Antara Kebijaksanaan Tuhan dan Manusia Sikapi Keseimbangan Alam

- Kontributor

Minggu, 3 Mei 2026 - 16:19 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Traktir kopi buat penulis biar semangat
+ Traktir Kopi

Kompas.com

Kompas.com

Surabaya, Langkatoday.com – Tahun 2025 Alam Sumatera menyadarkan khususnya bagi penduduk sekitarnya dan umumnya bagi penduduk bumi, selain memberikan banyak manfaat, Alam juga bisa murka. Manusia yang serakah awalnya menganggap remeh penebangan hutan yang dilakukan secara masif tidak akan berdampak besar bagi kehidupan manusia. Namun nyatanya kerusakan itu bersumber dari tanda tangannya yang tidak bertanggung jawab akan nasib kedepannya.

Tentu Tuhan penguasa Alam menciptakan karya yang Maha Agung lagi Maha Bijaksana ini mempertimbangkan ekosistem Alam yang dicipta-Nya. Dari keteraturan Alam yang dibuat-Nya, terdapat keindahan dalam penciptaan-Nya. Namun manusia dalam hal ini terbagi menjadi dua kelompok. Pertama manusia kanan, ialah yang mampu melihat keindahan Alam menjadi penghasilan utamanya dalam mencukupi kebutuhan primer dan sekunder dalam hidupnya. Ia mampu melihat peluang itu sebagai roda perekonomian yang sangat menjanjikan. Dibuatnya pula wisata Alam, villa perumahan dengan view Alam yang indah, masing-masing itu dibuat sesuai dengan target pasarnya.

Namun jenis kelompok yang kedua adalah manusia kiri, yaitu jenis makhluk hidup yang tidak mampu melihat keindahan Alam sebagai ciptaan yang Maha Agung. Artinya keindahan itu harus dijaga bukan dirusak, karena kerusakan tidak mendatangkan keseimbangan. Manusia kiri ini melihat berjuta-juta batang pohon itu tidak membawa keuntungan sedikitpun baginya. Baginya pohon sawit adalah segalanya. Tapi mengapa manusia jenis ini tidak menanamnya di teras rumah jika memang sangat menguntungkan ?

Baca Juga:  Buah Simalakama Bawaslu Jakarta Selatan

Tidak salah Tuhan menciptakan pohon sawit untuk diambil manfaatnya untuk manusia. Namun penebangan hutan secara membabi buta dengan menggantikan pohon sawit seluas-luasnya itu adalah kesalahan. Karena setiap tumbuhan memiliki perannya masing-masing dalam menjaga keseimbangan Alam ini, khususnya di Indonesia. Maka penting manusia harus menggunakan akalnya agar bijak dalam menggunakan karunia yang diberikan Tuhan secara gratis.

Alam ini bisa terjaga keseimbangannya karena adanya kebijaksanaan Tuhan yang berperan di dalamnya. Salah satu dari tanda kebijaksanaan-Nya adalah tidak terlalu banyak, dan tidak terlalu sedikit. Dari prinsip ini, maka titik tengahnya kita sebut sebagai keseimbangan. Tuhan selaku pencipta, tentu paham, maka Alam-Nya dibuat agar seimbang, agar makhluk hidup didalamnya dapat memperoleh segala karunia Tuhan secara gratis diterimanya.

Lantas bagaimana dengan manusia, dia juga ciptaan-Nya, apakah ketidaktahuannya dalam mengelola Alam dapat diwajari ? Tentu tidak. Tuhan yang Maha Bijaksana telah membekali makhluk ciptaan yang terbaik ini (manusia) dengan akal. Kegunaan akal adalah sebagai alat atau monitor, melihat, memikirkan dan memperkirakan, kira-kira apa konsekuensi jika melakukan rencana A dan B. Dengan manusia mempergunakan akal dengan baik, maka timbullah kebijaksanaan manusia dalam menyikapi pemberian Tuhan, agar digunakan dengan sebaik-baiknya untuk kemaslahatan manusia bersama.

Namun, pada kenyataannya tetap ada manusia yang gagal memahami keseimbangan Alam, menurutnya Alam ini tidak mungkin murka, Alam ini akan selalu mengcover segala kerusakan yang dibuat oleh tangan manusia dengan sendirinya. Ini adalah pemahaman yang salah. Alam ini adalah amanah dari Tuhan untuk dijaga, dan dirawat, selanjutnya sebagai bonusnya, Alam pun memberi tanda terimakasih kepada yang telah merawatnya dengan mengeluarkan buah-buahan yang segar, sehat dan memiliki banyak manfaat untuk jasmani manusia.

Baca Juga:  Korban Tewas Banjir dan Longsor di Tiga Provinsi Sumatera Tembus 914 Jiwa

Lagi-lagi tetap ada manusia yang tidak tau berterimakasih kepada Alam. Mirisnya, dia menjadi Aktor dari kerusakan Alam yang terjadi di Bumi Sumatera. Seakan-akan dia tidak tau siapa yang selama ini memenuhi lambungnya dikala lapar, hempasan halus dari angin yang sepoi-sepoi pada malam hari ditemani secangkir kopi dan sebegitu lembutnya angin menyapa kulitnya, agar tercipta ketenangan jiwa dan batin dalam diri manusia.

Alam mungkin sudah berjuta-juta kali berhusnudzon kepada manusia, bahwa manusia mampu menjaga amanah dari Tuhan-Nya. Berjuta-juta kali juga Alam menaruh harapan yang begitu besar pada manusia untuk menjaga keseimbangan Alam-Nya. Namun lagi-lagi manusia berjuta-juta kali juga mengkhianati amanah dari Pencipta-Nya.

Pada akhirnya untuk menemukan titik temu dalam mengembalikan keseimbangan Alam, manusia harus mempergunakan akalnya agar mampu memahami kondisi Alam dan menjauhi keserakahan nafsunya agar bertemu, antara kebijaksanaan manusia dengan kebijaksanaan Tuhannya. Sehingga Alam dengan sendirinya mempercayai kembali amanah yang diberikan Tuhannya kepada manusia untuk  menjaga keseimbangan Alam yang indah ini.

Follow WhatsApp Channel langkatoday.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

HTML: Tulang Punggung Website Modern
Taktik ‘Siram-Menyiram’ di Langkat: Rahasia Sukses Bikin Suara Kritis Mendadak Serak
Merdeka yang Tertunda: Refleksi Kritis atas Makna Kemerdekaan Indonesia
Pangkalan Brandan Lautan Api: Ketika Rakyat Langkat Membakar Kilang Minyak demi Mempertahankan Kemerdekaan
Kasasi Ditolak, Alexander Halim Tetap Divonis 10 Tahun dalam Kasus Alih Fungsi Hutan Langkat
Tentang Kebebasan
Dari Sumatera ke Surabaya: Sebuah Perjalanan Mengubah Cara Pandang
Ketika Induk Semang Pergi, Sang Aktivis Kehilangan Kompas

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 12:42 WIB

HTML: Tulang Punggung Website Modern

Kamis, 20 Agustus 2026 - 16:30 WIB

Taktik ‘Siram-Menyiram’ di Langkat: Rahasia Sukses Bikin Suara Kritis Mendadak Serak

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 15:48 WIB

Merdeka yang Tertunda: Refleksi Kritis atas Makna Kemerdekaan Indonesia

Kamis, 13 Agustus 2026 - 12:49 WIB

Pangkalan Brandan Lautan Api: Ketika Rakyat Langkat Membakar Kilang Minyak demi Mempertahankan Kemerdekaan

Rabu, 12 Agustus 2026 - 12:44 WIB

Kasasi Ditolak, Alexander Halim Tetap Divonis 10 Tahun dalam Kasus Alih Fungsi Hutan Langkat

Berita Terbaru