Stabat, Langkatoday.com – Ada orang yang memang ketika berbicara sangat tekstualis, apa yang tertulis, itulah yang diucapkan. Namun ada juga yang menyederhanakan teks menjadi lebih mudah untuk disampaikan, bukan menganggap lawan bicara lebih rendah darinya, melainkan agar pesan yang tersurat dapat membuka tabir apa yang tersirat dibaliknya.
Tetapi akan menjadi masalah, jika apa yang disampaikan terlalu mudah untuk dipahami, tidak adanya peningkatan kosakata baru dalam berkomunikasi. Tentu saja dalam mengelola kosakata untuk penggunaan sehari-hari bukan hal yang mudah, karena dibutuhkan arti dan pemahaman agar setiap kata keluar sesuai tempatnya. Bagaimana peradaban akan maju jika sisi kebahasaan masih amburadul ?
Peradaban merupakan ekspresi dari kebudayaan, tetapi yang berbudaya belum tentu berperadaban. Beberapa diantara dari banyaknya syarat kebudayaan yang berperadaban adalah penggunaan stilistika sebagai alat komunikasi.
Sependek bacaan saya, al-Quran tidak selamanya menggunakan bahasa sederhana, diantara teks suci-Nya juga menggunakan bahasa yang sulit dipahami oleh bahasa kaumnya sendiri, sehingga para sahabat menanyakan maksudnya kepada Rasul. Al-Quran bukan sekedar teks suci, tetapi sebagai sastra Agung yang tiada banding. Tuhan tidak melarang bagi siapa saja yang ingin membuat kitab suci yang serupa dengan al-Quran, tetapi Dia menantang bagi siapa saja yang meragukan kebenaran kitab suci-Nya jika memang dia yang lebih benar (al-baqarah:23). Wallahu a’lam.
2045 bukanlah omon² semata, jika generasi penerus gemar membaca dan menulis. Terkadang, narasi yang disampaikan lewat tulisan jauh lebih berbahaya daripada yg disampaikan lewat orasi. 🔥
Terimakasih bagi yg sudah membaca. Terimakasih juga bagi yang tidak membaca sampai habis, barangkali tulisan ini tidak menarik bagi sebagian orang, karena setiap pedagang memiliki langganannya, dan setiap penulis memiliki pengagumnya. 🙌🏻
.jpg)
