Membaca Ulang Ekonomi Pertanian Kabupaten Langkat: Potensi Besar yang Masih Tertidur

- Kontributor

Rabu, 21 Mei 2025 - 11:20 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Traktir kopi buat penulis biar semangat
+ Traktir Kopi

Oleh: Rahmatullah, S.E., M.SEI
Dosen FEBI INSAN Binjai

STABAT (Langkatoday) – Kabupaten Langkat dikenal sebagai salah satu wilayah agraris di Sumatera Utara. Dengan luas lahan pertanian yang signifikan dan iklim tropis yang mendukung, semestinya sektor ini menjadi pilar utama perekonomian daerah. Namun ironisnya, pertanian di Langkat belum mampu menjadi mesin penggerak kesejahteraan masyarakat secara optimal.

Masalah paling mendasar terletak pada ketimpangan teknologi dan produktivitas. Mayoritas petani di Langkat masih bergantung pada metode konvensional. Minimnya akses terhadap alat pertanian modern, benih unggul, dan informasi pasar menyebabkan produktivitas rendah. Padahal di era pertanian 4.0, teknologi telah menjadi penentu efisiensi dan daya saing.

Harga hasil pertanian pun kerap tidak berpihak kepada petani. Di saat panen raya, harga komoditas justru anjlok. Rantai distribusi yang panjang dan dominasi tengkulak membuat petani terjebak dalam siklus penghasilan yang stagnan. Tanpa akses langsung ke pasar atau koperasi yang kuat, posisi tawar petani tetap lemah.

Baca Juga:  “Seikhlasnya, Tapi Ada Tarifnya”, Kisah Receh dari Puskesmas Stabat

Di sisi lain, pemerintah memang telah menggulirkan sejumlah program seperti subsidi pupuk dan bantuan kelompok tani. Namun sayangnya, program-program tersebut belum menyentuh akar persoalan: keterisolasian petani dari sistem ekonomi yang inklusif dan berkeadilan. Program pelatihan sering bersifat seremonial, dan pendampingan teknis tidak dilakukan secara berkelanjutan.

Untuk itu, perlu ada reorientasi kebijakan pembangunan pertanian di Langkat. Pertanian harus dilihat bukan sekadar sebagai penyerap tenaga kerja atau simbol daerah, tetapi sebagai fondasi utama pembangunan ekonomi jangka panjang. Akses ke modal, teknologi, pasar, dan pelatihan harus menjadi prioritas utama.

Baca Juga:  Langkat Krisis Integritas, Ketika Jabatan Dijadikan Paket Langganan

Di tengah berbagai tantangan ekonomi global, kedaulatan pangan lokal menjadi semakin penting. Langkat punya modal besar untuk menjadi sentra produksi pangan yang mandiri dan berkelanjutan. Tapi ini hanya bisa tercapai jika ada keberpihakan nyata pada petani, bukan hanya dalam retorika, melainkan dalam anggaran, regulasi, dan tindakan konkret.

Petani Langkat tidak meminta belas kasihan. Mereka hanya butuh sistem yang adil dan peluang yang setara. Karena ketika petani sejahtera, Langkat akan kuat, mandiri, dan tahan terhadap guncangan ekonomi apa pun.

Follow WhatsApp Channel langkatoday.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

607 Sumur Minyak Rakyat di Langkat Bakal Dilegalkan dan Dikelola BUMD!
Bupati Langkat Respons Dugaan Pungli Pupuk Subsidi, Inspektorat Diminta Turun Tangan
Langkat Go International! Gandeng UNDP, Syah Afandin Bidik Pembangunan Kelas Dunia di Bukit Lawang hingga Tangkahan
Perlahan Tapi Pasti, Langkat Tunjukkan Tren Positif dari Tahun ke Tahun
“Seikhlasnya, Tapi Ada Tarifnya”, Kisah Receh dari Puskesmas Stabat
Syah Afandin Imbau Warga Langkat Tidak Panic Buying BBM dan Sembako
Mobil Pabrik Es Dilempari Preman di Stabat, Tolak Setoran Berujung Kaca Pecah!
Tanggap Darurat Diperpanjang, Wakil Rakyat Justru Mengungsi ke Luar Daerah

Berita Terkait

Jumat, 5 Juni 2026 - 11:02 WIB

607 Sumur Minyak Rakyat di Langkat Bakal Dilegalkan dan Dikelola BUMD!

Kamis, 14 Mei 2026 - 07:25 WIB

Bupati Langkat Respons Dugaan Pungli Pupuk Subsidi, Inspektorat Diminta Turun Tangan

Rabu, 13 Mei 2026 - 13:05 WIB

Langkat Go International! Gandeng UNDP, Syah Afandin Bidik Pembangunan Kelas Dunia di Bukit Lawang hingga Tangkahan

Senin, 13 April 2026 - 06:45 WIB

Perlahan Tapi Pasti, Langkat Tunjukkan Tren Positif dari Tahun ke Tahun

Kamis, 9 April 2026 - 09:28 WIB

“Seikhlasnya, Tapi Ada Tarifnya”, Kisah Receh dari Puskesmas Stabat

Berita Terbaru