Kisah Orang Minang yang Koreksi Bacaan Alquran Imam Masjidil Haram

- Kontributor

Kamis, 20 Maret 2025 - 06:04 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Traktir kopi buat penulis biar semangat
+ Traktir Kopi

Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi 

MEDAN (Langkatoday) – Sejarah mencatat, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (wafat 1916) adalah seorang ulama besar Nusantara yang menjadi imam di Masjidil Haram, Makkah (Arab Saudi). Tokoh kelahiran Nagari Koto Gadang, Agam, Sumatra Barat, ini digelari sebagai ulama perintis ilmu. Sebab, ia berhasil mendidik murid-murid yang pada akhirnya menjadi penggerak perubahan di tengah umat.

Di antara santri-santrinya di Makkah adalah Muhammad Darwisy alias KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari. Masing-masing pada akhirnya mendirikan organisasi yang sampai kini terus berkiprah di Tanah Air, yakni Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).

Buku Cahaya dan Persatuan karya Dandang A Dahlan mengisahkan, nama Ahmad Khatib amat masyhur di kalangan warga Nusantara yang berhaji. Begitu pula dengan orang-orang Nusantara yang mukim dan belajar di Tanah Suci. Mereka ini kerap diistilahkan sebagai kaum Jawi.

Saat pulang ke Tanah Air, mereka menceritakan ihwal Syekh Ahmad Khatib sebagai pengajar di Masjidil Haram. Karena itu, mulai banyak orang Nusantara dari pelbagai daerah Indonesia yang pergi ke Makkah untuk belajar kepadanya.

Baca Juga:  Mengapa Tidak Ada Pesawat Terbang di Atas Ka'bah? Ini Penjelasannya

Sebaliknya, ada keuntungan pula bagi Syekh Ahmad Khatib terkait peningkatan minat orang-orang Nusantara belajar di Haramain. Khususnya mereka yang sama sepertinya, yakni berasal dari Minangkabau. Dari para santri Minang, imam Masjidil Haram ini dapat mengetahui lebih lanjut perkembangan dakwah Islam di Sumatra Barat, kampung halamannya sendiri.

Takdir Allah meneguhkan tokoh ini untuk terus mengabdikan ilmunya di al-Haram. Buya Hamka dalam risalahnya, Ayahku, mengisahkan bagaimana perjalanan Ahmad Khatib hingga pada akhirnya didaulat menjadi imam besar di Masjid Suci.

Pada suatu Ramadhan, Syarif ‘Awn ar-Rafiq yakni seorang tokoh Makkah menggelar acara buka puasa bersama. Ia mengundang para pembesar Haramain, termasuk mertua Ahmad Khatib, Syekh Saleh al-Kurdi.

Tiba waktunya berbuka puasa. Usai membatalkan shaum, semua orang hendak menunaikan shalat maghrib berjamaah.

Baca Juga:  Ancaman dari Allah untuk Pelaku Rencana Jahat

Tuan rumah yang juga guru besar di Masjidil Haram itu bertindak sebagai imamnya. Tanpa sengaja di tengah shalat, Syarif ‘Awn ar-Rafiq membacakan suatu ayat Alquran secara keliru. Ahmad Khatib muda yang ikut berjamaah di belakangnya lalu secara spontan membetulkan bacaan itu.

Usai shalat maghrib, para hadirin merasa heran. Sebab, tokoh sekaliber Syarif ar-Rafiq dikoreksi Ahmad Khatib muda, yang adalah seorang Jawi dan baru beberapa waktu saja mengajar di al-Haram.

Ternyata, Syarif ar-Rafiq mengakui kekeliruannya dan mengapresiasi koreksi dari Ahmad Khatib. Dia pun memuji kafasihan lidah orang Minang ini dalam melafalkan ayat Alquran.

Penghargaan Syarif ‘Awn ar-Rafiq tidak sampai di sana. Beberapa hari setelahnya, atas usulan tokoh tersebut Ahmad Khatib didaulat menjadi imam dan kemudian khatib mazhab fiqih Syafii di Masjidil Haram. Sejak saat itu, kala usianya 38 tahun, Ahmad Khatib berhak atas julukan syekh.

Sumber: republika

Follow WhatsApp Channel langkatoday.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Idul Adha 2026 di Langkat, Warga Rayakan Kebersamaan dan Semangat Berkurban
Sinergi Ulama-Umara: Bupati Syah Afandin Buka Dialog Keislaman MUI Langkat Bersama Tokoh Singapura
KUA Stabat Tetapkan Zakat Fitrah Tahun Ini Rp40 Ribu per Jiwa, Fidyah Rp15 Ribu per Hari
Jadwal Imsakiyah Ramadan 1447 H di Wilayah Kota Medan, Deli Serdang, Binjai, dan Langkat
Ustaz Das’ad Latif Soroti Politik Uang dan Peran DPRD di HUT Langkat ke-276
HUT ke-275 Langkat, Talk Show Pasutri Gaungkan Nilai Sakinah Mawaddah Warahmah
Suasana Haru dan Khusyuk Selimuti Haul Ke-102 Tuan Guru Besilam, Pengajian Menggetarkan Hati
Apakah Tenung, Santet, Sihir, dan Sejenisnya Benar-Benar Ada? Ini Pandangan Islam

Berita Terkait

Rabu, 27 Mei 2026 - 09:02 WIB

Idul Adha 2026 di Langkat, Warga Rayakan Kebersamaan dan Semangat Berkurban

Senin, 6 April 2026 - 21:40 WIB

Sinergi Ulama-Umara: Bupati Syah Afandin Buka Dialog Keislaman MUI Langkat Bersama Tokoh Singapura

Senin, 9 Maret 2026 - 06:59 WIB

KUA Stabat Tetapkan Zakat Fitrah Tahun Ini Rp40 Ribu per Jiwa, Fidyah Rp15 Ribu per Hari

Rabu, 18 Februari 2026 - 11:41 WIB

Jadwal Imsakiyah Ramadan 1447 H di Wilayah Kota Medan, Deli Serdang, Binjai, dan Langkat

Senin, 19 Januari 2026 - 12:07 WIB

Ustaz Das’ad Latif Soroti Politik Uang dan Peran DPRD di HUT Langkat ke-276

Berita Terbaru