Saat Kaur Keuangan Diduga jadi “Algojo” Anggaran Dana Desa di Langkat

- Pewarta

Selasa, 6 Mei 2025 - 10:14 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

☕ Traktir kopi buat penulis biar semangat
+ Traktir Kopi

STABAT (Langkatoday) – Dana Desa adalah mandat undang-undang. Ia bukan hadiah, bukan hibah, apalagi alat tawar-menawar. Melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, negara secara tegas mengalokasikan Dana Desa untuk membangun dari pinggiran, memperkuat desa sebagai entitas otonom yang berdaya dan bermartabat. Namun celakanya, semangat itu seringkali dibelokkan oleh segelintir pejabat yang menjadikan kewenangan sebagai alat pemerasan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kasus dugaan pungutan liar yang menyeret oknum Kabid Pemdes Langkat, dengan dugaan keterlibatan sejumlah Kaur Keuangan Desa adalah cerminan telanjang dari penyalahgunaan jabatan. Tindakan seperti ini tidak hanya mencederai etika birokrasi, tetapi juga berpotensi melanggar Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang menyebutkan:

“Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan, atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan, yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara paling lama 20 tahun dan/atau denda paling banyak Rp1 miliar.”

Apa yang lebih terang dari itu? Jika benar ada permainan sistematis yang melibatkan pemotongan dana, manipulasi R-APBDes, hingga kegiatan “titipan” yang disusupkan melalui Kaur Keuangan Desa, maka ini bukan sekadar pelanggaran administratif—ini adalah indikasi kuat tindak pidana korupsi yang harus diselidiki secara serius oleh aparat penegak hukum.

Baca Juga:  Anak-anak Revolusi yang Kini Bungkam: Ketika Daya Gugat Sipil Melemah dan Demokrasi Diambang Bahaya

Ketika jabatan dijadikan alat untuk memalak, maka demokrasi lokal yang diidamkan dalam semangat UU Desa sejatinya sedang dibunuh pelan-pelan. Maka wajar jika publik menuntut: periksa seluruh Kaur Keuangan Desa se-Kabupaten Langkat—karena dari merekalah dugaan “pintu masuk” penggerogotan Dana Desa terbuka lebar.

Kepala boleh berganti, tapi penyakit lama di tubuh birokrasi Pemerintah Kabupaten Langkat tampaknya belum juga sembuh. Belum genap 100 hari masa kerja Bupati baru, publik sudah disuguhi pemandangan memalukan: aksi unjuk rasa mahasiswa menggugat Dinas PMD Langkat, menuntut pencopotan pejabat dan investigasi atas dugaan penyalahgunaan wewenang.

Pusat pusaran masalah kali ini mengarah pada Kabid Pemdes berinisial Ard. Ia dituding memalak setiap desa sebesar Rp1 juta untuk memuluskan pencairan Dana Desa tahun anggaran 2025. Yang mengejutkan bukan hanya jumlahnya, tapi pola permainannya. Sumber internal menyebut, permainan ini tidak dilakukan lewat prosedur resmi, melainkan melalui jalur sunyi: Kaur Keuangan Desa.

Baca Juga:  Melayat Ke Non Muslim, Antara Ranah Sosial dan Ibadah

Ya, Kaur Keuangan. Pejabat tingkat desa yang seharusnya menjaga akuntabilitas anggaran, justru diduga menjadi pintu masuk utama permainan busuk ini. R-APBDes yang telah disepakati bisa diutak-atik lagi demi memasukkan “kegiatan titipan” dari atas. Tanpa musyawarah ulang, tanpa transparansi. Hanya cukup satu jalur: komunikasi diam-diam antara Kabid dan Kaur.

Sistem ini tidak lahir semalam. Ia tumbuh dalam budaya diam, ketakutan, dan ketergantungan. Para Kades lebih takut pada Kabid daripada Kadisnya sendiri. Karena dalam praktiknya, yang mengendalikan uang bukan lagi pemimpin desa, melainkan aktor bayangan yang bersembunyi di balik jabatan teknis.

Sudah waktunya ini dihentikan. Jika Pemkab Langkat benar-benar ingin menegakkan pemerintahan yang bersih dan berpihak pada rakyat, maka audit menyeluruh terhadap Kaur Keuangan Desa se-Langkat adalah langkah awal yang tidak bisa ditunda.

Kaur bukan sekadar pelaksana teknis, tapi kini justru menjadi titik krusial dalam pusaran dugaan korupsi Dana Desa. Pemeriksaan menyeluruh dan terbuka akan menjadi ujian serius bagi integritas pemerintahan saat ini. Jangan biarkan dana rakyat terus digerogoti lewat celah yang dibiarkan terbuka.

Kalau dibiarkan, maka bukan hanya Dana Desa yang rusak—kepercayaan publik pun akan ikut ambruk. (rel/yong)

Follow WhatsApp Channel langkatoday.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perlahan Tapi Pasti, Langkat Tunjukkan Tren Positif dari Tahun ke Tahun
“Seikhlasnya, Tapi Ada Tarifnya”, Kisah Receh dari Puskesmas Stabat
Tanggap Darurat Diperpanjang, Wakil Rakyat Justru Mengungsi ke Luar Daerah
Tak Punya Empati! Banjir Belum Surut, Mayoritas Anggota DPRD Langkat Pergi Kunjungan Kerja
Hampir Seluruh Nahdliyin Sepakat Gus Yahya Diberhetikan sebagai Ketum PBNU
Alun-Alun Stabat yang Berubah Jadi Kolam, Cermin Buram Tata Kota Langkat
Ketika Wakil Rakyat Lupa Menjadi Teladan
Dulu Dicopot Karena Tahanan Kabur, Kini Kapolres Langkat Dituding Tutup Mata atas Skandal Besar!

Berita Terkait

Senin, 13 April 2026 - 06:45 WIB

Perlahan Tapi Pasti, Langkat Tunjukkan Tren Positif dari Tahun ke Tahun

Kamis, 9 April 2026 - 09:28 WIB

“Seikhlasnya, Tapi Ada Tarifnya”, Kisah Receh dari Puskesmas Stabat

Kamis, 4 Desember 2025 - 21:33 WIB

Tanggap Darurat Diperpanjang, Wakil Rakyat Justru Mengungsi ke Luar Daerah

Kamis, 4 Desember 2025 - 14:10 WIB

Tak Punya Empati! Banjir Belum Surut, Mayoritas Anggota DPRD Langkat Pergi Kunjungan Kerja

Sabtu, 22 November 2025 - 17:28 WIB

Hampir Seluruh Nahdliyin Sepakat Gus Yahya Diberhetikan sebagai Ketum PBNU

Terbaru