BRIN Temukan Jejak Islam Abad ke-7 di Tapanuli Tengah, Sejarah Nusantara Bisa Berubah

- Pewarta

Kamis, 13 Agustus 2026 - 11:37 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

☕ Traktir kopi buat penulis biar semangat
+ Traktir Kopi

Tapanuli Tengah, Langkatoday.com – Temuan arkeologi di Situs Bongal, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, berpotensi mengubah pemahaman mengenai sejarah awal masuknya Islam ke Nusantara.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap adanya temuan yang mengindikasikan keberadaan aktivitas terkait Islam di kawasan tersebut sejak abad ke-7 hingga ke-8 Masehi.

Kepala Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, Irfan Mahmud, menyampaikan temuan tersebut dalam Webinar Series Forum Kebhinekaan Seri #38 di Jakarta, Rabu (12/8).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Irfan, hasil ekskavasi di Situs Bongal memberikan petunjuk penting mengenai kemungkinan kedatangan Islam yang jauh lebih awal dibandingkan narasi sejarah yang selama ini banyak dikenal.

“Tim menemukan satu temuan penting tentang momen kedatangan Islam yang lebih awal dari yang diduga sebelumnya, abad 7 dan 8,” ujar Irfan.

Tujuh Abad yang Masih Menjadi Ruang Kosong

Irfan menjelaskan, temuan tersebut menarik karena terdapat rentang waktu sekitar tujuh abad dengan narasi sejarah yang selama ini lebih banyak menempatkan perkembangan Islam sebagai kekuatan politik atau kerajaan pada sekitar abad ke-13 hingga ke-15.

Baca Juga:  Usai 'Mati-matian' Sebut Ijazah Jokowi Palsu, Kini Rismon Sianipar Sebut Asli

Menurutnya, rentang waktu tersebut justru menjadi bagian penting yang perlu diteliti lebih mendalam.

“Tujuh abad bukan rentang yang pendek dan banyak lokasi. Saya kira dengan penemuan kawan-kawan tersebut akan membuka kesempatan dan upaya-upaya untuk menemukan hal-hal yang baru,” katanya.

BRIN menilai Situs Bongal dapat membuka perspektif baru mengenai “Islam akar rumput”, yakni bagaimana masyarakat biasa berinteraksi dengan jaringan perdagangan, budaya, dan agama pada masa awal, bukan hanya melihat sejarah dari kehidupan kerajaan dan pusat kekuasaan.

Dengan pendekatan tersebut, sejarah masuknya Islam ke Nusantara tidak lagi semata-mata dilihat melalui narasi kerajaan, tetapi juga melalui jejak kehidupan masyarakat pesisir dan komunitas perdagangan.

Koin Islam dari dinasti Umayyah koleksi Museum Al-Qur’an Sumatera Utara. Koin ini ditemukan di Situs Bongal, Tapanuli Tengah, Sumut. Foto: IG Museum Al-Qur’an Sumut

Temuan Bongal Picu Perdebatan Akademis

Kepala Organisasi Riset Arkeologi Bahasa dan Sastra (Arbastra) BRIN, Herry Yogaswara, mengatakan temuan dari Situs Bongal telah memunculkan dialektika baru di kalangan ilmuwan.

Baca Juga:  Menkeu Purbaya Sindir Pertamina: Janji Bangun 7 Kilang Minyak, Hingga Kini Tak Satu pun Terwujud

Menurutnya, perbedaan tafsir terhadap temuan arkeologi merupakan bagian dari proses ilmiah selama seluruh argumen didasarkan pada bukti.

“Saya kira di dalam dunia riset perdebatan itu tidak ada masalah sepanjang berdasarkan evidence,” kata Herry.

BRIN bahkan berencana mendorong penelitian dalam skala lebih besar di kawasan Pantai Barat Sumatera untuk memperkuat bukti mengenai perkembangan awal peradaban Islam.

Herry mengatakan pihaknya tengah mempertimbangkan pembangunan stasiun lapangan yang memungkinkan penelitian dilakukan secara lebih panjang di kawasan Bongal maupun wilayah pesisir barat Sumatera.

“Khususnya yang berkaitan dengan peradaban Islam,” ujarnya.

Jika penelitian lanjutan berhasil menemukan lebih banyak bukti yang saling menguatkan, Situs Bongal berpotensi menjadi salah satu titik penting dalam penulisan ulang sejarah awal interaksi Islam dengan masyarakat Nusantara.

Namun, temuan tersebut tetap membutuhkan penelitian, verifikasi, dan kajian akademis lebih lanjut sebelum menjadi kesimpulan sejarah yang definitif.

Follow WhatsApp Channel langkatoday.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Profil Kamaruddin Simanjuntak, Pengacara Brigadir Yosua yang Tutup Usia
Gerindra Jurukunci Penyelesaian Polemik Ijazah Gibran
Kepuasan Publik terhadap Prabowo Bukan karena Pencitraan
Soal Asap Karhutla, Menkes Minta Warga Mulai Berdaptasi
Polri Latih 586 Polisi Khusus Kehutanan, Perkuat Pencegahan Karhutla
KPK Buka Peluang Jemput Paksa Nusron Wahid
BAZNAS Langkat Hadiri Rakornas 2026, Siap Perkuat Penghimpunan Zakat Produktif
PSI Prediksi Gibran Jadi Presiden Usai Dampingi Prabowo Dua Periode

Berita Terkait

Senin, 19 Oktober 2026 - 14:16 WIB

Profil Kamaruddin Simanjuntak, Pengacara Brigadir Yosua yang Tutup Usia

Senin, 19 Oktober 2026 - 14:00 WIB

Gerindra Jurukunci Penyelesaian Polemik Ijazah Gibran

Senin, 19 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Kepuasan Publik terhadap Prabowo Bukan karena Pencitraan

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 13:33 WIB

Soal Asap Karhutla, Menkes Minta Warga Mulai Berdaptasi

Jumat, 16 Oktober 2026 - 19:19 WIB

Polri Latih 586 Polisi Khusus Kehutanan, Perkuat Pencegahan Karhutla

Terbaru

Langkat Terkini

Pemkab Langkat Mulai Rancang Arah Pariwisata 20 Tahun ke Depan

Senin, 19 Okt 2026 - 20:40 WIB

Langkat Terkini

Tindak Lanjuti Sidak, Tiorita Apresiasi Pembenahan Kantor Camat Hinai

Senin, 19 Okt 2026 - 18:08 WIB