Indonesia Buka Kerja Sama Teknologi dengan AS, Kedaulatan Digital Tetap Jadi Prioritas

- Pewarta

Rabu, 9 September 2026 - 10:08 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

☕ Traktir kopi buat penulis biar semangat
+ Traktir Kopi

Menkomdigi Meutya Hafid didampingi Sekjen Komdigi Ismail dan Dirjen Ekosistem Digital Edwin Hidayat melakukan pertemuan dengan Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) Kedutaan Besar AS untuk Indonesia Joy M. Sakurai di Kementerian Komdigi, Jakarta. (foto: Humas Menkomdigi)

Menkomdigi Meutya Hafid didampingi Sekjen Komdigi Ismail dan Dirjen Ekosistem Digital Edwin Hidayat melakukan pertemuan dengan Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) Kedutaan Besar AS untuk Indonesia Joy M. Sakurai di Kementerian Komdigi, Jakarta. (foto: Humas Menkomdigi)

Jakarta, Langkatoday.com – Pemerintah Republik Indonesia membuka ruang lebih luas untuk memperkuat kerja sama teknologi dengan Amerika Serikat (AS), khususnya dalam pengembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) dan pelindungan anak di ruang digital.

Meski membuka diri terhadap perkembangan teknologi global, pemerintah menegaskan bahwa setiap bentuk kerja sama dan penerapan teknologi harus tetap berada dalam koridor kepentingan nasional serta memberikan manfaat dan perlindungan bagi masyarakat.

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menyampaikan hal tersebut saat bertemu dengan Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Joy Sakurai, di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Jakarta Pusat, Selasa (8/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Teknologi harus memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena itu, kerja sama dan penerapannya harus tetap berada dalam kerangka kepentingan nasional, termasuk memastikan masyarakat mendapatkan ruang digital yang aman,” ujar Meutya.

Indonesia Siapkan Tata Kelola AI Berbasis Risiko

Dalam pertemuan tersebut, Indonesia dan Amerika Serikat membahas sejumlah agenda strategis di bidang digital, salah satunya pengembangan kecerdasan artifisial.

Pemerintah saat ini tengah menyiapkan kerangka tata kelola AI yang mengatur pengembangan dan pemanfaatan teknologi berdasarkan tingkat risikonya.

Langkah tersebut dinilai penting mengingat tingkat adopsi AI di Indonesia terus meningkat, terutama di kalangan generasi muda.

Baca Juga:  Prediksi Uzbekistan vs Kolombia: Debutan Asia Ditantang Los Cafeteros di Grup K Piala Dunia 2026

Meutya menegaskan, regulasi yang disiapkan pemerintah bukan ditujukan untuk menghambat inovasi teknologi.

“Peta jalan AI disusun untuk melengkapi tingkat adopsi kecerdasan artifisial yang sangat tinggi di Indonesia, terutama di kalangan generasi muda. Kami menghadirkan regulasi berbasis risiko bukan untuk menghambat inovasi, melainkan membangun rasa aman dan kepercayaan publik terhadap teknologi,” tegasnya.

Dalam kerangka tersebut, penggunaan AI akan diklasifikasikan berdasarkan tingkat risiko, mulai dari risiko yang tidak dapat ditoleransi, risiko tinggi hingga risiko rendah.

Penerapan regulasi nantinya akan disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing sektor melalui aturan sektoral.

Pelindungan Anak Jadi Perhatian

Selain AI, pembahasan Indonesia dan AS juga menyentuh persoalan pelindungan anak di ruang digital.

Pemerintah memilih pendekatan berbasis risiko dan usia, bukan melakukan pemblokiran secara total terhadap akses anak terhadap ruang digital.

Meutya menjelaskan, pemerintah akan membatasi kepemilikan akun mandiri anak berdasarkan tingkat risiko platform digital.

Untuk platform dengan tingkat risiko tinggi, akses mandiri ditujukan bagi pengguna berusia minimal 16 tahun. Sementara platform dengan tingkat risiko lebih rendah memiliki batas usia 13 tahun.

“Kami membatasi akses mandiri hingga usia 16 tahun untuk platform digital berisiko tinggi dan usia 13 tahun untuk risiko rendah,” jelasnya.

Baca Juga:  Majelis Taklim Al Haura Sumut Dukung Gerakan “GASS POL Tolak Judol”, Ajak Kaum Ibu Jadi Benteng Keluarga

Pemerintah juga mendorong perusahaan teknologi besar melakukan perubahan terhadap desain produk agar lebih ramah anak.

Langkah tersebut antara lain mencakup pembatasan durasi penggunaan layar serta pembatasan akses komunikasi dengan orang asing tanpa persetujuan orang tua.

AS Tawarkan Dukungan Pengembangan AI

Dalam pertemuan itu, pihak Amerika Serikat menyambut langkah Indonesia dalam memperkuat tata kelola ruang digital.

AS juga menawarkan sejumlah bentuk kerja sama, termasuk melalui AI Export Center di San Francisco, dukungan tenaga ahli, serta asistensi dalam implementasi kecerdasan artifisial bagi instansi pemerintah Indonesia.

Kerja sama tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas Indonesia dalam memanfaatkan perkembangan teknologi sekaligus membangun sistem tata kelola yang mampu mengantisipasi berbagai risiko digital.

Bagi pemerintah, keterbukaan terhadap teknologi global tidak berarti Indonesia harus kehilangan kendali atas kepentingan nasional.

Kedaulatan digital justru diarahkan pada kemampuan negara untuk memastikan aturan, penerapan teknologi, perlindungan infrastruktur strategis serta keamanan masyarakat tetap berada dalam kendali nasional.

Dengan demikian, kerja sama teknologi dengan negara lain diharapkan tidak sekadar mendorong percepatan transformasi digital, tetapi juga memastikan masyarakat Indonesia menjadi penerima manfaat utama dari perkembangan teknologi tersebut.

Editor : Fadli

Follow WhatsApp Channel langkatoday.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Huawei Nova 16s Series 5G Resmi Hadir di Indonesia, Harga Mulai Rp11,99 Juta
OPPO A7 Pro Series 5G Hadir di Indonesia, Harga Mulai Rp7,49 Juta
ProArt Terbaru Resmi Masuk Indonesia
Aksi Greenpeace di Bundaran HI Viral, Pencarian di Google Melonjak hingga 5.000 Persen
Indonesia-Malaysia Sepakat Batasi Media Sosial untuk Anak di Bawah 16 Tahun
Tragis! Pastor Tewas Tertimpa Salib Besar Saat Pimpin Misa yang Disiarkan Langsung
Telkom Resmi Spin-Off Bisnis Fiber Rp85,7 Triliun ke InfraNexia
Tun Dr Siti Hasmah, Istri Mahathir Mohamad, Meninggal Dunia di Usia 100 Tahun

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 13:34 WIB

Huawei Nova 16s Series 5G Resmi Hadir di Indonesia, Harga Mulai Rp11,99 Juta

Kamis, 22 Oktober 2026 - 13:43 WIB

OPPO A7 Pro Series 5G Hadir di Indonesia, Harga Mulai Rp7,49 Juta

Kamis, 22 Oktober 2026 - 13:28 WIB

ProArt Terbaru Resmi Masuk Indonesia

Rabu, 21 Oktober 2026 - 14:22 WIB

Aksi Greenpeace di Bundaran HI Viral, Pencarian di Google Melonjak hingga 5.000 Persen

Rabu, 21 Oktober 2026 - 07:13 WIB

Indonesia-Malaysia Sepakat Batasi Media Sosial untuk Anak di Bawah 16 Tahun

Terbaru

Regional

Suyudi Sebut Bahagia Rangkap Jabatan Kapolri dan Kepala BNN

Sabtu, 24 Okt 2026 - 20:44 WIB

Langkat Terkini

Tiorita Ajak Masyarakat Langkat Bersatu Lawan Narkoba

Jumat, 23 Okt 2026 - 17:21 WIB