Jakarta, Langkatoday.com Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda membuat masyarakat di sejumlah wilayah perlu mewaspadai paparan abu vulkanik.
Berdasarkan analisis citra RGB Himawari-9 pada Ahad (6/9) pukul 06.00 WIB, BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik.
Klaster pertama terpantau dari permukaan hingga ketinggian 20.000 kaki dan bergerak ke arah timur laut hingga selatan, mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat serta perairan sekitarnya.
Sementara klaster kedua terpantau hingga ketinggian 50.000 kaki dan bergerak ke arah barat daya hingga barat laut, mencakup sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan serta Samudra Hindia.
Abu vulkanik terdiri dari partikel sangat halus yang dapat terbawa angin hingga jauh dari sumber erupsi. Karena itu, masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak perlu mengetahui langkah perlindungan apabila hujan abu terjadi.
Berikut 9 langkah yang dapat dilakukan saat abu vulkanik turun:
1. Gunakan masker saat keluar rumah
Kurangi aktivitas di luar ruangan. Jika harus keluar, gunakan masker yang mampu menyaring partikel dengan baik untuk mengurangi abu yang terhirup.
2. Tutup pintu, jendela dan ventilasi
Abu dapat masuk ke dalam rumah melalui berbagai celah. Tutup pintu, jendela dan ventilasi sebanyak mungkin selama hujan abu berlangsung.
3. Jangan menyapu abu dalam keadaan kering
Basahi permukaan terlebih dahulu sebelum membersihkan abu. Menyapu dalam kondisi kering dapat membuat partikel halus kembali beterbangan dan mudah terhirup.
4. Lindungi mata
Gunakan kacamata pelindung jika harus berada di luar. Bila mata terkena abu, jangan digosok. Segera bilas dengan air bersih.
5. Tutup makanan dan minuman
Makanan, minuman dan peralatan makan perlu dilindungi dari paparan abu. Bersihkan permukaan yang digunakan untuk menyiapkan makanan.
6. Kurangi aktivitas di luar ruangan
Jika tidak ada kebutuhan mendesak, tetap berada di dalam rumah hingga kondisi kembali aman, terutama ketika paparan abu cukup tebal.
7. Pengendara perlu ekstra hati-hati
Abu vulkanik dapat mengurangi jarak pandang dan membuat permukaan jalan licin. Pengendara, terutama sepeda motor, perlu meningkatkan kewaspadaan dan menunda perjalanan jika kondisi berbahaya.
8. Jangan abaikan gangguan pernapasan
Batuk, iritasi mata dan gangguan pernapasan dapat muncul setelah terpapar abu. Jika mengalami sesak napas atau iritasi berat, segera menjauh dari area terdampak dan mencari pertolongan medis.
9. Pantau informasi resmi
Arah sebaran abu dapat berubah mengikuti kondisi angin dan atmosfer. Masyarakat disarankan mengikuti informasi BMKG, PVMBG/Badan Geologi, BNPB, BPBD dan pemerintah daerah.
Masyarakat juga perlu memahami bahwa wilayah yang masuk dalam analisis sebaran abu tidak selalu berarti telah mengalami hujan abu di permukaan. Kondisi di setiap wilayah dapat berbeda.
Gunung Anak Krakatau masih berada dalam kondisi aktivitas tinggi. Badan Geologi sebelumnya melaporkan aktivitas erupsi dan menetapkan status Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga.
Dengan memahami langkah perlindungan tersebut, masyarakat dapat mengurangi paparan abu vulkanik sekaligus tetap mengikuti perkembangan informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Editor : Fadli













Komentar