Iklan Bapenda Sumut
iklan bapenda
HUT RI
Sajian Khusus

Antara Ketajaman Intelektual dan Kerumitan Birokrasi

Nashrullah
12
×

Antara Ketajaman Intelektual dan Kerumitan Birokrasi

Sebarkan artikel ini

Suatu perjalanan, selalu dimulai dengan ketidaktahuan yang pasti, seseorang hanya mampu memprediksi, namun ketika bicara soal akhir, yang diekspetasikan itu bisa jadi benar, bisa juga keliru. Untuk memperoleh segala sesuatu juga begitu, selalu ditemukan kesukaran dalam menapaki sebuah babak baru.

Dalam realitasnya, untuk meraih sebuah pencapaian selalu ada jalan pintas untuk mempercepat akselarasi tersebut,  di satu sisi kepraktisan bisa menjadi kartu AS dari sebuah proses yang panjang dan lama, tetapi di pov yang lain itu bisa menjadi bom waktu yang sangat berbahaya jika tidak cepat disadari oleh suatu individu.

Ambil contoh misalkan dalam belajar, jika seorang mahasiswa memiliki tugas untuk membuat makalah dan akan dipresentasikan, namun pekerjaan tersebut mulai dikerjakannya satu hari sebelum hari -H, maka dalam prosesnya, dia akan menggunakan kepraktisan tersebut untuk menggugurkan kewajibannya pada hari esok.

Tentu yang demikian sangat efektif jika dilihat dari efisiensi waktu. Tetapi akan menjadi kesalahan besar jika praktek tersebut terus diulang-ulang. Secara tidak langsung, kepraktisan dalam belajar sama dengan mendangkalkan nalar berfikir. Karena belajar membutuhkan banyak variabel dan butuh waktu yang tidak sebentar, dibutuhkan sebuah analisa, perenungan yang lama, dan saling mengaitkan segala informasi yang ada dipikiran kemudian di ramu menjadi sebuah barang yang baru atau disebut juga sebagai sebuah novelty.

Dewasa ini, kepraktisan dalam belajar seringkali diagung-agungkan, faktanya para pemikir dari Muslim, yang belajarnya tidak terikat oleh batasan waktu, banyak sekali pemikiran-pemikiran yang mereka hasilkan, dan tidak sedikit karangan mereka terus eksis melintasi berbagai zaman.

Pada era yang serba cepat ini, kedalaman berfikir adalah kelangkaan yang nyata bagi dunia akademisi. Menurut hemat saya, mahasiswa tidak sepenuhnya salah dalam mempraktekkan keringkasan waktu dalam belajar, bagi saya mereka adalah korban dari kebijakan-kebijakan kampus tempat mereka belajar. Kaprodi akan terus menggenjot para mahasiswa untuk melakukan akselerasi yang sangat instan, tentu dalam hal ini adanya hubungan simbiosis mutualisme, akreditasi prodi akan memiliki rating yang bagus karena sedikitnya mahasiswa abadi, dan mahasiswanya akan dianggap jenius dan pintar antar sesama teman sejawatnya.

Padahal itu hanyalah sebuah kompetisi untuk menyelesaikan birokrasi yang ruwet, bukan sebagai ajang kehebatan intelektual. Dikhawatirkan nantinya kesan selama belajar yang berbekas bukan kedalaman bernalar tetapi kesusahan dalam melengkapi administrasi kelulusan dan kerumitan menghadapi birokrasi kampus.

Saya tidak sedang mengatakan kalau yang lama lulus lebih baik,dan yang cepat lulus tidak lebih baik, itu persoalan yang lain, karena banyak faktor yang mempengaruhi kondisi tersebut. Yang menjadi persoalan adalah mahasiswa yang mendewakan AI dalam menyelesaikan segala tugas-tugasnya.

Menjadikan AI sebagai sumber primer, akan lebih baik jika AI dijadikan sebagai sebuah relasi dan menjadi sumber sekunder untuk membantu menawarkan ide-ide yang relevan pada masa sekarang. Karena dengan AI segala pembacaan dibuat menjadi lebih ringkas, tetapi penalaran yang panjang dan belajar untuk memahami segala pov dari berbagai sudut, akan sukar dijelaskan jika sudah terbiasa menggunakan AI. Sebab keunikan itu hanya muncul dari kondisi emosional yang pernah dirasakan, bukan yang berbasis data.

Perlu ditekankan bahwa kepraktisan akan cocok bila disandingkan dengan kerumitan birokrasi karena outputnya untuk mengefisiensi waktu. Tetapi apabila kepraktisan tersebut dihadapkan dengan proses belajar, itu akan mendangkalkan pikiran, dan berkurangnya belajar memahami pov dari sebuah masalah, dan outputnya bisa dikatakan sebagai siluman intelektual, atau meminjam istilah dari ustadz saya dulu dalam nasehatnya yaitu, “jangan menjadi penuntut ilmu bayangan”. Maksudnya adalah statusnya pelajar, tetapi kegiatannya main sana sini, lebih banyak tidurnya, mencontek dalam ujian, dan tidak jujur dengan diri sendiri.

Adapun banyaknya tulisan yang dipublikasikan belum tentu menjamin penulisnya memiliki kedalaman bernalar dengan baik, karena bisa jadi dalam prosesnya tidak jujur dengan kualitas diri, sehingga terkesan memaksa untuk mampu meningkatkan kuantitas dalam publikasi.