105 Ribu Pikap India Masuk RI, Harganya Cuma Rp 200 Jutaan? Industri Lokal Terancam!

- Pewarta

Rabu, 25 Februari 2026 - 11:21 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

☕ Traktir kopi buat penulis biar semangat
+ Traktir Kopi

Pabrikan otomotif India turut menikmati dampak ekonomi proyek Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang digalakkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Setelah Mahindra & Mahindra (Mahindra) yang akan 35.000 unit kendaraan niaga jenis pikap ke Indonesia, pemanufaktur lainnya, Tata Motors juga akan melakukan hal serupa. (Dok. Mahindra)

Pabrikan otomotif India turut menikmati dampak ekonomi proyek Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang digalakkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Setelah Mahindra & Mahindra (Mahindra) yang akan 35.000 unit kendaraan niaga jenis pikap ke Indonesia, pemanufaktur lainnya, Tata Motors juga akan melakukan hal serupa. (Dok. Mahindra)

Jakarta, Langkatoday.com – Impor mobil pikap asal India oleh PT Agrinas Pangan Nusantara resmi dimulai. Sebanyak 1.000 unit kendaraan niaga tahap awal telah tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, menandai realisasi kontrak pengadaan 105.000 unit kendaraan untuk mendukung operasional Koperasi Desa Merah Putih.

Mengutip laporan Kompas.com, total nilai kontrak pengadaan ini mencapai Rp 24,66 triliun. Pengadaan melibatkan dua produsen otomotif besar asal India, yakni Mahindra & Mahindra serta Tata Motors.

Dari total 105.000 unit, sebanyak 35.000 unit merupakan Scorpio Pick-Up produksi Mahindra. Sementara 70.000 unit lainnya dipasok Tata Motors, terdiri atas 35.000 unit Yodha Pick-Up dan 35.000 unit Ultra T.7 Light Truck.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berapa Harganya?

Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, menyebut harga kendaraan tersebut sangat kompetitif. Namun, ia tidak mengungkapkan detail angka pasti karena terikat perjanjian kerahasiaan (NDA) dengan prinsipal.

Meski begitu, ia mengisyaratkan harga pikap impor tersebut berada di bawah rata-rata harga pikap merek Jepang yang diproduksi di dalam negeri. Estimasi yang beredar menyebutkan harga berada di kisaran Rp 200 jutaan per unit.

“Pokoknya prinsip saya, harga yang disepakati adalah harga terima di seluruh Indonesia, termasuk di Papua, tidak ada penambahan satu sen pun,” ujar Joao dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (24/2).

Baca Juga:  “Selama Purbaya Masih Senyum, Negara Aman” - Candaan Prabowo Soal Ekonomi Bikin Ruangan Pecah

Ia menegaskan kendaraan yang diterima sudah berstatus On The Road (OTR) dan langsung sampai di lokasi tujuan tanpa biaya distribusi tambahan.

Order ini mencerminkan penerimaan berkelanjutan terhadap kendaraan niaga India di pasar internasional. Dan kepercayaan pelanggan terhadap kemampuan kendaraan tersebut untuk beroperasi dengan andal di berbagai kondisi,” kata Direktur Tata Asif Shamim. (Dok. Detikcom/Luthfi Anshori)

Klaim Hemat Rp 46 Triliun

Melalui skema pembelian dalam jumlah besar dan negosiasi langsung dengan pabrikan, Agrinas mengklaim mampu menghemat hingga Rp 46 triliun dibandingkan pembelian dengan harga pasar umum.

Unit yang didatangkan disebut bukan varian standar terendah, melainkan dirancang untuk kebutuhan operasional berat, khususnya di wilayah dengan infrastruktur terbatas.

Spesifikasi umum kendaraan meliputi:

  • Mesin diesel bertenaga dengan torsi besar
  • Sistem penggerak empat roda (4WD) dengan transfer case high dan low
  • Ground clearance tinggi
  • Sasis ladder frame kokoh
  • Bak angkut berkapasitas besar

Kendaraan ini diproyeksikan menjadi tulang punggung distribusi logistik dan pangan di wilayah pegunungan, perkebunan, hingga daerah terpencil.

Menuai Kritik

Di tengah realisasi impor, kebijakan ini menuai kritik dari sejumlah kalangan.

Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Jumhur Hidayat mengecam keras kebijakan tersebut. Ia menilai tidak ada legitimasi moral maupun profesional untuk melakukan impor dalam skala besar, mengingat Indonesia telah memiliki industri otomotif yang kuat dan bahkan mengekspor kendaraan ke lebih dari 80 negara sejak 1987.

Baca Juga:  Prabowo Klaim Kopdes Merah Putih Bakal Ciptakan Perputaran Uang Rp223 Triliun di Desa

Ia mencontohkan Toyota yang telah mengekspor lebih dari 3 juta unit hingga 2025, belum termasuk merek lain seperti Honda, Daihatsu, dan Mitsubishi.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kadin Indonesia, Saleh Husin, menilai impor kendaraan dalam bentuk utuh (completely built up/CBU) berpotensi mematikan industri otomotif nasional.

Menurutnya, industri komponen otomotif seperti mesin, sasis, bodi, ban, aki, hingga sistem elektronik bisa terdampak karena tidak terlibat dalam rantai pasok pengadaan tersebut.

Ia menegaskan kebutuhan kendaraan oleh Koperasi Desa Merah Putih seharusnya bisa menjadi momentum memperkuat industri otomotif dalam negeri, bukan justru membuka keran impor besar-besaran.

Masih Jadi Polemik

Di satu sisi, pemerintah melalui BUMN pelaksana menekankan efisiensi anggaran dan kebutuhan spesifikasi khusus untuk medan berat. Di sisi lain, pelaku industri dan serikat pekerja menilai kebijakan tersebut berisiko terhadap keberlangsungan industri otomotif nasional.

Proyek pengadaan 105.000 unit kendaraan ini pun kini menjadi sorotan publik, baik dari sisi efisiensi anggaran maupun dampaknya terhadap industri dalam negeri.

Follow WhatsApp Channel langkatoday.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hari Ini KPK Panggil Menteri ATR/BPN Nusron Wahid
MK Ungkap Tak Temukan Bukti Ijazah Setara SMA Gibran
Pertamina Sebut Harga Pertamax Indonesia Lebih Murah dari Sejumlah Negara ASEAN
Prabowo Salami SBY, tapi Tak Terlihat Salami Jokowi di HUT ke-81 TNI
Letjen Lucky Avianto Komandan Upacara HUT ke-81 TNI, Jenderal Kopassus Pemburu KKB
KPK Ungkap Ada Setoran dari Kantah ke Tingkat Pusat ATR/BPN
Penahanan Syah Afandin Diperpanjang 30 Hari, KPK Masih Dalami Perkara Dugaan Korupsi
Profil Singkat Brigjen Sonny Irawan, Kapolda Sumut yang Baru

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:51 WIB

Hari Ini KPK Panggil Menteri ATR/BPN Nusron Wahid

Rabu, 7 Oktober 2026 - 04:38 WIB

MK Ungkap Tak Temukan Bukti Ijazah Setara SMA Gibran

Selasa, 6 Oktober 2026 - 14:53 WIB

Pertamina Sebut Harga Pertamax Indonesia Lebih Murah dari Sejumlah Negara ASEAN

Selasa, 6 Oktober 2026 - 12:04 WIB

Prabowo Salami SBY, tapi Tak Terlihat Salami Jokowi di HUT ke-81 TNI

Senin, 5 Oktober 2026 - 13:19 WIB

Letjen Lucky Avianto Komandan Upacara HUT ke-81 TNI, Jenderal Kopassus Pemburu KKB

Terbaru

Hukum

Hari Ini KPK Panggil Menteri ATR/BPN Nusron Wahid

Rabu, 7 Okt 2026 - 08:51 WIB