Komisi III DPR RI Didesak Panggil Kapolres Langkat Terkait Kasus Siswi 15 Tahun Jadi Tersangka

- Kontributor

Senin, 13 April 2026 - 21:08 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

☕ Traktir kopi buat penulis biar semangat
+ Traktir Kopi

Medan, Langkatoday.com – Kasus hukum yang menjerat seorang siswi berinisial L (15) di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, kini menggelinding menjadi isu nasional.

Setelah video permohonan keadilannya kepada Presiden terpilih Prabowo Subianto dan Kapolri viral, desakan agar Komisi III DPR RI memanggil pimpinan Polres Langkat semakin menguat.

Publik dan pengamat hukum mempertanyakan objektivitas penyidik dalam menetapkan L dan ayahnya sebagai tersangka pengeroyokan, yang diklaim keluarga sebagai tindakan pembelaan diri (noodweer).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Uji Materiil: Pembelaan Terpaksa atau Pengeroyokan?

Pengamat hukum, Fauzi Sibarani, menilai penetapan tersangka terhadap anak di bawah umur dalam kasus ini perlu dikaji ulang secara mendalam. Menurutnya, aparat harus melihat kronologi secara utuh untuk menentukan apakah ada unsur pembelaan terpaksa.

“Aparat penegak hukum harus berhati-hati. Jika benar tindakan tersebut dilakukan karena posisi terancam, maka itu masuk kategori noodweer. Transparansi penyidikan sangat krusial agar tidak muncul persepsi ketidakadilan di masyarakat,” ujar Fauzi.

MAKI Sumut: Stop Kriminalisasi Anak

Ketua Umum Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Sumut, Riski Ananda, secara tegas meminta Komisi III DPR RI segera memanggil Kapolres Langkat dan Kasat Reskrim untuk memberikan klarifikasi terbuka.

“Kami meminta DPR RI turun tangan. Jangan sampai ada kriminalisasi terhadap korban, apalagi ini melibatkan anak di bawah umur. Proses hukum harus objektif dan menjunjung tinggi prinsip perlindungan anak,” tegas Riski.

MAKI juga mendesak pihak kepolisian untuk meninjau kembali penahanan ayah L dan memastikan siswi tersebut mendapatkan pendampingan psikologis serta hukum yang memadai sebagai Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH).

Viralnya “Jeritan” Keadilan di Media Sosial

Sorotan tajam netizen bermula dari unggahan video pengakuan L yang menangis memohon keadilan kepada petinggi negara, mulai dari Kapolri hingga Kapolda Sumut.

Kasus ini menambah daftar panjang perhatian publik terhadap penegakan hukum di wilayah hukum Polres Langkat yang dinilai sensitif bagi rasa keadilan masyarakat kecil.

Ikuti WhatsApp Channel Langkatoday Follow

Berita Terkait

Kades Pasar Rawa Gebang HM Minta Maaf, Wirdatul Akmal Resmi Cabut Laporan
KPK Geledah Bea Cukai Semarang, Uang Tunai Disita
MA Nyatakan Suket Gibran Tidak Sah, Denny Indrayana: Mas Gibran Mundur Deh
Yaqub Menyesal Beri Rp1 Miliar ke Ondim: Istri Sedang Hamil, Ibu Meninggal Saat Saya Ditangkap
KPK Periksa Tiga Pejabat Disdik dan Kades Ara Condong Terkait Kasus Syah Afandin
KPK Buka Peluang Usut Keterkaitan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Jalan Sumut
Syah Afandin Akui Terima Fee Proyek, KPK Ungkap Dugaan Aliran Rp1 Miliar
Ondim Tersenyum Saat Tiba di PN Medan, Jadi Saksi Sidang Dugaan Suap

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 17:52 WIB

Kades Pasar Rawa Gebang HM Minta Maaf, Wirdatul Akmal Resmi Cabut Laporan

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 11:23 WIB

KPK Geledah Bea Cukai Semarang, Uang Tunai Disita

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 09:10 WIB

MA Nyatakan Suket Gibran Tidak Sah, Denny Indrayana: Mas Gibran Mundur Deh

Jumat, 30 Oktober 2026 - 10:04 WIB

Yaqub Menyesal Beri Rp1 Miliar ke Ondim: Istri Sedang Hamil, Ibu Meninggal Saat Saya Ditangkap

Kamis, 29 Oktober 2026 - 12:19 WIB

KPK Periksa Tiga Pejabat Disdik dan Kades Ara Condong Terkait Kasus Syah Afandin

Terbaru

Chat via WhatsApp