4 Tahun Langkatoday
EKBISNasional

Rupiah Tembus Rp17.703 per Dolar AS, Pengamat Soroti Efek Timur Tengah dan Impor Pangan

Tim Langkatoday
1485
×

Rupiah Tembus Rp17.703 per Dolar AS, Pengamat Soroti Efek Timur Tengah dan Impor Pangan

Sebarkan artikel ini
channel whastapp langkatoday

Jakarta, Langkatoday.com – Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (19/5). Mata uang Garuda ditutup melemah ke level Rp17.703 per dolar AS atau turun 35 poin dibanding penutupan sebelumnya di posisi Rp17.680.

Bahkan sepanjang perdagangan hari ini, rupiah sempat menyentuh titik terendah dengan pelemahan hingga 70 poin sebelum akhirnya ditutup di level tersebut.

Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen global dan faktor domestik yang masih menekan pasar keuangan Indonesia.

“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 35 poin, sebelumnya sempat melemah 70 poin di level Rp17.703 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.680,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (19/5).

Menurut Ibrahim, salah satu faktor utama datang dari ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Pasar disebut masih khawatir terhadap situasi pasca Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunda rencana serangan militer terhadap Iran demi membuka ruang negosiasi nuklir.

Meski Trump menyebut peluang tercapainya kesepakatan cukup besar, pasar global disebut masih bersikap hati-hati karena Selat Hormuz yang menjadi jalur penting distribusi minyak dunia dinilai belum sepenuhnya aman.

Selain itu, kebijakan Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang memperpanjang pengecualian sanksi minyak Rusia selama 30 hari juga ikut menjadi perhatian pasar global.

“Ketidakpastian ini membuat dolar AS tetap perkasa. Di sisi lain, penutupan Selat Hormuz memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global yang berujung pada tekanan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” jelas Ibrahim.

Tidak hanya faktor eksternal, Ibrahim juga menyoroti tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor pangan sebagai salah satu penyebab tekanan terhadap rupiah.

Ia menyebut sejumlah komoditas strategis nasional masih sangat bergantung pada impor, seperti gandum yang sepenuhnya impor, kedelai sekitar 90 persen, bawang putih 95 persen, gula sekitar 60 persen, hingga daging sapi dan kerbau sekitar 54 persen.

Menurutnya, pelemahan rupiah otomatis membuat biaya impor semakin mahal karena transaksi mayoritas menggunakan dolar AS.

“Kondisi pelemahan rupiah ini otomatis meningkatkan biaya impor. Pada akhirnya, peningkatan biaya impor ini berisiko menimbulkan kenaikan harga pangan di dalam negeri,” katanya.

Ia menambahkan kondisi tersebut berpotensi memicu imported inflation atau inflasi impor akibat lemahnya nilai tukar dan tingginya ketergantungan terhadap barang impor.

Untuk perdagangan besok, Ibrahim memprediksi rupiah masih bergerak fluktuatif namun cenderung kembali melemah.

“Untuk perdagangan besok, rupiah kemungkinan besar ditutup melemah di rentang Rp17.700 hingga Rp17.750 per dolar AS,” pungkasnya.