IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

Dari Sumatera ke Surabaya: Sebuah Perjalanan Mengubah Cara Pandang

“Kadang-kadang, cara terbaik untuk mengenal diri sendiri adalah dengan pergi sejauh mungkin dari rumah.”

Keputusan Untuk Merantau

Berubah untuk menjadi lebih baik tentu memiliki banyak cara, tetapi saya lebih memilih salah satu dari cara tersebut yaitu dengan merantau.

Bagi saya merantau adalah sebuah pilihan besar dalam hidup saya, karena bukan saja ingin berubah ke lebih baik, namun saya juga harus menyiapkan mental sebagai modal utama dalam perantauan.

Meninggalkan zona nyaman dari segala kebutuhan yang serba ada, ini adalah penderitaan bagi siapapun yang memilih jalur kepahitan.

Pergi jauh hingga ribuan kilometer bukan perkara yang mudah, mengingat saya adalah anak terakhir dari enam bersaudara, tentu bukan saya saja yang merasakan kerinduan yang tak terbendungkan itu, ayah dan ibu jauh lebih rindu daripada yang saya rasakan saat ini.

Ibarat buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, saya pun demikian. Ayah dan ibu saya adalah seorang perantau dulunya, mau tidak mau, suka tidak suka, anak-anaknya pun demikian.

Satu persatu dari kami anak-anaknya pergi keluar dari tempat nyamannya dengan berbagai alasan yang sangat diterima, yaitu alasan pernikahan.

Memang sebaiknya jika sudah menikah lebih baik untuk tinggal mandiri dan menjalani bahtera rumah tangga yang terkadang dari segi ekonomi berada dibawah dan diatas. Agar segala kesulitan dan kesusahan itu mampu untuk belajar mengatasi dan mencari solusinya sendiri, tanpa melibatkan orang tua lagi.

Namun ada yang berbeda alasan dari anak terakhir yang keluar dari rumah ternyamannya. Menariknya, alasan yang diidamkan sejak lima tahun yang lalu, baru terealisasi setelah orang tua menginjak usia yang tidak tergolong muda.

Tentu alasannya sangat berbeda dari kakak dan abang kandungnya, bukan alasan karena menikah, tetapi untuk melanjutkan studi setingkat lebih tinggi dari kedua orangtuanya.

Perihal merantau, saya pernah bertanya kepada salah seorang sahabat dekat ayah saya. Waktu itu saya menjadi driver nya dengan tujuan keluar kota. Ketika perjalanan pulang, langit sore hari itu begitu menusuk sinarnya menembus dari arah kiri, untung saja kaca mobilnya sudah dilapisi solar gard, jadinya tidak terlalu bias terhadap penumpang didalamnya.

Saat itu mobil melaju dengan kecepatan normal 80 km/jam di dalam tol, membuat penumpang di baris kedua secara tidak sengaja tertidur dengan nyamannya. Pada saat yang sama pula saya mulai membuka topik pembicaraan. Yaa, memang dari dulunya saya lebih suka berdiskusi secara empat mata, karena merasa lebih ekslusif ditambah dialognya bisa jadi lebih mendalam, dan mendapatkan jawaban yang lebih spesifik dari yang diinginkan.

Saya bertanya kepada beliau, “Pak, umur yang masih muda ini, mana yang lebih baik, merantau atau dirumah membantu orang tua ?” kemudian beliau menjawab dengan sebuah analogi sederhana,

“Seorang yang memancing ikan ditengah lautan yang luas, tentu akan mendapatkan tangkapan ikan yang jauh lebih banyak dan beragam, daripada pemancing yang memberi umpannya di danau atau di sungai”.

Tentu jawaban sederhananya membuktikan bahwa beliau sudah sangat mengenal bagaimana kondisi keluarga saya dari sejak awal ayah saya merantau.

Beliau sahabat akrab ayah saya sudah lama, yang mana ketika mengobrol dan saling bertukar cerita, seakan-akan jarum jam analognya yang berada di sudut ruangan, terus menunjukkan pukul 20.00 malam dan tetap pada posisinya bahkan tidak berubah sedikitpun, belakangan baru diketahui kalau jam dinding tersebut baterainya sudah habis.

Hari Pertama yang Mengubah Segalanya

Apa yang diekspetasikan tidak selalu sama dengan kenyataannya. Awalnya saya mengira bahwa kuliah S2 tidak seburuk apa yang dikatakan orang, yaitu dengan segala cerita kesusahan mereka dalam belajar, karena menurut keyakinan saya adalah hal yang wajar jika menemukan kesulitan-kesulitan dalam menempuh setiap mata pelajarannya.

Tapi ketika itu saya ingat betul pada tanggal 05 Februari 2025, seolah-olah saya sudah berada di luar negeri, sebab jarang terdengar di telinga saya teman-teman dikelas ketika berbicara menggunakan bahasa Indonesia.

Peristiwa tersebut benar-benar mengejutkan batin saya, karena disamping sulitnya belajar pada tahap ini, saya juga harus mempelajari budaya dan bahasa Jawa. Saya harus mampu memahami ketika berdiskusi di kelas dengan sedikit campuran antara bahasa Indonesia dan Jawa.

Fakta baru yang juga mengejutkan bagi saya adalah hanya saya sendiri yang berasal dari pulau Sumatera di dalam kelas tersebut. Ini membuat mental petarung yang sudah lama terkubur, secara paksa saya mencoba untuk bangkit dan menghadapi sebuah realita yang tidak dapat saya undur secara sengaja maupun tiba-tiba. Sebab pilihan ini, adalah pilihan pribadi saya.

Tiba-tiba saya teringat kata-kata ayah saya di sela-sela diskusi dengan temannya, bahwa ayah saya dalam awal perjalanan perantauannya, berusaha untuk mensugesti dirinya sendiri untuk tetap tegar dan kuat dengan mengatakan:

“saya tidak tau apa-apa ketika merantau sebesar ini ujian dan cobaannya, yaa makannya mau tidak mau saya harus tetap menjalaninya”

Sejenak terpikir oleh saya, bahwa orang-orang jaman dulu tidak banyak yang suka mengeluh atas segala rintangan kehidupan yang dihadapinya.

Menariknya dengan merantau saya mengetahui kelemahan dan kekurangan yang selama ini tidak saya sadari, yang bertahun-tahun terus saya kubur dalam-dalam dan menutup mata atas kejumudan intelektual yang telat diketahui.

Suasana dikelas sangat memberikan saya syok terapi yang membius diri saya setiap kali masuk kelas.

Obrolan yang berkelas, kosa kata yang beragam, diksi kalimat yang sangat bagus dalam setiap penjelasan, argumentasi yang saling berbalas, dan pola berfikir yang mendalam dan selalu out of the box, kesemua itu tidak saya dapatkan jika tidak merantau. Karena kalau saya ingin berkata lebih jujur, bahwa peradaban Indonesia itu memang dimulai dari pulau Jawa. Pulau lainnya hanya memiliki keragaman budaya, bukan peradaban.

Minggu Pertama yang Penuh Keraguan

Minggu pertama ini adalah hari-hari tersulit saya mengikuti kelas pascasarjana. Saya terus mempertanyakan ke diri saya, apakah ini hanya mimpi?, pertanyaan tersebut terus saya ulang-ulang sambil menatap langit-langit kamar dikeheningan malam.

Keragu-raguan untuk terus berjalan pada zona yang jauh dari kata nyaman ini, terus berdesing ditelinga saya, seakan-akan ingin membuat saya mundur ketika berhadapan pada kesulitan pertama.

Sangking pusingnya dalam mengikuti pola diskusi yang sangat aktif dalam kelas, saya memiliki cara yang sangat efektif untuk menurunkan stress dalam pikiran secara sedikit demi sedikit. Yaitu ketika kelas telah usai, saya usahakan minimal tiga kali atau lebih ketika pulang dari kampus saya berjalan kaki sejauh 3 km, kira-kira menghabiskan waktu satu setengah jam.

Sambil berjalan, saya juga mengamati setiap gedung dan ruko yang berdiri dengan gagahnya sepanjang jalan yang dilalui.

Melihat arus pulang orang yang selesai bekerja dari perkantoran di sore hari, mengamati ragam jenis kendaraan yang berbahan bakar bensin, solar, dan listrik, menghafal letak-letak kafe yang aestetik sebagai list kunjungan yang menarik untuk disinggahi, mengingat posisi indomaret dan alfamart sebagai tempat penyelamat lambung dan keringnya tenggorokan dari rasa lapar yang datang secara tiba-tiba, dan memperhatikan tempat rumah makan dan hotel/apartemen dari harga yang terendah dan menengah keatas yang suatu waktu saya punya kesempatan untuk mendatangi tempat-tempat tersebut.

Pernah suatu hari saya benar-benar bingung, diselimuti pikiran yang penuh dengan segala pertimbangan ini dan itu, ketika sudah makan malam dan setelah selesai sholat maghrib, saya putuskan untuk keluar malam dengan berjalan kaki, menggunakan jaket tebal agar tidak masuk angin. Ini pertama kali pada waktu itu, saya berjalan kaki 3 km ketika matahari sudah bersembunyi dibalik rembulan.

Bisingnya pikiran atas dugaan yang belum tentu pasti, saya menghantamnya dengan memakai headset bluetooth sambil memutar musik dari list spotify dengan volume sedang, guna untuk mewanti-wanti jika ada pergerakan dari orang yang tidak dikenal secara tiba-tiba datang dari belakang saya.

Benar adanya, aktivitas berjalan kaki itu memang sangat powerfull untuk mencairkan padatnya pikiran-pikiran yang berjalan tanpa arah di kepala saya.

Kebiasaan ini yang membuat saya terus bertahan ketika menghadapi segala tahap demi tahap rintangan dan proses peningkatan berfikir dan bernalar dalam proses belajar.

Planga Plongo di Tongkrongan

Kultur budaya dalam tongkrongan ini, bisa dibilang sangat kontras menurut pengalaman pribadi saya antara kampus ketika S1 dengan kampus ketika S2 saya saat ini (UIN Sunan Ampel, Surabaya).

Ketika dulu saya kumpul-kumpul bareng dikantin atau dimana saja yang cocok untuk nongkrong, jarang pembahasannya mengarah pada mata pelajaran yang telah dilewati.

Sedikit banyaknya berbicara tentang mengolah-ngolah agar bisa memiliki pemasukan dari acara yang dibuat di dalam lingkungan kampus, dan berbicara tentang organisasi-organisasi yang paling kuat dan lemah pengaruhnya dalam dunia perpolitikan kampus.

Menariknya, ketika saya berkuliah di pulau Jawa, dalam setiap tongkrongan dengan teman-teman, mereka pada mengulang mata pelajaran yang sudah dijalani di dalam kelas, dibahas terus sampai tidak ditemukan lagi ujung pembahasannya sudah sampai dimana, diskusi tentang literatur yang menarik, saling lempar argumentasi, dan kadang-kadang ada teman yang merekomendasikan buku-buku yang menarik untuk dibaca lebih komprehensif untuk pendalaman pengetahuan secara otodidak.

Tentu, dengan sedikitnya pengalaman saya mengenai diskusi-diskusi yang interaktif, membuat saya terlihat sangat gugup, dan minim pengetahuan pada awal-awal berinteraksi dan berbaur dengan teman-teman perkuliahan.

Meskipun begitu, tidak saya jauhi lingkungan yang membuat mental saya down. Tetap saya dekati mereka, memahami cara pola berfikir mereka, mencoba membaca buku apa yang telah mereka baca.

Walaupun saya direndah-rendahkan, suatu saat saya akan lawan!. Ungkapan tersebut terlihat mirip dengan presiden Indonesia yang telah menjabat sebanyak dua periode dari tahun 2014-2024.

Setiap ajakan ngopi saya tidak pernah absen, seperti kewajiban sholat lima waktu yang terus diusahakan untuk tidak pernah saya tinggalkan. Menariknya disetiap tongkrongan, baik itu di warkop maupun di coffee shop, selalu ada insight baru yang saya dapatkan, dari diskusi teman-teman ataupun kenalan orang baru.

Lambat laun, dikemudian hari, saya sudah mulai terbiasa dengan obrolan yang berdaging, bahkan waktupun terasa kurang ketika apa yang didiskusikan terlalu menarik untuk dinegasikan.

Membiasakan Yang Tidak Biasa

Kegiatan membaca bukan sesuatu yang baru didalam kehidupan saya. Tetapi itu akan menjadi sesuatu yang baru, ketika kegiatan membaca menjadi rutinitas harian saya.

Tentu untuk mengubah pola lama yang telah berakar, sangat sulit untuk membuat pola baru yang jarang dilakukan. Nantinya, pola tersebut akan berubah menjadi bagian dari kehidupan, dibutuhkan ketekunan dan kesabaran yang besar dalam prakteknya.

Kebiasaan baru ini tidak serta-merta datang secara tiba-tiba dalam hidup saya. Ibarat ikan di air, ikan itu punya dua alasan untuk naik sedikit lebih tinggi keatas permukaan air.

Pertama ada sebagian ikan yang naik keatas permukaan air untuk mengambil udara, dan sebagian yang lain tidak terlalu naik keatas, namun sedikit lebih tinggi dari tempat persembunyiannya, untuk memakan umpan yang dipasang oleh si pemancing.

Dalam kasus saya, teman-teman saya memancing saya untuk lebih rajin membaca buku. Memang tidak secara inklusif mereka mengajak ataupun menyuruh untuk rajin membaca, tetapi saya terpancing dari ruang-ruang diskusi ditongkrongan, yang membuat segala sudut ruangan di otak saya dipenuhi oleh ragam wawasan pemikiran, sehingga saya harus terus mengisinya hari demi hari, agar otak saya selalu diisi bacaan-bacaan terbarukan dan belajar memahami pov dari setiap masalah-masalah yang ada.

Kebiasaan membaca, lama-lama menjadi nadi kehidupan saya, sebab rasa malu akan ketidaktahuan dalam sebuah tongkrongan, membuat saya sangat terpukul, menandakan malasnya saya dalam membaca literasi-literasi yang menarik untuk dibaca.

Dengan banyak membaca, seolah-olah kehadiran dalam sebuah tongkrongan dianggap ada wujudnya, sebab seorang pembaca tulen, mampu beragumentasi dengan sumber daftar pustaka yang jarang diketahui oleh orang-orang yang berada dalam tongkrongan tersebut.

Sebagai penutup, sehebat apapun motivasi yang dimiliki, akan kalah dengan disiplin yang selalu dilakukan setiap hari, meskipun dengan volume yang kecil. Karena impian untuk memiliki satu milyar, bermula dari uang seribu rupiah yang terus dikumpulkan setiap harinya.

IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Tutup
HUT RI