Mantan Kepala BAIS TNI Kritik Penahanan Eks Pejabat KSOP Belawan oleh Kejati Sumut

- Kontributor

Jumat, 29 Mei 2026 - 15:48 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

☕ Traktir kopi buat penulis biar semangat
+ Traktir Kopi

Stabat, Langkatoday.com – Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, Laksamana Muda TNI (Purn) Soleman B. Ponto, mempertanyakan langkah Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejati Sumut) yang menetapkan dan menahan empat mantan pejabat Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Belawan dalam perkara dugaan korupsi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor jasa kepelabuhanan dan kenavigasian.

Pernyataan tersebut disampaikan Soleman usai menjenguk mantan Kepala KSOP Belawan berinisial RVL bersama tiga mantan pejabat lainnya di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Medan, Selasa (26/5).

Menurut Soleman, terdapat sejumlah aspek yang perlu dijelaskan secara terbuka oleh aparat penegak hukum, terutama terkait konstruksi hukum perkara, alat bukti yang digunakan, hingga dasar penghitungan kerugian negara yang menjadi landasan penyidikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Saya melihat persoalan yang dipersoalkan berkaitan dengan kewajiban kapal yang masuk ke daerah pemanduan. Namun perlu dipahami, kewajiban menggunakan jasa pandu tidak serta-merta berarti kewajiban pembayaran langsung kepada KSOP,” ujar Soleman kepada wartawan.

Ia menjelaskan, berdasarkan mekanisme yang berlaku, pembayaran jasa pemanduan dilakukan apabila petugas pandu telah naik ke kapal dan memberikan layanan pemanduan. Pembayaran tersebut, kata dia, diterima oleh operator pelabuhan, yakni PT Pelindo, bukan oleh KSOP.

“Kalau pandu tidak naik ke kapal, maka tidak ada pembayaran jasa pandu. Dan ketika pembayaran dilakukan, penerimanya adalah Pelindo. Karena itu saya mempertanyakan mengapa yang menjadi fokus justru pihak KSOP,” katanya.

Soleman menilai fungsi utama KSOP dalam konteks pemanduan kapal lebih menitikberatkan pada aspek keselamatan pelayaran sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran.

Menurutnya, ketentuan mengenai kewajiban menggunakan jasa pandu bertujuan menjamin keselamatan navigasi kapal di wilayah perairan tertentu, bukan semata-mata instrumen untuk penarikan biaya jasa kepelabuhanan.

“Undang-Undang Pelayaran adalah instrumen keselamatan. Kewajiban menggunakan pandu dibuat agar kapal dapat berlayar dengan aman. Sementara urusan pembayaran jasa pemanduan berada pada operator pelabuhan yang memberikan layanan tersebut,” ujarnya.

Atas dasar itu, Soleman berpendapat apabila terdapat dugaan kerugian negara yang timbul dari layanan jasa pemanduan, maka perlu ditelusuri secara komprehensif pihak-pihak yang memiliki keterkaitan langsung dengan penerimaan maupun pengelolaan pendapatan tersebut.

Di sisi lain, Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara menegaskan bahwa proses hukum yang sedang berjalan telah dilakukan sesuai ketentuan perundang-undangan.

Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasi Penkum) Kejati Sumut, Rizaldi, mengatakan penyidik telah memeriksa sejumlah pihak terkait, termasuk manajemen PT Pelindo.

“Pelindo dan General Manager-nya sudah diperiksa sebagai saksi. Perkara ini masih dalam tahap penyidikan dan telah dilakukan perhitungan kerugian keuangan negara. Dari hasil perhitungan tersebut ditemukan adanya kerugian negara,” kata Rizaldi saat dikonfirmasi.

Ia menegaskan penyidik masih terus mendalami perkara guna mengungkap seluruh fakta hukum yang berkaitan dengan dugaan tindak pidana korupsi tersebut.

Kasus dugaan korupsi PNBP jasa kepelabuhanan dan kenavigasian di Pelabuhan Belawan ini menjadi perhatian publik karena melibatkan sejumlah mantan pejabat strategis di lingkungan KSOP Belawan.

Hingga saat ini, proses penyidikan masih berlangsung dan Kejati Sumut menyatakan akan menuntaskan perkara tersebut sesuai mekanisme hukum yang berlaku.

Ikuti WhatsApp Channel Langkatoday Follow

Berita Terkait

Kades Pasar Rawa Gebang HM Minta Maaf, Wirdatul Akmal Resmi Cabut Laporan
KPK Geledah Bea Cukai Semarang, Uang Tunai Disita
Mobil Dinas RSUD Djoelham Binjai Diduga Menunggak Pajak, BPKPAD: Tidak Tercatat di Aset Pemko
MA Nyatakan Suket Gibran Tidak Sah, Denny Indrayana: Mas Gibran Mundur Deh
Yaqub Menyesal Beri Rp1 Miliar ke Ondim: Istri Sedang Hamil, Ibu Meninggal Saat Saya Ditangkap
KPK Periksa Tiga Pejabat Disdik dan Kades Ara Condong Terkait Kasus Syah Afandin
Anggota Polisi Diduga Bunuh Ibu Kandung di Siak, Terduga Pelaku Ditangkap
Tega! Marbot Masjid di Lampung Cabuli Gadis Disabilitas 5 Kali di Gudang

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 17:52 WIB

Kades Pasar Rawa Gebang HM Minta Maaf, Wirdatul Akmal Resmi Cabut Laporan

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 11:23 WIB

KPK Geledah Bea Cukai Semarang, Uang Tunai Disita

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 11:13 WIB

Mobil Dinas RSUD Djoelham Binjai Diduga Menunggak Pajak, BPKPAD: Tidak Tercatat di Aset Pemko

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 09:10 WIB

MA Nyatakan Suket Gibran Tidak Sah, Denny Indrayana: Mas Gibran Mundur Deh

Jumat, 30 Oktober 2026 - 10:04 WIB

Yaqub Menyesal Beri Rp1 Miliar ke Ondim: Istri Sedang Hamil, Ibu Meninggal Saat Saya Ditangkap

Terbaru

Chat via WhatsApp