BUMD atau Balas Jasa Politik? Ketika Timses Duduki Semua Kursi

- Kontributor

Kamis, 24 Juli 2025 - 16:03 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Traktir kopi buat penulis biar semangat
+ Traktir Kopi

STABAT (Langkatoday)Masih ingkat istilah “Papa minta saham” ini adalah ungkapan yang dulu mengguncang republik ketika kekuasaan dijadikan alat tawar-menawar di ruang gelap, kini seolah menjelma kembali dalam wujud lokal yang lebih halus namun tidak kalah meresahkan: “Timses minta jabatan.”

Fenomena ini begitu terasa dalam hasil seleksi Komisaris dan Direksi BUMD Langkat Setia Negeri (Perseroda) periode 2025–2029. 

Berdasarkan pengumuman final, publik dikejutkan oleh deretan nama yang disebut-sebut sebagai “tim sukses” dari Bupati Langkat saat ini, Syah Afandin, dalam kontestasi politik Pilkada yang lalu.

Alih-alih mengangkat profesional dengan rekam jejak bisnis atau tata kelola korporasi, hasil seleksi justru dipenuhi oleh orang-orang yang sebelumnya dikenal sebagai bagian dari jaringan politik pemenangan. Nama-nama yang akrab di lingkaran “Orang Dekat”, bukan di dunia manajemen BUMD.

BUMD Bukan Alat Balas Jasa Politik

BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) sejatinya adalah entitas bisnis publik. Ia harus dikelola secara profesional, transparan, dan akuntabel karena menyangkut uang rakyat dan aset daerah. 

Baca Juga:  Pemecatan Eko Patrio dan Sahroni Bisa Redam Emosi Rakyat

Tapi jika kursi komisaris dan direksi menjadi imbalan untuk jasa kampanye, maka kita sedang mengotori institusi dengan kepentingan politik sesaat.

Logika publik pun tercederai, bagaimana bisa entitas bisnis yang seharusnya menjawab tantangan ekonomi lokal justru diisi oleh orang-orang yang tak punya pengalaman korporasi, melainkan pengalaman menjadi bagian dari tim pemenangan?

Jabatan BUMD Bukan Hadiah Politik

Ketika seorang kepala daerah mengangkat tim sukses menjadi petinggi BUMD, maka pesan yang dikirim kepada rakyat sangat jelas: “Dukung saya, maka jabatan bisa kalian miliki.” Ini bukan demokrasi, tapi transaksi.

Dan ketika transaksi itu terjadi secara masif dan terbuka, jangan salahkan rakyat jika kemudian menuding bahwa BUMD Langkat bukan dikelola untuk kemakmuran publik, tetapi untuk menyejahterakan kroni dan loyalis politik.

Ini mirip dengan cerita “Papa minta saham”, tapi versi daerah. Bedanya, kali ini bukan saham yang diminta, tapi jabatan, gaji besar, dan akses ke proyek-proyek strategis.

Baca Juga:  Pernah Janjikan Warga Secanggang Soal Pembangunan Jembatan, Namun Tak Kunjung Terealisasi

Lenyapnya Kepercayaan Publik

Lebih dari sekadar masalah moral, kondisi ini berbahaya bagi keberlangsungan BUMD sendiri. Ketika jabatan penting diisi bukan oleh orang yang ahli, melainkan yang “berjasa”, maka jangan heran jika kinerja perusahaan mandek, gagal ekspansi, dan berujung merugi.

Lebih parah lagi, kepercayaan publik terhadap pemerintah daerah makin runtuh. Rakyat akan berpikir: “Kenapa harus bayar pajak, jika uangnya hanya untuk memanjakan elit politik?”

Profesionalisme Atau Nepotisme, Pilih yang Mana?

Kita tidak menolak mantan tim sukses menjadi pejabat. Tapi kita menolak jabatan diberikan semata karena jasa politik, bukan karena kompetensi dan integritas.

BUMD adalah mesin ekonomi daerah. Jika mesinnya rusak karena diisi oleh orang-orang yang salah, maka rakyatlah yang paling duluan menanggung akibatnya.

Kepada Pemerintah Kabupaten Langkat, tanyakan kembali: Apakah kita ingin membangun BUMD yang kuat dan mandiri, atau hanya menjadikannya ladang politik dan pelarian bagi orang-orang yang kalah kompetensi tapi menang kedekatan?

Follow WhatsApp Channel langkatoday.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Momen Wakil DPRD Langkat Ajai Ismail Tepuk Meja Saat RDP, Suasana Memanas
RDP DPRD Langkat Memanas, HIMMAH Soroti Arogansi dan Krisis Kemandirian Fiskal
Sah! Pemkab dan DPRD Langkat Sepakati KUPA-PPAS Perubahan APBD TA 2026
Margono Djojohadikusumo: Kakek Prabowo, Pendiri BNI yang Kini Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
Hasto Kristiyanto Hadirin Peletakan Batu Pertama Kantor PDI Perjuangan Samosir
Hasto di Samosir: Indonesia Rumah Bersama, Danau Toba Harus Dijaga untuk 100 Tahun ke Depan
Pangkalan Brandan Lautan Api: Ketika Rakyat Langkat Membakar Kilang Minyak demi Mempertahankan Kemerdekaan
Tiorita Minta OPD Langkat Percepat Realisasi Anggaran, Program Harus Berdampak ke Masyarakat

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 06:42 WIB

Momen Wakil DPRD Langkat Ajai Ismail Tepuk Meja Saat RDP, Suasana Memanas

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 21:02 WIB

RDP DPRD Langkat Memanas, HIMMAH Soroti Arogansi dan Krisis Kemandirian Fiskal

Selasa, 25 Agustus 2026 - 10:37 WIB

Sah! Pemkab dan DPRD Langkat Sepakati KUPA-PPAS Perubahan APBD TA 2026

Rabu, 19 Agustus 2026 - 19:59 WIB

Margono Djojohadikusumo: Kakek Prabowo, Pendiri BNI yang Kini Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

Selasa, 18 Agustus 2026 - 18:14 WIB

Hasto Kristiyanto Hadirin Peletakan Batu Pertama Kantor PDI Perjuangan Samosir

Berita Terbaru