BRIN Eksplorasi Pengetahuan Lokal Keuneunong di Aceh Selatan dan Aceh Besar

- Kontributor

Jumat, 27 Juni 2025 - 00:44 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Traktir kopi buat penulis biar semangat
+ Traktir Kopi

JANTHO (Langkatoday)Dalam upaya pelestarian dan revitalisasi pengetahuan lokal sebagai bagian penting dari sistem ketahanan pangan berkelanjutan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Iklim dan Atmosfer melaksanakan riset eksplorasi pengetahuan lokal tentang kalender budidaya pertanian tahun 2025. Penelitian ini berfokus pada sistem pengetahuan tradisional masyarakat Aceh yang dikenal sebagai Keuneunong.

Kegiatan riset dilakukan di Dinas Pertanian Tapaktuan dan Gampong Alurambot, Kabupaten Aceh Barat Daya (sebelumnya bagian dari Aceh Selatan), serta di Kantor BPP Lhoknga dan Gampong Ateuk Anggok, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar.

Penelitian ini diketuai oleh Dr. Elza Surmaini, S.P., M.Si. (BRIN), dan didukung oleh tim peneliti lintas disiplin dari berbagai institusi:

  • Prof. Dr. Phil. Abdul Manan, S.Ag., M.Sc., MA (UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
  • Dr. Yeli Sarvina, S.Si., M.Sc. (BRIN)
  • Yudi Riadi Fanggidae, S.Si., M.Si. (BRIN)
  • Rhino Ariefiensyah, S.Sos., M.E.A.P. (Universitas Indonesia)
  • Manguji Nababan, S.S., M.A. (Universitas HKBP Nommensen)

Tujuan utama riset ini adalah untuk menggali, mendokumentasikan, dan mengkaji ulang peran keuneunong sebagai pedoman masyarakat lokal dalam menentukan siklus tanam, waktu panen, serta pengelolaan pertanian berbasis tanda-tanda alam, seperti posisi bintang, arah angin, dan pola cuaca.

Baca Juga:  Banjir Langkat: 122 Ribu KK Terdampak, 11 Warga Meninggal, Pemerintah Lamban Bersikap

“Pengetahuan lokal seperti keuneunong adalah aset budaya dan ekologis yang sangat bernilai. Dengan mendekati petani dan tokoh lokal sebagai sumber utama, kita bisa memahami cara pandang yang holistik terhadap alam,” ujar Dr. Elza Surmaini.

Teungku Saddam dari Gampong Alurambot menyambut baik inisiatif ini:

“Sudah lama kami menggunakan keuneunong sebagai pedoman bertani. Tapi baru sekarang ada yang datang meneliti secara serius. Kami berharap hasilnya bisa memperkuat kembali cara kami bercocok tanam yang lebih sesuai dengan kondisi di sini.”

Hal senada disampaikan oleh Keuchik Gampong Ateuk Anggok, Syarbini, yang melihat riset ini sebagai bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal.

“Anak-anak muda sekarang banyak yang tidak tahu tentang keuneunong. Dengan riset ini, semoga pengetahuan ini tidak hilang dan bisa diwariskan kembali kepada generasi berikutnya,” tuturnya.

Para informan yang diwawancarai juga memberikan tanggapan positif. Abdurrauf, seorang petani senior dari Alurambot, menyampaikan bahwa keuneunong telah membantunya menghindari kerugian dalam bertani.

Baca Juga:  Uang Sudah Dikembalikan, Tapi Oknum Masih Aman? Dugaan Pungli Polisi Langkat jadi Paradox Penegakan Hukum

“Kalau kita tanam padi tanpa mengikuti keuneunong, bisa saja angin barat datang saat padi baru berbunga. Bisa gagal panen.”

Sementara itu, Cut Bit Mahdi Daud, seorang Tuha Peut dari Ateuk Anggok, menambahkan bahwa keuneunong juga mengatur kehidupan sosial masyarakat:

“Ada waktu-waktu tertentu yang bukan hanya melarang bertanam, tapi juga melarang menikah atau membuka lahan. Semua itu ada alasannya, bukan sekadar mitos kosong,” jelasnya.

Prof. Abdul Manan menekankan pentingnya integrasi keuneunong dalam literasi pertanian dan iklim:

“Tradisi seperti keuneunong adalah sistem pengetahuan lokal yang valid dan memiliki struktur ilmiah tersendiri. Ini bukan warisan mistis, tapi metode adaptif yang telah teruji oleh waktu.”

Ke depan, hasil riset ini akan dibukukan, dikembangkan dalam bentuk basis data digital, dan direkomendasikan sebagai referensi dalam pengembangan program pertanian berbasis komunitas. BRIN juga mendorong agar keuneunong diintegrasikan sebagai bagian dari strategi adaptasi perubahan iklim berbasis lokal.

Keuneunong adalah bahasa alam yang diterjemahkan oleh leluhur, menjadi petunjuk hidup yang lahir dari langit, dipraktikkan di ladang, dan diwariskan melalui lisan.

Follow WhatsApp Channel langkatoday.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KONI Kecamatan Binjai Gelar Pekan Olahraga Siswa 2026 Secara Gratis, Wujud Nyata Pembinaan Atlet Muda Berprestasi
Mahasiswi STKIP Al Maksum Sabet Dua Juara di MTQ PERTI Sumut
607 Sumur Minyak Rakyat di Langkat Bakal Dilegalkan dan Dikelola BUMD!
Dihempas Angin Kencang, Pohon Tumbang Dekat RM Cabe Ijo Stabat Timpa Ruko hingga Ambruk dan Picu Macet Parah
Raih WTP dari BPK RI, Syah Afandin: Ini Hasil Kerja Keras OPD yang Sudah Lama Saya Tunggu
Warga Kecamatan Binjai Kecewa, Legislator Fraksi Demokrat Dapil II Langkat Dinilai Tak Hadir Saat Aksi Jalan Rusak
Idul Adha 2026 di Langkat, Warga Rayakan Kebersamaan dan Semangat Berkurban
Syah Afandin Resmi Buka Jamcab Langkat, Pramuka Diminta Siap Hadapi Tantangan Masa Depan

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 14:08 WIB

KONI Kecamatan Binjai Gelar Pekan Olahraga Siswa 2026 Secara Gratis, Wujud Nyata Pembinaan Atlet Muda Berprestasi

Jumat, 5 Juni 2026 - 11:26 WIB

Mahasiswi STKIP Al Maksum Sabet Dua Juara di MTQ PERTI Sumut

Jumat, 5 Juni 2026 - 11:02 WIB

607 Sumur Minyak Rakyat di Langkat Bakal Dilegalkan dan Dikelola BUMD!

Rabu, 3 Juni 2026 - 20:02 WIB

Dihempas Angin Kencang, Pohon Tumbang Dekat RM Cabe Ijo Stabat Timpa Ruko hingga Ambruk dan Picu Macet Parah

Minggu, 31 Mei 2026 - 21:19 WIB

Raih WTP dari BPK RI, Syah Afandin: Ini Hasil Kerja Keras OPD yang Sudah Lama Saya Tunggu

Berita Terbaru