MUI: Korban Bom Bunuh Diri di Pakistan Mati Syahid

Bom bunuh diri di Peshawar, Pakistan. – (AP Photo/Zubair Khan)

Langkatoday.com – Serangan bom bunuh diri menyasar sebuah masjid di kompleks kepolisian di Peshawar, Pakistan, Selasa (31/12). Sejauh ini, otoritas setempat menyebut ada 100 korban jiwa akibat bom mematikan itu.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof Sudarnoto Abdul Hakim, menyampaikan duka yang mendalam kepada warga Pakistan yang terdampak bom bunuh diri. Bom bunuh diri yang terjadi di Masjid Pakistan ini menimbulkan banyak korban jiwa pada warga yang sedang melakukan ibadah shalat.

“MUI mengucapkan duka dan belasungkawa mendalam kepada semua keluarga korban dan Pemerintah Pakistan. Inna lillahi wa inna ilaihim rajiun. Allahummagh firlahum warhamhum wa afihim wa’fu anhum,” tulis Prof Sudarnoto Abdul Hakim seperti dikutip laman Republika, Rabu (1/2/2023).

Seorang korban ledakan di Masjid dibawa ke rumah sakit di Peshawar, Pakistan, Senin (30/1/2023) dini hari. Sedikitnya 28 jemaah tewas dan puluhan lainnya luka-luka dalam ledakan saat shalat di Masjid yang terletak di garis polisi di Peshawar, Ghulam Ali, | EPA-EFE/ARSHAD ARBAB

Sudarnoto berdoa warga Pakistan yang sedang melakukan shalat dan menjadi korban bom bunuh diri, mendapat pahala dari Allah sebagai mati syahid.

“Insya Allah mereka yang wafat saat melakukan ibadah shalat dimasukkan dalam surga-Nya sebagai syuhada,” katanya.

Prof Sudarnoto mengatakan, MUI dan umat Islam Indonesia memandang bom bunuh diri adalah perbuatan nista dan terkutuk karena tidak saja melanggar ajaran agama. Dia menegaskan, bom bunuh diri juga telah menistakan hak-hak kemanusiaan. “Ini adalah dosa besar,” katanya.

Dia menuturkan, atas peristiwa ini, ada spekulasi yang berkembang bahwa pelakunya adalah kelompok garis keras yang selama ini berhadapan dengan pemerintah, yaitu Tahreek-e Taliban Pakistan. Kelompok ini disinyalir terinspirasi oleh Taliban di Afghanistan yang berhasil memegang kendali kekuasaan dan menerapkan syariat Islam.

“Sukses Taliban Afghanistan menjadi inspirasi dan motivasi Taliban Pakistan,” katanya.

Kelompok ISIS juga dianggap bertanggung jawab atas bom bunuh diri di masjid tersebut. Ideologi ISIS adalah ‘Global Caliphate’/kekhalifahan global. ISIS di Khurasan (ISIS-K) juga melakukan teror dan pengeboman di masjid Syiah di Afghanistan beberapa hari setelah Taliban berhasil menguasai Afghanistan.

“Kelompok ini dinilai memanfaatkan situasi politik dan keamanan yang memburuk di Pakistan, untuk kepentingan ideologi mereka dengan tindakan teror di Pakistan,” kata dia.

Bagi MUI, siapa pun pelakunya dan apa pun motifnya, bunuh diri dan sekaligus membunuh dan menyengsarakan orang banyak serta merusak ketenteraman, apalagi di tempat ibadah adalah tindakan pengecut dan tercela. Tidak ada alasan sedikit pun untuk membenarkan tindakan brutal ini.

“Pengebom masjid adalah teroris dan ekstremis, musuh bersama semua orang,” katanya.

Pada kesempatan ini, Prof Sudarnoto ingin mengingatkan semua orang, apa pun agama dan bangsanya agar terus meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan timbul dan berkembangnya kelompok teroris dan ekstremis ini. Dia menegaskan, kelompok ini bisa muncul di mana-mana.

Sementara itu, dilansir dari laman Business Recorder, korban jiwa akibat aksi bom bunuh diri di Masjid Peshawar, Pakistan, mencapai 100 orang. Puluhan kerabat terlihat putus asa berupaya memadati area rumah sakit.

Bom yang menghancurkan masjid saat dalam keadaan penuh sesak menjalankan Shalat Zhuhur ini menewaskan 97 polisi dan tiga warga sipil. Serangan yang terjadi di kompleks kepolisian itu merupakan yang paling mematikan dalam satu dekade. Kota di wilayah barat laut yang bergolak ini berlokasi dekat dengan perbatasan Afghanistan, serta kerap terjadi gelombang kekerasan terhadap polisi.

“Putraku, anakku,” teriak seorang wanita tua yang berjalan di samping ambulans yang membawa peti mati, saat petugas penyelamat membawa orang-orang yang terluka ke unit gawat darurat rumah sakit.

Sedikitnya, ada 170 orang dilaporkan terluka dalam ledakan itu. Aksi tidak bertanggung jawab ini menghancurkan hingga dinding atas masjid, saat ratusan jamaah sedang melakukan Shalat Zhuhur.

Seorang pejabat senior pemerintah daerah, Riaz Mashud, mengatakan bahwa jumlah korban kemungkinan akan bertambah karena para petugas terus melakukan pencarian melalui puing-puing.

“Sejauh ini, 100 jenazah telah dibawa ke Rumah Sakit Lady Reading,” kata juru bicara fasilitas medis terbesar di kota itu, Mohammad Asim, dalam sebuah pernyataan dikutip di Business Recorder, Rabu (1/2/2023).

Menteri Dalam Negeri Pakistan, Rana Sanaullah, mengatakan kepada parlemen bahwa sebanyak 97 dari 100 orang korban meninggal dunia itu adalah petugas polisi. Pihak berwenang mengatakan, mereka tidak tahu bagaimana pelaku bom berhasil menembus pos pemeriksaan militer dan polisi, yang mengarah ke Distrik Police Lines.

Wilayah ini merupakan sebuah perkemahan mandiri era kolonial di pusat kota, yang menjadi rumah bagi personel polisi berpangkat menengah dan bawah bersama keluarga mereka. Mengingat masalah keamanan di Peshawar, masjid tersebut dibangun untuk memungkinkan polisi melaksanakan shalat tanpa meninggalkan daerah tersebut.

Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif mengatakan, pelaku bom berada di barisan atau saf pertama ketika dia menyerang. Serangan itu adalah yang paling mematikan di Peshawar, sejak pengeboman bunuh diri kembar di Gereja All Saints, yang menewaskan puluhan jamaah pada September 2013. Hal ini juga dianggap sebagai serangan paling mematikan terhadap minoritas Kristen.

Kota Peshawar berada di tepi tanah suku Pashtun, wilayah yang terperosok dalam kekerasan selama dua dekade terakhir. Kelompok militan paling aktif di wilayah itu adalah Taliban Pakistan, Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP).

TTP merupakan sebuah kelompok untuk Sunni dan faksi Islam, sektarian yang menentang pemerintah di Islamabad. Tidak ada kelompok yang secara resmi mengeklaim serangan itu. Tetapi, Sanaullah mengatakan, sebuah faksi sempalan dari TTP bernama Khurasani mengaku bertanggung jawab.

TTP menolak bertanggung jawab meskipun telah meningkatkan serangan sejak menarik diri dari kesepakatan damai dengan pemerintah tahun lalu. Kebijakan untuk membebaskan militan di bawah amnesti sebagai bagian dari kesepakatan telah menghasilkan aksi pengeboman.

Informasi dan kerjasama bisa dikirim via e-mail: [email protected]

Bacaan Lainnya: