Langkat–Binjai Jadi Jalur Empuk Peredaran Narkoba, Ada Apa di Baliknya?

- Pewarta

Kamis, 21 Agustus 2025 - 06:31 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

☕ Traktir kopi buat penulis biar semangat
+ Traktir Kopi

STABAT (Langkatoday) – Penangkapan 190 kilogram sabu oleh Polda Sumut di perairan Langkat, Selasa (19/8/2025), kembali menyoroti persoalan lama: mengapa Kabupaten Langkat dan Kota Binjai seolah menjadi “surga” bagi para bandar narkoba?

Pengungkapan sabu senilai ratusan miliar itu bukanlah kasus pertama. Justru, kasus ini membuka tabir lebih besar bahwa Langkat–Binjai kini menjadi jalur strategis peredaran narkoba internasional, sekaligus lokasi konsumsi di tingkat lokal.

Jalur Laut yang Longgar

Perairan Langkat berbatasan langsung dengan Selat Malaka, salah satu jalur laut tersibuk di dunia. Kawasan ini kerap disebut rawan karena pengawasan terbatas, sedangkan jaringan internasional memanfaatkan kapal nelayan yang mudah keluar-masuk.

Dalam kasus terbaru, kapal yang digunakan bahkan dimodifikasi khusus untuk menyembunyikan sabu. Fakta ini menimbulkan pertanyaan: sejauh mana pengawasan maritim dan aparat laut di wilayah Langkat benar-benar efektif?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Seorang nelayan di Pangkalan Susu yang enggan disebutkan namanya mengaku, aktivitas kapal asing atau kapal besar kerap terlihat di perairan mereka.

“Kadang malam-malam ada kapal yang bukan nelayan lokal. Kami curiga, tapi siapa yang berani melapor kalau tidak ada jaminan keamanan?” ungkapnya kepada Langkatoday, Rabu (20/8/2025) malam.

THM dan Loket Narkoba: Bisnis Gelap yang Dibiarkan?

Selain jalur laut, temuan Polda Sumut mengenai peredaran narkoba di tempat hiburan malam (THM) menambah daftar panjang persoalan. Tiga THM disebut terlibat, dengan manajemen hingga pekerjanya ikut mengedarkan narkoba secara terbuka.

Baca Juga:  Tanjung Pura Wilayah Aceh? Pengamat Ungkap Fakta Sejarah yang Terlupakan

Lebih mengejutkan lagi, polisi menemukan gubuk-gubuk khusus di sekitar lokasi hiburan malam yang diduga disiapkan untuk transaksi dan konsumsi narkoba. Pola ini mirip dengan “loket narkoba” yang lazim ditemukan di wilayah lain di Sumut.

Pertanyaannya: apakah pemilik THM tidak mengetahui aktivitas tersebut? Atau justru ada pembiaran dari pihak tertentu?

Seorang aktivis anti-narkoba di Binjai menilai ada indikasi keterhubungan antara jaringan narkoba dengan oknum pemilik hiburan malam.

“Sulit membayangkan peredaran sebesar itu bisa terjadi tanpa ada yang melindungi. Harus diusut siapa aktor di balik layar, bukan hanya pelayan atau waiters yang ditangkap,” tegasnya.

Lima Modus, Bukti Jaringan Terorganisir

Dari hasil investigasi Polda Sumut, ada lima modus peredaran narkoba di Langkat–Binjai:

  1. Transaksi via laut dan darat.
  2. Loket/barak narkoba di perkebunan.
  3. Transaksi lewat media sosial (COD ekstasi).
  4. Peredaran di THM secara terbuka.
  5. Penggunaan tim pantau berlapis, bahkan anak di bawah umur dijadikan pengawas.

Keterlibatan anak-anak ini menandakan jaringan narkoba sudah merasuk ke ranah sosial-ekonomi masyarakat kecil, memanfaatkan kemiskinan dan rendahnya lapangan kerja.

Baca Juga:  Membuahkan Hasil..!! Laporan Terkait LHKPN Ajai Ismail Diterima KPK

Data Mencengangkan

Sepanjang Januari–Agustus 2025 saja, Polda Sumut mencatat 429 kasus dengan 534 tersangka. Barang bukti yang disita meliputi:

  • 206 Kg sabu
  • 70 ribu ekstasi
  • 9 ribu Happy Five (H5)
  • 170 gram kokain
  • ganja

Diperkirakan 1,53 juta jiwa terselamatkan, dengan nilai barang bukti mencapai Rp 298 miliar.

Namun angka itu menimbulkan pertanyaan lain: kalau yang berhasil ditangkap saja ratusan kilogram, berapa banyak yang lolos dan beredar di masyarakat?

Investigasi ini menemukan bahwa peredaran narkoba di Langkat–Binjai tidak bisa dilihat sebagai kasus per kasus. Ada tiga faktor kunci yang membuat daerah ini rawan:

  1. Posisi geografis strategis (akses laut dan darat yang luas).
  2. Lemahnya pengawasan dan dugaan pembiaran, baik di laut maupun di tempat hiburan.
  3. Kondisi sosial-ekonomi masyarakat yang membuat sebagian orang rentan direkrut sebagai kurir, pekerja loket, bahkan “tim pantau.”

Peredaran narkoba bukan hanya soal hukum, tapi juga masalah sosial. Jika aparat hanya fokus pada kurir kecil dan pekerja THM, aktor besar di balik layar akan tetap bebas. Penindakan tegas harus menyasar ke akar, bukan hanya permukaan.

(Tim Investigasi Langkatoday)

Editor : Fadli

Follow WhatsApp Channel langkatoday.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

HIMMAH Langkat Dukung Evaluasi Kinerja Kapolres, Soroti Dugaan Berbagai Aktivitas Ilegal
Tragis! Pastor Tewas Tertimpa Salib Besar Saat Pimpin Misa yang Disiarkan Langsung
Profil Kamaruddin Simanjuntak, Pengacara Brigadir Yosua yang Tutup Usia
Gerindra Jurukunci Penyelesaian Polemik Ijazah Gibran
Kepuasan Publik terhadap Prabowo Bukan karena Pencitraan
Respons Aspirasi Warga, Pemkab Langkat Pastikan Perbaikan Jalan di Kecamatan Binjai Masuki Tahapan Tender
Tiorita Dorong Perbaikan Tanggul Paya Bunder, Tim Provinsi Turun Survei
Soal Asap Karhutla, Menkes Minta Warga Mulai Berdaptasi

Berita Terkait

Senin, 19 Oktober 2026 - 22:10 WIB

HIMMAH Langkat Dukung Evaluasi Kinerja Kapolres, Soroti Dugaan Berbagai Aktivitas Ilegal

Senin, 19 Oktober 2026 - 16:02 WIB

Tragis! Pastor Tewas Tertimpa Salib Besar Saat Pimpin Misa yang Disiarkan Langsung

Senin, 19 Oktober 2026 - 14:16 WIB

Profil Kamaruddin Simanjuntak, Pengacara Brigadir Yosua yang Tutup Usia

Senin, 19 Oktober 2026 - 14:00 WIB

Gerindra Jurukunci Penyelesaian Polemik Ijazah Gibran

Senin, 19 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Kepuasan Publik terhadap Prabowo Bukan karena Pencitraan

Terbaru

Langkat Terkini

Pemkab Langkat Mulai Rancang Arah Pariwisata 20 Tahun ke Depan

Senin, 19 Okt 2026 - 20:40 WIB

Langkat Terkini

Tindak Lanjuti Sidak, Tiorita Apresiasi Pembenahan Kantor Camat Hinai

Senin, 19 Okt 2026 - 18:08 WIB