Kebanyakan Nonton Short Video Bisa Ubah Aktivitas Otak? Ini Temuan Peneliti

- Kontributor

Jumat, 11 September 2026 - 16:27 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

☕ Traktir kopi buat penulis biar semangat
+ Traktir Kopi

Caucasian teenager sits on sofa at home, surfs the Internet using mobile phone, spends leisure time. Social media feed with dancing young girl short video displayed on smartphone screen. Close Up.

Caucasian teenager sits on sofa at home, surfs the Internet using mobile phone, spends leisure time. Social media feed with dancing young girl short video displayed on smartphone screen. Close Up.

Jakarta, Langkatoday.com – Kebiasaan menonton video pendek hingga selesai ternyata berkaitan dengan perubahan aktivitas pada sejumlah wilayah otak yang berperan dalam kontrol kognitif dan pengambilan keputusan.

Temuan penelitian peneliti Zhejiang University, China, yang diterbitkan dalam jurnal NeuroImage pada Januari 2026, menunjukkan aktivitas dorsal anterior cingulate cortex (dACC) dan dorsolateral prefrontal cortex (dlPFC) menurun secara signifikan ketika peserta menonton video pendek yang mereka sukai hingga selesai.

Namun, temuan tersebut tidak berarti short video terbukti merusak otak atau menyebabkan penurunan konsentrasi dalam jangka panjang. Penelitian ini hanya mengamati respons otak dalam satu sesi dan tidak dirancang untuk mengukur kecanduan atau penggunaan video pendek secara bermasalah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Aktivitas Otak Menurun Saat Menonton Video yang Disukai

Dalam penelitian tersebut, peneliti menggunakan pemindaian functional magnetic resonance imaging (fMRI) dan proton magnetic resonance spectroscopy (¹H-MRS) untuk melihat aktivitas serta kondisi neurokimia otak peserta.

Dari 66 sukarelawan yang direkrut, sebanyak 10 orang dikeluarkan karena masalah gerakan kepala atau kualitas data. Penelitian akhirnya melibatkan 56 orang dewasa muda dengan rata-rata usia 23,3 tahun.

Peserta menonton video pendek dalam dua sesi selama enam menit di dalam mesin MRI. Materi video dipilih dari 160 klip dengan durasi rata-rata 23,7 detik.

Peserta dapat melewati video menggunakan tombol. Video yang ditonton sampai selesai dikategorikan sebagai video yang disukai, sedangkan video yang dilewati sebelum separuh durasi dianggap tidak disukai.

Hasilnya, aktivitas dACC dan dlPFC turun lebih signifikan ketika peserta menonton video yang mereka sukai.

Bukan Berarti Otak Menjadi Rusak

dACC diketahui berperan dalam memantau konflik, mengevaluasi usaha serta mengambil keputusan berdasarkan imbalan. Sementara dlPFC berkaitan dengan kontrol kognitif.

Menariknya, area visual utama otak atau V1 tetap aktif ketika peserta menonton kedua jenis video. Temuan ini mengindikasikan perubahan yang diamati lebih berkaitan dengan wilayah otak yang terlibat dalam proses kontrol kognitif, bukan sekadar aktivitas visual.

Peneliti juga menemukan adanya hubungan antara kondisi neurokimia dengan respons otak. Peserta dengan kadar glutamat lebih tinggi cenderung mengalami penurunan aktivitas dACC yang lebih kecil. Sementara kadar GABA tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan aktivitas dACC maupun dlPFC.

Hubungan antara dACC dan dlPFC juga meningkat ketika peserta menonton video, terutama konten yang mereka sukai.

Menurut peneliti, pola tersebut kemungkinan mencerminkan peralihan menuju proses yang lebih otomatis dan membutuhkan lebih sedikit usaha kognitif ketika seseorang menikmati suatu konten.

Perlu Waspada, Bukan Panik

Temuan ini memberi gambaran mengenai bagaimana otak merespons konten video pendek yang menarik perhatian. Namun, penelitian tersebut belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa kebiasaan menonton short video menyebabkan kerusakan otak atau gangguan konsentrasi jangka panjang.

Dengan kata lain, yang ditemukan adalah perubahan aktivitas otak selama proses menonton, bukan bukti kerusakan otak akibat short video.

Penelitian lanjutan dengan pengamatan jangka panjang masih diperlukan untuk mengetahui apakah pola tersebut berkaitan dengan perubahan perilaku, kontrol perhatian atau dampak penggunaan video pendek secara berlebihan.

Editor : Fadli

Ikuti WhatsApp Channel Langkatoday Follow

Berita Terkait

Peneliti Temukan DNA Parasit Malaria Monyet pada Nyamuk di Langkat, Ini Hasil Studi Terbarunya
Kualitas Udara Stabat Membaik, Warga Bisa Kembali Nikmati Kopi Santai di Warkop
Dokter Muda Ini Sentil Plt Bupati Langkat Soal Jalan Rusak dan ISPA
AQI Stabat Melonjak ke 204, Kabut Selimuti Alun-Alun Tengku Amir Hamzah
Kualitas Udara Stabat Masuk Kategori Tidak Sehat, AQI Tembus 108
Riset: Pria Dianjurkan Rutin Bertemu Teman untuk Menjaga Kesehatan
Sambut HUT ke-81 RI, PT Socfindo Gelar Donor Darah, 80 Peserta Berpartisipasi
MBG Dapur Kodim Disorot, 265 Pelajar di Karo Diduga Keracunan

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 04:34 WIB

Peneliti Temukan DNA Parasit Malaria Monyet pada Nyamuk di Langkat, Ini Hasil Studi Terbarunya

Senin, 26 Oktober 2026 - 10:58 WIB

Kualitas Udara Stabat Membaik, Warga Bisa Kembali Nikmati Kopi Santai di Warkop

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 03:56 WIB

Dokter Muda Ini Sentil Plt Bupati Langkat Soal Jalan Rusak dan ISPA

Kamis, 15 Oktober 2026 - 09:39 WIB

AQI Stabat Melonjak ke 204, Kabut Selimuti Alun-Alun Tengku Amir Hamzah

Rabu, 14 Oktober 2026 - 14:26 WIB

Kualitas Udara Stabat Masuk Kategori Tidak Sehat, AQI Tembus 108

Terbaru

Chat via WhatsApp