Kuala Lumpur, Langkatoday.com – Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di Malaysia mendapatkan edukasi mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Internasional yang dilaksanakan tim dosen Institut Kesehatan Helvetia Medan.
Kegiatan tersebut berlangsung pada 10 Mei 2026 di Lorong 5 Sungai Mulia, Kuala Lumpur, Malaysia, dengan mengangkat tema “Penguatan Kapasitas Pekerja Migran Indonesia melalui Integrasi Keselamatan Kerja Era Digital.”
Program ini dilaksanakan bersama PCI NU Muslimah Malaysia di bawah naungan Komunitas Dosen Multidisiplin Indonesia. Tim pelaksana terdiri dari Cut Saura Salmira, SKM., MKM sebagai ketua, serta Nur Amalia, SKM., MKM dan Safrina Ramdhani, SKM., MKM sebagai anggota.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan dirancang untuk memberikan pengetahuan sekaligus keterampilan praktis kepada PMI dalam mengenali dan mencegah berbagai potensi bahaya yang dapat ditemukan di lingkungan kerja maupun rumah tangga.
Salah satu materi yang diberikan adalah pengenalan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang umum dijumpai dalam aktivitas rumah tangga.
Peserta diberikan pemahaman mengenai potensi bahaya bahan kimia, cara penggunaan yang aman, serta langkah pencegahan untuk mengurangi risiko kecelakaan dan gangguan kesehatan.
Selain materi B3, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai tanggap darurat kebakaran. Tim memberikan pemahaman mengenai tindakan awal ketika terjadi kebakaran, teknik pemadaman api skala kecil, hingga prosedur evakuasi apabila kondisi sudah tidak memungkinkan untuk ditangani secara mandiri.

Ketua tim PKM, Cut Saura Salmira, SKM., MKM, mengatakan edukasi K3 penting diberikan kepada pekerja migran karena mereka berhadapan langsung dengan berbagai potensi bahaya dalam aktivitas sehari-hari.
“Keselamatan dan kesehatan kerja bukan hanya penting di lingkungan industri atau perusahaan, tetapi juga di lingkungan rumah tangga. Para pekerja migran perlu memiliki kemampuan untuk mengenali potensi bahaya, memahami cara menggunakan bahan berbahaya secara aman, serta mengetahui tindakan yang tepat ketika terjadi keadaan darurat,” ujar Cut Saura, Rabu (13/5).
Menurutnya, kegiatan dirancang dengan pendekatan partisipatif agar peserta tidak sekadar menerima materi secara teoritis, tetapi juga dapat mempraktikkan tindakan keselamatan yang benar.
“Kami ingin peserta tidak hanya mengetahui teori tentang K3, tetapi juga mampu melakukan tindakan yang benar ketika menghadapi risiko, misalnya saat menemukan bahan kimia berbahaya atau ketika terjadi kebakaran kecil di rumah,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, edukasi dilakukan melalui sosialisasi interaktif, demonstrasi, simulasi, dan praktik. Peserta dilibatkan secara langsung sehingga materi yang diberikan dapat lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain K3, kegiatan juga mengintegrasikan literasi digital. Peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya memilih sumber informasi yang tepercaya serta meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk penipuan daring.
“Di era digital, kemampuan memilah informasi juga merupakan bagian dari keselamatan. Karena itu, kami mengintegrasikan literasi digital dengan edukasi K3 agar peserta semakin siap menghadapi risiko, baik di tempat kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Cut Saura.
Program tersebut juga memberikan edukasi mengenai pola hidup sehat dan keamanan pangan sebagai bagian dari upaya mendukung kesehatan serta kesejahteraan pekerja migran.
Cut Saura berharap pengetahuan yang diperoleh peserta tidak berhenti setelah kegiatan selesai, tetapi dapat diterapkan dan dibagikan kepada pekerja migran lainnya.
“Kami berharap pengetahuan yang diperoleh dapat dipraktikkan dan dibagikan kembali kepada lingkungan sekitar, sehingga semakin banyak pekerja migran yang memahami pentingnya keselamatan, kesehatan, dan kesiapsiagaan dalam menghadapi keadaan darurat,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, tim PKM menargetkan adanya peningkatan pemahaman PMI mengenai penerapan K3, terutama dalam mengidentifikasi B3 di lingkungan rumah tangga, melakukan tindakan awal pada kecelakaan, memahami tanggap darurat kebakaran, serta menerapkan teknik pemadaman api skala kecil secara tepat.
Program tersebut sekaligus mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin 8, khususnya target 8.8 mengenai perlindungan hak tenaga kerja dan penciptaan lingkungan kerja yang aman dan terlindungi bagi seluruh pekerja, termasuk pekerja migran.
Kegiatan PKM Internasional ini menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam memperkuat kapasitas pekerja migran Indonesia melalui pendidikan keselamatan yang aplikatif, sekaligus mendorong terbentuknya budaya K3 dan kesiapsiagaan menghadapi berbagai risiko di lingkungan kerja maupun kehidupan sehari-hari.
Editor : Fadli













Komentar