MEDAN, Langkatoday.com – Pelaksanaan Manajemen Festival (MANFEST) V3 di Kampus IV Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), Tuntungan, Rabu (4/11), menjadi perbincangan di media sosial. Kegiatan yang menghadirkan sejumlah penampil musik tersebut menuai beragam respons, terutama terkait identitas UINSU sebagai perguruan tinggi yang membawa nilai-nilai keislaman.
Berdasarkan informasi dari panitia, rangkaian hari ketiga MANFEST V3 menghadirkan sejumlah pengisi acara, di antaranya Human After Rain, Nartok, serta Diskoyoks X Pasming Based. Penampilan musik tersebut menarik perhatian mahasiswa yang memadati area kegiatan.
Namun, sejumlah potongan video dan dokumentasi acara yang beredar di media sosial justru memunculkan perdebatan di kalangan warganet.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagian warganet mempertanyakan kesesuaian konsep hiburan tersebut dengan identitas UINSU sebagai kampus Islam. Bahkan, muncul komentar yang menyebut UINSU mulai mengarah liberal.
Kritik lainnya menyoroti persoalan aturan berpakaian dan penerapan ketentuan berhijab bagi mahasiswi di lingkungan kampus.
Di sisi lain, terdapat pula warganet yang memberikan respons positif dan memandang kegiatan tersebut sebagai bagian dari kreativitas serta ruang ekspresi mahasiswa.
Menanggapi polemik tersebut, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UINSU, Prof. Syukri Albani Nasution, menyampaikan apresiasi atas pemberitaan dan masukan masyarakat yang dinilainya penting sebagai bahan evaluasi kegiatan kemahasiswaan.
Dalam keterangannya kepada Langkatoday, Jumat (6/11), Prof. Syukri menjelaskan bahwa Manajemen Festival atau MANFEST merupakan kegiatan rutin tahunan yang diselenggarakan mahasiswa sesuai program studi masing-masing.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya berisi hiburan, tetapi juga mencakup seminar, perlombaan, serta pelibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk bekerja sama dalam kegiatan festival.
“Memang ini kegiatan yang setiap tahun rutin dilakukan mahasiswa sesuai dengan prodi masing-masing, termasuk ada isinya seminar, perlombaan, dan termasuk UMKM yang diminta untuk bekerja sama,” jelasnya.
Meski demikian, Prof. Syukri mengakui bahwa pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan mahasiswa belum sepenuhnya maksimal. Ia juga menyadari adanya perbedaan pandangan di tengah masyarakat mengenai kesesuaian kegiatan tersebut dengan suasana perguruan tinggi Islam.
“Hanya memang pantauan kita yang tidak sempurna, apalagi pendapat masyarakat netizen atau masyarakat luas yang kontroversi, ada yang melihatnya tidak begitu pas dengan suasana UIN,” ungkapnya.
Atas munculnya kontroversi tersebut, pihak fakultas menyatakan akan melakukan penelaahan lebih mendalam terhadap penyelenggaraan kegiatan mahasiswa berikutnya. Masukan masyarakat, kata dia, akan menjadi salah satu pertimbangan dalam mengukur kepantasan setiap kegiatan yang dilaksanakan di lingkungan kampus.
Prof. Syukri juga menyampaikan permohonan maaf atas munculnya kontroversi dan perbedaan pandangan di tengah masyarakat.
“Atas kontroversi atau ketidaksesuaian pandangan masyarakat luas, kami mohon maaf dan semua masukan-masukan itu menjadi bagian dari cara kami memperbaiki kegiatan-kegiatan kemahasiswaan ke depannya,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kegiatan kemahasiswaan yang tetap menjaga nama baik UIN Sumatera Utara akan menjadi prioritas ke depan.
Polemik MANFEST V3 ini pun menjadi perhatian mengenai pentingnya keseimbangan antara kreativitas mahasiswa, kebebasan berekspresi, serta identitas dan nilai-nilai keislaman yang menjadi karakter perguruan tinggi.
Evaluasi yang disampaikan pihak fakultas diharapkan tidak hanya menjadi respons atas kontroversi yang berkembang di media sosial, tetapi juga menjadi bahan perbaikan dalam perencanaan, pengawasan, dan pelaksanaan kegiatan kemahasiswaan di lingkungan UINSU.
View this post on Instagram
Editor : Fadli



















Komentar