Sakit Hati Timses: Ditinggal Setelah Menang, Tak Dapat Jabatan, Tak Dianggap

- Kontributor

Sabtu, 5 Juli 2025 - 09:57 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Traktir kopi buat penulis biar semangat
+ Traktir Kopi

STABAT (Langkatoday)Kemenangan dalam politik selalu membawa harapan—bagi kandidat, para pendukung, dan terutama bagi mereka yang berjuang di belakang layar. Tapi tak semua yang berjuang ikut menikmati hasilnya. Kisah pahit ini dialami oleh seorang mantan tim sukses di Kabupaten Langkat, sebut saja namanya Herman (bukan nama sebenarnya), yang merasa dikhianati oleh sosok yang dulu ia dukung sepenuh hati.

“Saya Berjuang, Tapi Kini Saya Seperti Tak Pernah Ada”

Herman bukanlah orang kaya. Ia hanya seorang warga biasa yang tergugah hatinya untuk mendukung salah satu calon kepala daerah dalam Pilkada terakhir. Meski tak punya banyak uang, ia menawarkan sesuatu yang lebih mahal: loyalitas, waktu, dan keringat.

Selama berbulan-bulan masa kampanye, Herman bergerak dari desa ke desa, mengajak warga untuk memilih jagoannya. Ia memasang spanduk, mengatur pertemuan, hingga berdebat dengan tetangga demi meyakinkan orang lain bahwa calon yang ia dukung adalah harapan baru.

“Kalau siang saya kerja serabutan, malamnya saya rapat atau tempel-tempel stiker. Kadang modal sendiri, karena katanya nanti kalau menang pasti ada balasan,” tutur Herman dengan nada getir.

Baca Juga:  Pepatah yang Terlupa: Pelajaran dari Minang untuk Melayu Langkat

Namun harapan itu sirna setelah sang calon menang dan dilantik. Herman yang dulu hampir setiap hari dipanggil “saudara seperjuangan”, kini bahkan tak dijawab pesannya. Pintu kantor yang dulu terbuka lebar kini tak bisa lagi ia masuki tanpa alasan.

“Bukan Jabatan, Tapi Penghargaan yang Saya Harapkan”

Banyak orang menilai bahwa tim sukses hanya kecewa karena tak mendapat jabatan atau proyek. Tapi bagi Herman, bukan itu yang jadi persoalan utama. Ia lebih kecewa karena dilupakan, tak dihargai, seolah tak pernah ikut ambil bagian dalam kemenangan.

“Saya tidak minta jadi kepala dinas atau staf ahli. Cuma ingin dihargai, diajak diskusi, atau minimal dikasih kabar. Tapi ini seperti saya tidak pernah ada,” kata Herman, menahan emosi.

Ia bahkan pernah datang ke kantor sang pejabat, berharap bisa sekadar bersalaman. Tapi yang ia temui justru satpam yang berkata, “Bapak sedang sibuk, belum bisa ditemui.”

Fenomena yang Sering Terjadi

Apa yang dialami Herman bukan hal baru. Di setiap pemilu atau pilkada, kisah tentang para pejuang yang ditinggal usai kemenangan kerap terulang. Mereka yang di awal dielu-elukan, di akhir justru dilupakan.

Baca Juga:  Imam Malik Didera Hingga Berlumuran Darah Usai Nasihati Khalifah

Sosiolog politik dari salah satu universitas di Sumatera Utara menyebut bahwa politik elektoral di Indonesia masih didominasi oleh pendekatan pragmatis. Timses hanya dianggap sebagai alat pencapai kekuasaan, bukan bagian dari sistem yang harus dilibatkan dalam pemerintahan.

“Padahal, dalam politik yang sehat, tim sukses adalah aset moral dan sosial. Kalau mereka ditinggalkan begitu saja, ini bukan hanya merusak kepercayaan, tapi juga menurunkan partisipasi politik ke depan,” jelasnya.

Belajar dari Luka

Kini Herman memilih kembali ke kehidupannya yang sederhana. Ia mengaku tidak lagi percaya dengan politik, meski masih peduli dengan daerahnya. Ia tak ingin anak-anak muda nanti mengalami hal yang sama—berjuang, lalu dikhianati.

“Saya cerita ini bukan untuk mengadu domba atau cari belas kasihan. Saya hanya ingin masyarakat tahu, bahwa di balik euforia kemenangan, ada luka yang sering tidak terlihat,” ujarnya.

Follow WhatsApp Channel langkatoday.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ternyata Proklamasi RI Awalnya Direncanakan 24 Agustus 1945, Bukan 17 Agustus
Jejak Minyak, Kekuasaan, dan Kesultanan: Menelusuri Aliansi Aeilko Jans Zijker dan Langkat
Kesultanan Langkat dan Ratu Belanda: Potret Loyalitas yang Menyisakan Tanya
Pepatah yang Terlupa: Pelajaran dari Minang untuk Melayu Langkat
Wajah Langkat yang Tak Sepenuhnya Melayu
Marah Halim Harahap: Kisah Gubernur Sumatera Utara yang Mengguncang Dunia Sepak Bola
Raja Inggris Ini Diduga Masuk Islam 1.200 Tahun Lalu, Bukti Mengejutkan Ditemukan di Roma!
Sejarah Haji, Perjalanan Menuju Baitullah

Berita Terkait

Minggu, 17 Agustus 2025 - 11:57 WIB

Ternyata Proklamasi RI Awalnya Direncanakan 24 Agustus 1945, Bukan 17 Agustus

Kamis, 14 Agustus 2025 - 00:12 WIB

Jejak Minyak, Kekuasaan, dan Kesultanan: Menelusuri Aliansi Aeilko Jans Zijker dan Langkat

Rabu, 13 Agustus 2025 - 14:41 WIB

Kesultanan Langkat dan Ratu Belanda: Potret Loyalitas yang Menyisakan Tanya

Sabtu, 9 Agustus 2025 - 15:56 WIB

Pepatah yang Terlupa: Pelajaran dari Minang untuk Melayu Langkat

Jumat, 8 Agustus 2025 - 21:28 WIB

Wajah Langkat yang Tak Sepenuhnya Melayu

Berita Terbaru