Jakarta, Langkatoday.com – Badan Gizi Nasional (BGN) mengusulkan agar pendidikan gizi dimasukkan secara resmi ke dalam kurikulum sekolah. Langkah ini bertujuan agar siswa tidak hanya menerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG), tetapi juga memahami pentingnya asupan gizi seimbang bagi kesehatan dan pertumbuhan tubuh.
Kepala BGN, Sudaryono, mengatakan pendidikan gizi idealnya menjadi bagian dari proses pembelajaran di sekolah, seperti halnya Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes).
Melalui pendidikan tersebut, siswa diharapkan memahami fungsi berbagai zat gizi, mulai dari karbohidrat, protein, vitamin, mineral, hingga manfaat mengonsumsi sayur dan buah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Diajarkan kenapa orang harus makan karbo, apa pentingnya karbohidrat, kenapa orang harus makan sayur, apa pentingnya buah, vitamin, mineral, kenapa mesti protein, satu orang tuh makan protein harus berapa, dan lain sebagainya,” ujar Sudaryono melalui akun Instagram pribadinya, @sudaru_sudaryono, sebagaimana dikutip Rabu (28/10).
Menurut BGN, pemahaman tentang gizi penting agar program MBG tidak hanya berfokus pada penyediaan makanan, tetapi juga membangun kebiasaan makan sehat sejak usia sekolah.
Selain mengusulkan pendidikan gizi masuk kurikulum, BGN juga menguji coba pengaturan waktu makan dalam program MBG dengan menerapkan konsep prasmanan di sekolah.
Pelaksanaannya disesuaikan dengan jadwal belajar siswa. Untuk siswa sekolah dasar (SD) kelas awal yang pulang lebih cepat, makanan dibagikan sebelum mereka meninggalkan lingkungan sekolah.
Sementara itu, sekolah dengan jam belajar hingga siang hari diusulkan menyediakan waktu khusus sekitar satu jam untuk makan sekaligus mempelajari gizi secara langsung.
Sudaryono menyebut uji coba konsep prasmanan tersebut mendapat sambutan positif dari siswa dan pihak sekolah. Berdasarkan survei kepuasan yang disampaikan, program itu memperoleh nilai sekitar 4,56 dari skala maksimal 5.
BGN juga menilai konsep prasmanan berpotensi mengurangi sisa makanan atau food waste. Melalui mekanisme ini, setiap siswa tetap mendapatkan porsi sesuai standar kebutuhan gizi yang telah ditentukan, tetapi dapat mengambil tambahan apabila masih tersedia makanan setelah pembagian porsi awal.
“Jadi tetap orangnya dikasih porsi yang sama, karena ada takaran gizinya. Tapi begitu sudah ditakar semua biasanya ada spare, Pak. Nah, itu boleh nambah, Pak,” jelas Sudaryono.
Dengan pendekatan tersebut, BGN berharap program MBG dapat memberikan manfaat lebih luas, tidak hanya dalam pemenuhan kebutuhan gizi siswa, tetapi juga dalam membentuk pemahaman mengenai pola makan sehat, kebiasaan menghabiskan makanan secukupnya, dan pentingnya mengurangi pemborosan pangan.
Meski demikian, usulan memasukkan pendidikan gizi ke dalam kurikulum masih perlu ditindaklanjuti melalui pembahasan dengan pihak terkait sebelum dapat diterapkan secara resmi di sekolah.
Editor : Fadli













Komentar