7 Perusahaan Ini Disebut Jadi Penyebab Banjir di Tapanuli

- Kontributor

Jumat, 28 November 2025 - 18:16 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Traktir kopi buat penulis biar semangat
+ Traktir Kopi

angkap layar akun Instagram Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, @masinton pada Selasa (26/11/2025), memperlihatkan banjir bandang dipenuhi gelondongan kayu. WALHI Sumut mengungkap ada tujuh korporasi dengan dosa lingkungan penyebab bencana ekologis di Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. (Instagram/masinton)

angkap layar akun Instagram Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, @masinton pada Selasa (26/11/2025), memperlihatkan banjir bandang dipenuhi gelondongan kayu. WALHI Sumut mengungkap ada tujuh korporasi dengan dosa lingkungan penyebab bencana ekologis di Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. (Instagram/masinton)

TAPSEL, LANGKATODAY — Bencana banjir bandang yang melanda Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, pada akhir November 2025 dinilai tidak lagi sekadar bencana hidrometeorologi biasa. Aliran deras Sungai Batang Toru terekam membawa ribuan gelondongan kayu tanpa kulit, memunculkan dugaan kuat adanya aktivitas penebangan hutan skala besar di kawasan hulu.

Video yang viral di media sosial memperlihatkan air berwarna cokelat pekat mengalir dengan kekuatan besar sembari menyeret kayu-kayu gelondongan dari berbagai ukuran. Tumpukan kayu sempat menyangkut di beberapa titik jembatan di Kecamatan Batang Toru.

Temuan yang tak lazim ini mendapat sorotan dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Utara, yang menyebut bahwa banjir bandang dan longsor yang melanda delapan kabupaten di Sumut sejak 25 November bukan hanya dipicu curah hujan tinggi, tetapi juga kerusakan parah pada kawasan Ekosistem Harangan Tapanuli (Batang Toru).

WALHI: Kerusakan Hidrologis Parah di DAS Batang Toru

Dalam pernyataan yang diunggah di akun Instagram @walhisumut, WALHI menyebut fungsi hidrologis di daerah tangkapan air DAS Batang Toru telah menurun drastis. Kondisi ini berkaitan dengan keberadaan sejumlah perusahaan yang beroperasi di kawasan hutan Harangan Tapanuli.

WALHI menyebut tujuh korporasi yang dinilai memberi tekanan besar terhadap ekosistem:

  1. Tambang emas PT Agincourt Resources (Martabe) – Tapanuli Selatan
  2. PLTA North Sumatera Hydro Energy – Tapanuli Selatan
  3. PT Pahae Julu Micro-Hydro Power (PLTMH) – Tapanuli Utara
  4. Geothermal PT SOL Geothermal Indonesia – Tapanuli Utara
  5. Perkebunan Kayu Rakyat PT Toba Pulp Lestari – Tapanuli Utara
  6. Perkebunan Sawit PT Sago Nauli – Tapanuli Tengah
  7. Perkebunan Sawit PTPN III Batang Toru – Tapanuli Selatan
Baca Juga:  Prabowo Minta Pejabat Tak Datang ke Lokasi Bencana Hanya untuk Foto-foto

Menurut WALHI, deforestasi dan pembukaan lahan oleh perusahaan-perusahaan ini menjadi faktor utama hilangnya daya serap air tanah dan meningkatnya kerentanan terhadap banjir dan longsor.

“Fakta di lapangan menunjukkan adanya campur tangan manusia yang signifikan. Saat banjir tiba, terlihat banyak kayu-kayu terbawa air. Dan dari citra satelit tampak kondisi hutan yang gundul,” ujar Jaka Kelana Damanik, Manajer Advokasi dan Kampanye WALHI Sumut.

Dampak Meluas: Puluhan Ribu Mengungsi, Ribuan Rumah Rusak

WALHI melaporkan bahwa wilayah yang terdampak banjir dan longsor merupakan bagian dari Ekosistem Harangan Tapanuli, yaitu:

  • Tapanuli Tengah
  • Tapanuli Selatan
  • Tapanuli Utara
  • Kota Sibolga

Hingga Kamis (27/11), tercatat 51 desa di 42 kecamatan mengalami dampak banjir dan longsor. Ribuan rumah rusak, lahan pertanian hancur, dan puluhan ribu warga harus mengungsi.

Ekosistem Batang Toru dikenal sebagai hutan hujan tropis terakhir di Sumatera Utara dan habitat Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), spesies primata paling langka di dunia.

Baca Juga:  86 Warga Binaan Lapas Pangururan Terima Remisi HUT ke-81 RI

Kesaksian Warga: Kayu “Bekas Tebangan” Dibawa Arus

Seorang warga Huta Godang, Kecamatan Batang Toru, Silalahi, mengisahkan bahwa gelondongan kayu yang terbawa arus bukanlah kayu tumbang alami.

“Kayu-kayu ini bukan bekas tumbang karena longsor. Kulitnya sudah tidak ada, warna kayunya memutih. Ini jelas pernah dijamah manusia,” kata Silalahi, dilansir Tribun Medan.

Ia menyebut kayu kemungkinan besar berasal dari kegiatan penebangan di hulu sungai wilayah Aek Bangir. Menurutnya, kayu berkualitas biasanya diangkut memakai truk, sementara kayu tidak layak ditinggalkan begitu saja—dan kini hanyut bersama banjir bandang.

Silalahi juga menyebut adanya perusahaan baru di Sibabangun, Tapanuli Tengah, yang tengah membuka lahan di dekat area perkebunan sawit.

“PT baru ini yang menebangi pohon di hulu sungai sana. Seharusnya mereka bertanggung jawab,” ujarnya.

Desakan Pemeriksaan Izin Perusahaan

WALHI Sumut mendesak pemerintah untuk:

  • memeriksa ulang seluruh izin perusahaan di kawasan Ekosistem Harangan Tapanuli,
  • menghentikan aktivitas yang berpotensi memperparah kerusakan lingkungan,
  • dan melakukan pemulihan ekologis secara menyeluruh.

“Laju deforestasi sulit dibendung karena perusahaan-perusahaan ini berlindung di balik izin pemerintah,” tegas Jaka.

Follow WhatsApp Channel langkatoday.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Langkat Belajar ke Semarang, Perkuat Kebijakan Kabupaten Layak Anak
Kebakaran Pabrik PT Evyap di KEK Sei Mangkei, Tiga Pekerja Tewas
Api Karhutla Bergerak hingga Sekunder C, Pemadaman di Kubu Raya Diperkuat
Bobby Nasution Pastikan Kebutuhan Pengungsi Sinabung Terpenuhi, 280 Warga Kuta Tengah Dievakuasi
Gunung Sinabung Erupsi, Kolom Abu Capai 3.500 Meter dan Condong ke Timur
Pengacara Terdakwa Korupsi Samosir Desak Kejati Sumut Segera Tahan Mantan Pimpinan Bank Mandiri
Semarak HUT ke-81 RI, Ratusan Pegawai dan Keluarga PT Socfindo Ikuti Family Walk
Jokowi Akui Kerap Dicaci dan Difitnah: “Biasa dalam Politik, Tapi Mbok Ya Ojo Ngono”

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 03:06 WIB

Langkat Belajar ke Semarang, Perkuat Kebijakan Kabupaten Layak Anak

Kamis, 3 September 2026 - 17:33 WIB

Kebakaran Pabrik PT Evyap di KEK Sei Mangkei, Tiga Pekerja Tewas

Kamis, 3 September 2026 - 03:54 WIB

Api Karhutla Bergerak hingga Sekunder C, Pemadaman di Kubu Raya Diperkuat

Rabu, 2 September 2026 - 06:05 WIB

Bobby Nasution Pastikan Kebutuhan Pengungsi Sinabung Terpenuhi, 280 Warga Kuta Tengah Dievakuasi

Senin, 31 Agustus 2026 - 14:11 WIB

Gunung Sinabung Erupsi, Kolom Abu Capai 3.500 Meter dan Condong ke Timur

Berita Terbaru