Medan, Langkatoday.com – Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menanggapi polemik ijazah SMA Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang kembali menjadi sorotan publik. Bobby menyarankan agar persoalan ijazah Gibran juga mencakup pendidikan sarjananya.
Pernyataan itu disampaikan Bobby saat ditemui di kantornya, Jumat (9/10). Ia mengaku mengetahui Gibran sebagai seorang sarjana.
“Ya, Mas Gibran setahu saya sarjana,” kata Bobby.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bobby kemudian membandingkan polemik ijazah Gibran dengan persoalan ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), yang merupakan mertuanya.
Menurut Bobby, persoalan yang diperdebatkan dalam kedua kasus tersebut berbeda. Polemik terkait Gibran menyangkut ijazah SMA, sedangkan yang dipersoalkan dalam kasus Jokowi adalah ijazah sarjana.
“Ya kalau Pak Jokowi kan yang dipermasalahkan sarjananya. Ini Mas Gibran yang dipermasalahkan (ijazah) SMA-nya. Saran saya sekalian saja dipermasalahkan sarjananya,” ujarnya.
Pernyataan Bobby muncul di tengah perdebatan mengenai latar belakang pendidikan Gibran. Namun, persoalan tersebut perlu dibedakan antara pertanyaan mengenai dokumen pendidikan dan kesimpulan hukum mengenai keabsahannya.
Sebelumnya, Gibran juga menanggapi polemik tersebut ketika mengunjungi pameran Inacraft di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (7/10).
Ia menyatakan tidak mungkin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi apabila tidak lulus SMA.
“Ya kalau saya enggak lulus SMA, kan saya enggak mungkin bisa kuliah,” kata Gibran.
Gibran juga menyebut dirinya menempuh pendidikan sarjana di Singapura dan menyatakan akan menindaklanjuti persoalan yang menjadi sorotan tersebut.
“Saya kan kuliah sampai S1 juga di Singapura. Ya itu. Nanti segera kami follow up, ya,” ujarnya.
Ia menegaskan menghormati proses yang berlangsung di Mahkamah Konstitusi (MK) dan tetap akan berfokus menjalankan tugasnya sebagai wakil presiden serta mendukung program Presiden RI.
Sementara itu, ketika ditanya mengenai upaya pemakzulan terhadap Gibran, Bobby memilih menyoroti persoalan ekonomi dan kebutuhan dasar masyarakat.
Menurutnya, pemerintah perlu memberikan perhatian terhadap warga yang masih menghadapi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Wah, itu ya, hari ini yang perlu kita pikirkan itu masyarakat, ya. Masyarakat hari ini masih banyak yang kondisinya kesulitan. Masih banyak masyarakat yang mengeluhkan kebutuhan-kebutuhan dasarnya. Saya rasa yang harus diutamakan itu,” kata Bobby.
Pernyataan Bobby tersebut menempatkan polemik pendidikan Gibran dalam konteks perdebatan publik yang lebih luas.
Meski demikian, kepastian mengenai dokumen pendidikan maupun konsekuensi hukumnya harus merujuk pada dokumen resmi dan proses hukum yang relevan.
Editor : Fadli













Komentar