STABAT, Langkatoday.com – Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, menjadi lokasi penelitian yang mengungkap keberadaan DNA parasit malaria monyet pada nyamuk. Temuan ini memberikan petunjuk baru mengenai potensi penularan malaria zoonotik, yakni penyakit malaria yang dapat berpindah dari hewan ke manusia.
Penelitian yang dilakukan di Desa Ujung Bandar, Kecamatan Salapian, menemukan DNA Plasmodium knowlesi, parasit penyebab malaria monyet, pada nyamuk Anopheles dirus. Studi tersebut juga mengidentifikasi keberadaan dua spesies nyamuk yang sebelumnya belum pernah dikonfirmasi di Indonesia, yakni Anopheles dirus dan Anopheles scanloni.
Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Scientific Reports pada 2026. Sebagaimana dilaporkan Mongabay Indonesia, temuan tersebut menjadi bukti awal dari sisi nyamuk mengenai potensi penularan malaria knowlesi di Langkat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Langkat Jadi Lokasi Penelitian Malaria Monyet
Malaria knowlesi merupakan jenis malaria yang secara alami menginfeksi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan beruk. Parasit ini dapat berpindah ke manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles yang berperan sebagai vektor atau pembawa penyakit.

Di Indonesia, kasus malaria knowlesi pada manusia pertama kali dilaporkan di Kalimantan Selatan pada 2010. Kasus kemudian ditemukan di sejumlah wilayah lain, termasuk Sumatera Utara.
Pada 2017, Sumatera Utara mencatat 377 kasus malaria knowlesi pada manusia. Namun, nyamuk yang berperan dalam penularannya di wilayah ini belum pernah teridentifikasi secara jelas.
Penelitian terbaru di Langkat memberikan petunjuk penting untuk memahami persoalan tersebut. Lokasi penelitian berada di dua dusun di Desa Ujung Bandar, Kecamatan Salapian, yang sebelumnya juga pernah melaporkan kasus malaria knowlesi pada manusia pada 2022 hingga 2023.
Wilayah tersebut berada di kawasan perbukitan dengan ketinggian sekitar 300–600 meter di atas permukaan laut. Lanskapnya dikelilingi perkebunan kelapa sawit, kebun campuran milik warga, serta petak-petak hutan yang telah mengalami gangguan.
Kondisi lingkungan tersebut menjadi salah satu pertimbangan peneliti dalam memilih lokasi pengamatan. Pemetaan risiko juga memperhitungkan keberadaan monyet, sebaran nyamuk, kepadatan penduduk, dan jenis penggunaan lahan.
Dua Spesies Nyamuk Ditemukan di Salapian

Pengumpulan nyamuk dilakukan selama empat malam setiap bulan, mulai Juli 2022 hingga Juni 2023.
Petugas melakukan pengamatan sepanjang malam, pukul 18.30 hingga 06.00 WIB, dengan menangkap nyamuk yang hinggap di kulit mereka. Metode ini dikenal sebagai human landing catch, yang digunakan untuk mengumpulkan nyamuk yang sedang mencari darah.
Dari hasil pengumpulan, peneliti memperoleh 597 nyamuk yang termasuk dalam kelompok spesies yang beberapa anggotanya dikenal sebagai penular malaria monyet di Asia Tenggara.
Karena sejumlah spesies dalam kelompok tersebut memiliki bentuk tubuh yang sangat mirip, identifikasi tidak cukup dilakukan hanya dengan pengamatan fisik. Peneliti kemudian memeriksa DNA setiap nyamuk untuk memastikan spesiesnya.
Hasilnya, sebanyak 584 nyamuk atau 97,8 persen teridentifikasi sebagai Anopheles dirus. Sementara itu, 13 nyamuk lainnya merupakan Anopheles scanloni.
Temuan tersebut memperluas peta persebaran kedua spesies nyamuk hingga ke Pulau Sumatera. Sebelumnya, An. dirus diketahui tersebar di sejumlah negara Asia Tenggara dan Pulau Hainan, China selatan. Adapun An. scanloni tercatat di kawasan perbatasan Myanmar dan Thailand.
DNA Parasit Malaria Monyet dan Manusia Ditemukan

Setelah mengidentifikasi spesies nyamuk, peneliti memeriksa bagian kepala dan dada untuk mencari jejak parasit malaria.
Dari 584 nyamuk Anopheles dirus, enam ekor terbukti membawa DNA parasit malaria yang dapat diidentifikasi jenisnya. Seluruhnya ditemukan membawa lebih dari satu jenis parasit sekaligus.
Tiga di antaranya membawa DNA Plasmodium knowlesi, atau sekitar 0,5 persen dari seluruh An. dirus yang diperiksa.
Selain parasit malaria monyet tersebut, peneliti juga menemukan DNA parasit malaria manusia, yakni Plasmodium vivax, pada empat ekor nyamuk.
Temuan ini menunjukkan bahwa DNA parasit malaria yang menginfeksi monyet dan manusia ditemukan pada nyamuk dari spesies yang sama di wilayah penelitian.
Sementara itu, 13 nyamuk Anopheles scanloni yang diperiksa tidak menunjukkan keberadaan DNA parasit malaria.
Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa ditemukannya DNA parasit pada tubuh nyamuk belum membuktikan bahwa nyamuk tersebut telah mampu menularkan malaria kepada manusia.
Pemeriksaan DNA hanya menunjukkan keberadaan materi genetik parasit. Untuk memastikan kemampuan penularan, masih diperlukan penelitian lebih lanjut guna mengetahui apakah parasit telah berkembang menjadi bentuk yang siap ditularkan melalui gigitan nyamuk.
Karena itu, Anopheles dirus dalam penelitian ini disebut sebagai vektor potensial malaria knowlesi di Langkat.
Perlu Pemantauan Lebih Intensif
Temuan di Langkat menjadi penting karena selama ini kasus malaria knowlesi pada manusia telah dilaporkan di Sumatera Utara, tetapi bukti dari sisi nyamuk yang berpotensi menularkannya masih terbatas.
Peneliti menilai masih banyak hal yang perlu dipelajari mengenai keberadaan Anopheles dirus di Sumatera, termasuk waktu menggigit, hewan yang menjadi sumber darahnya, serta faktor lingkungan yang memengaruhi persebarannya.
Penelitian dengan jumlah sampel yang lebih besar dan pemantauan nyamuk yang lebih intensif diperlukan untuk memastikan peran kedua spesies tersebut dalam penularan malaria.
Bagi Kabupaten Langkat, hasil penelitian ini menjadi pengingat pentingnya pemantauan penyakit yang dapat berpindah dari hewan ke manusia, khususnya di wilayah yang memiliki interaksi antara permukiman, perkebunan, hutan, dan habitat satwa liar.
Namun, temuan tersebut tidak dapat langsung diartikan sebagai peningkatan kasus malaria atau bukti bahwa nyamuk di seluruh wilayah Langkat telah menularkan malaria monyet.
Penelitian ini secara khusus dilakukan di Desa Ujung Bandar, Kecamatan Salapian. Hasilnya memberikan petunjuk awal mengenai potensi penularan malaria knowlesi di lokasi tersebut sekaligus menjadi dasar bagi penelitian dan pemantauan kesehatan masyarakat lebih lanjut.
Sumber: Mongabay Indonesia, 1 November 2026. Penelitian dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports.
Editor : Fadli


















Komentar