majikan lamanya demi kepentingan pribadi, siapa yang bisa menjamin besok ia tidak melakukan hal yang sama?

Baca Juga:  Palu Hakim Penuh Distorsi: Nada Aneh dan Lirik Fulgar

Maka, sang aktivis pun terus berputar-putar seperti kompas yang kehilangan kutub. Ia hadir di setiap acara, menyapa setiap tokoh, memasang senyum paling ramah, berharap ada tangan yang mengelus kepala dan berkata, “Mulai hari ini, kamu ikut saya.”

Tetapi dunia politik bukan sekadar panggung bagi mereka yang pandai memuji. Kesetiaan yang diperjualbelikan nilainya selalu murah. Orang mungkin memanfaatkan, tetapi belum tentu mempercayai.

Barangkali inilah ironi terbesar. Aktivisme yang seharusnya menjadi jalan perjuangan berubah menjadi profesi berburu patron. Ketika idealisme digadaikan demi kenyamanan, maka yang tersisa hanyalah kegelisahan setiap kali sang pelindung tumbang.

Sebab aktivis sejati hidup dari keberanian menyuarakan kebenaran. Sementara aktivis pencari induk semang hidup dari pertanyaan yang tak pernah selesai: “Setelah ini, saya harus menjilat siapa lagi?”

Follow WhatsApp Channel langkatoday.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

HTML: Tulang Punggung Website Modern
Taktik ‘Siram-Menyiram’ di Langkat: Rahasia Sukses Bikin Suara Kritis Mendadak Serak
Merdeka yang Tertunda: Refleksi Kritis atas Makna Kemerdekaan Indonesia
Pangkalan Brandan Lautan Api: Ketika Rakyat Langkat Membakar Kilang Minyak demi Mempertahankan Kemerdekaan
Kasasi Ditolak, Alexander Halim Tetap Divonis 10 Tahun dalam Kasus Alih Fungsi Hutan Langkat
Tentang Kebebasan
Dari Sumatera ke Surabaya: Sebuah Perjalanan Mengubah Cara Pandang
Langkat dan Kutukan Korupsi

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 12:42 WIB

HTML: Tulang Punggung Website Modern

Kamis, 20 Agustus 2026 - 16:30 WIB

Taktik ‘Siram-Menyiram’ di Langkat: Rahasia Sukses Bikin Suara Kritis Mendadak Serak

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 15:48 WIB

Merdeka yang Tertunda: Refleksi Kritis atas Makna Kemerdekaan Indonesia

Kamis, 13 Agustus 2026 - 12:49 WIB

Pangkalan Brandan Lautan Api: Ketika Rakyat Langkat Membakar Kilang Minyak demi Mempertahankan Kemerdekaan

Rabu, 12 Agustus 2026 - 12:44 WIB

Kasasi Ditolak, Alexander Halim Tetap Divonis 10 Tahun dalam Kasus Alih Fungsi Hutan Langkat

Berita Terbaru