Para Ekstremis Kristen di Balik Serangan Trump ke Iran

- Pewarta

Minggu, 8 Maret 2026 - 16:32 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

☕ Traktir kopi buat penulis biar semangat
+ Traktir Kopi

Washington, Langkatoday.com – Kedekatan antara kelompok Kristen Evangelis di Amerika Serikat dengan Presiden Donald Trump kembali menjadi sorotan publik setelah beredar video doa bersama di Ruang Oval, Gedung Putih.

Dalam video yang beredar di media sosial, sejumlah pendeta dan pemimpin Kristen terlihat berkumpul di sekitar Trump sambil meletakkan tangan di bahunya dan memanjatkan doa. Momen tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan konflik yang melibatkan Iran di kawasan Timur Tengah.

Beberapa tokoh yang terlihat hadir di ruangan itu antara lain penasihat spiritual Trump, Paula White, pendeta megachurch asal California Greg Laurie, serta pemimpin evangelis Jentezen Franklin dan Johnnie Moore.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dukungan Evangelis pada Trump

Kelompok Kristen Evangelis memang telah lama menjadi salah satu basis dukungan politik terbesar bagi Trump. Pada Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2024, sekitar 80 persen pemilih Evangelis dilaporkan memberikan suara mereka kepada Trump.

Baca Juga:  Kepanikan bank mereda di Wall Street. Selanjutnya: Kepanikan Fed

Data Pew Research Center menunjukkan dukungan tersebut menyumbang sekitar 26 persen dari total suara yang mengantarkan Trump meraih kemenangan.

Survei lembaga yang sama pada 2025 juga mencatat bahwa sekitar 72 persen pemilih Protestan Evangelis kulit putih menyatakan puas terhadap kinerja Trump sebagai presiden.

Peran Tokoh Evangelis di Lingkaran Pemerintahan

Sejumlah tokoh Evangelis diketahui memiliki pengaruh dalam lingkaran pemerintahan Trump. Paula White, misalnya, memimpin Kantor Kepercayaan Gedung Putih dan kerap disebut sebagai salah satu penasihat spiritual presiden.

White juga dikenal sebagai tokoh yang sangat pro-Israel dan terlibat dalam sejumlah agenda diplomasi Timur Tengah, termasuk dukungan terhadap pemindahan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem serta inisiatif Abraham Accords.

Di sisi lain, sejumlah pengamat menilai bahwa pengaruh kelompok Evangelis semakin terlihat dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat, terutama terkait dukungan terhadap Israel dan sikap keras terhadap Iran.

Kritik dari Organisasi Sipil

Kedekatan antara politik dan agama ini juga menuai kritik dari sejumlah organisasi masyarakat sipil. Council on American-Islamic Relations (CAIR), organisasi advokasi Muslim terbesar di Amerika Serikat, menilai retorika yang bernuansa agama dalam konflik geopolitik dapat memperburuk ketegangan global.

Baca Juga:  Simpang Siur Pengiriman TNI ke Gaza: Media Israel Sebut Tetap Jalan, Jakarta Tegaskan "On Hold"

Menurut mereka, para pemimpin negara seharusnya berupaya meredakan konflik dan tidak menggunakan narasi yang dapat memicu sentimen terhadap kelompok agama tertentu.

“Perbedaan politik dengan pemerintah asing tidak boleh menjadi alasan untuk menyerang atau mendiskreditkan agama yang dianut miliaran orang di dunia,” tulis organisasi tersebut dalam pernyataan resminya.

Dinamika Politik dan Agama di AS

Fenomena kedekatan antara kelompok Evangelis dan pemerintahan Trump menunjukkan bagaimana faktor agama masih memainkan peran penting dalam dinamika politik Amerika Serikat.

Sejumlah analis menilai hubungan tersebut tidak hanya berkaitan dengan dukungan elektoral, tetapi juga memengaruhi narasi kebijakan luar negeri dan sikap geopolitik Washington di kawasan Timur Tengah.

Follow WhatsApp Channel langkatoday.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tragis! Pastor Tewas Tertimpa Salib Besar Saat Pimpin Misa yang Disiarkan Langsung
Gerindra Jurukunci Penyelesaian Polemik Ijazah Gibran
Kepuasan Publik terhadap Prabowo Bukan karena Pencitraan
Loyalis Jokowi Sentil Isu Pemakzulan Gibran: Pejabat Seharusnya Fokus pada Persoalan Rakyat
PSI Prediksi Gibran Jadi Presiden Usai Dampingi Prabowo Dua Periode
Gibranisti Sebut Desakan Pemakzulan Gibran sebagai Kejahatan Politik
Hermawan Merasa Dikhianati, Muscab PPP Medan Disorot: Calon Tunggal Tersingkir, Nama Baru Muncul
Rocky Gerung Tantang Pengkritiknya soal Wantimpres: Tunggu 10 Tahun, Kalian Bakal Minta Maaf!

Berita Terkait

Senin, 19 Oktober 2026 - 16:02 WIB

Tragis! Pastor Tewas Tertimpa Salib Besar Saat Pimpin Misa yang Disiarkan Langsung

Senin, 19 Oktober 2026 - 14:00 WIB

Gerindra Jurukunci Penyelesaian Polemik Ijazah Gibran

Senin, 19 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Kepuasan Publik terhadap Prabowo Bukan karena Pencitraan

Rabu, 14 Oktober 2026 - 04:14 WIB

Loyalis Jokowi Sentil Isu Pemakzulan Gibran: Pejabat Seharusnya Fokus pada Persoalan Rakyat

Selasa, 13 Oktober 2026 - 22:18 WIB

PSI Prediksi Gibran Jadi Presiden Usai Dampingi Prabowo Dua Periode

Terbaru