BMKG: Gempa Super Besar di Indonesia Tinggal Menunggu Waktu!

- Kontributor

Senin, 6 Oktober 2025 - 23:34 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Traktir kopi buat penulis biar semangat
+ Traktir Kopi

Gempa magnitudo besar yang pernah terjadi di Indonesia (BMKG)

Gempa magnitudo besar yang pernah terjadi di Indonesia (BMKG)

Jakarta, Langkatoday — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengingatkan potensi terjadinya gempa megathrust di dua wilayah rawan, yaitu Selat Sunda dan Mentawai-Siberut. BMKG menegaskan, fenomena ini bukan ramalan, melainkan “tinggal menunggu waktu”.

“Indonesia berada di wilayah rawan gempa. Jadi penting bagi masyarakat untuk memahami mitigasi gempa megathrust, yaitu gempa super kuat yang bisa memicu tsunami besar,” tulis BMKG melalui akun Instagram resminya, @infoBMKG, Sabtu (4/10).

Gempa megathrust merupakan gempa bumi berkekuatan sangat besar yang terjadi akibat pergerakan lempeng samudera Indo-Australia yang menyusup ke bawah lempeng benua Eurasia. Proses ini menyebabkan penumpukan energi di bawah permukaan bumi yang suatu saat dapat dilepaskan dalam bentuk gempa besar bahkan tsunami.

BMKG mencatat, kekuatan gempa megathrust bisa mencapai magnitudo di atas 8, seperti yang pernah terjadi di Aceh tahun 2004 dan Jepang tahun 2011. Getarannya bisa menimbulkan kerusakan luas dan gelombang tsunami puluhan meter.

Segmen Seismic Gap yang Diam Sejak Ratusan Tahun

Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menyebut dua segmen megathrust yang kini diam sejak ratusan tahun lalu—yakni Selat Sunda (terakhir aktif 1757) dan Mentawai-Siberut (terakhir aktif 1797)—menyimpan energi besar yang siap dilepaskan kapan saja.

Baca Juga:  Awan Pelangi Muncul di Bogor, BMKG: Fenomena Optik Langka dan Indah

“Kedua wilayah ini sudah ratusan tahun belum terjadi gempa besar. Jadi secara geologis, potensi energinya masih tersimpan dan pasti akan dilepaskan suatu saat,” ujar Daryono.

Kondisi ini disebut sebagai seismic gap, yakni zona patahan aktif yang lama tidak melepaskan energi sehingga berpotensi menjadi sumber gempa besar di masa depan.

Pakar Unand: Indonesia di Cincin Api Dunia

Pakar Teknik Sipil Struktur Tahan Gempa Universitas Andalas (Unand), Fauzan, menambahkan bahwa posisi Indonesia yang berada di Ring of Fire membuat potensi gempa megathrust tak terhindarkan.

“Kawasan cincin api Pasifik adalah pertemuan tiga lempeng besar—Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik—yang selalu bergerak. Pergerakan inilah yang menimbulkan gempa, letusan gunung berapi, dan tsunami,” jelas Fauzan.

Menurutnya, zona megathrust Mentawai-Siberut merupakan salah satu yang paling berbahaya di dunia, karena sudah lebih dari dua abad tidak melepaskan energi besar. Potensinya bahkan bisa mencapai magnitudo 9.

Jakarta Bisa Kena Dampak

Meski pusat gempa berada jauh di laut, Jakarta disebut tetap berpotensi merasakan dampaknya. Plt Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan bahwa kondisi tanah di Jakarta yang lunak bisa memperkuat getaran gempa besar dari jarak jauh.

Baca Juga:  Pramono-Rano Menang Satu Putaran, hanya Versi SMRC

“Tanah lunak dapat memperkuat gelombang gempa. Jadi, meskipun sumbernya jauh, guncangannya bisa terasa kuat,” ujar Dwikorita.

Hal ini membuat BMKG meminta pemerintah pusat dan daerah untuk memastikan gedung-gedung tinggi di Jakarta memenuhi standar struktur tahan gempa.

Dampak dan Mitigasi

“Selain gempa, ancaman utama megathrust adalah korban,” ujarnya. tsunami besar yang bisa menyapu daerah pesisir Sumatra Barat, Lampung, Banten, hingga Bali. Dampaknya bisa meluas hingga merusak ekosistem pesisir, menghancurkan infrastruktur, dan menelan banyak korban jiwa.

Untuk itu, BMKG terus memperkuat sistem peringatan dini tsunami, serta mengadakan program edukasi seperti Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami (SLG), BMKG Goes To School (BGTS), dan pembentukan Masyarakat Siaga Tsunami.

Peneliti BRIN, Nuraini Rahma Hanifa, menegaskan pentingnya kapasitas adaptasi masyarakat agar risiko bencana bisa ditekan.

“Kita tidak bisa mengontrol pergerakan bumi, tapi kita bisa memperkuat kesiapan dan pengetahuan masyarakat agar tidak menjadi korban,” ujarnya.

Hidup Berdampingan dengan Megathrust

Menurut Nuraini, ancaman megathrust bukan untuk ditakuti, tapi dipahami.

“Kita harus belajar hidup berdampingan dengan megathrust. Indonesia adalah negara kepulauan yang berdiri di atas pertemuan lempeng. Kesiapsiagaan adalah kunci,” pungkasnya.

Follow WhatsApp Channel langkatoday.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Usai Prabowo Bicara MBG di Forum Rusia, Media Rusia Soroti Kasus Dugaan Keracunan
Xanana Gusmão Kagumi Pemerataan Pembangunan Era Jokowi, Sebut Visinya Melampaui Jawa
Bareskrim Ungkap Jaringan Judi Online Manfaatkan Spam Komentar Media Sosial
Wamen Komdigi: Film Bisa Jadi Medium Literasi Bahaya Pinjol Ilegal
Bukan Cuma Soal PWI, Dewan Pers Mulai Bongkar Tata Kelola HPN 2027
Hercules Turun ke Jalan Usai Demo DPR, Kuasa Hukum Ungkap Alasannya
Prabowo Yakin Indonesia Bangkit: Beberapa Tahun Lagi Tidak Akan Ada yang Bisa Bendung Kita
Tiorita Promosikan Produk Unggulan Langkat di APKASI Otonomi Expo 2026

Berita Terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 09:46 WIB

Usai Prabowo Bicara MBG di Forum Rusia, Media Rusia Soroti Kasus Dugaan Keracunan

Sabtu, 5 September 2026 - 09:34 WIB

Xanana Gusmão Kagumi Pemerataan Pembangunan Era Jokowi, Sebut Visinya Melampaui Jawa

Jumat, 4 September 2026 - 11:20 WIB

Bareskrim Ungkap Jaringan Judi Online Manfaatkan Spam Komentar Media Sosial

Kamis, 3 September 2026 - 04:06 WIB

Wamen Komdigi: Film Bisa Jadi Medium Literasi Bahaya Pinjol Ilegal

Selasa, 1 September 2026 - 15:55 WIB

Bukan Cuma Soal PWI, Dewan Pers Mulai Bongkar Tata Kelola HPN 2027

Berita Terbaru