Jakarta, Langkatoday.com – Fase baru penyelesaian konflik di Jalur Gaza mulai memasuki tahap krusial. Lembaga penyiaran publik Israel, KAN, melaporkan bahwa pasukan internasional dijadwalkan mulai dikerahkan ke wilayah konflik tersebut pada 1 Mei 2026 mendatang sebagai bagian dari fase lanjutan rencana perdamaian yang diusulkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Yang menjadi sorotan dunia, Indonesia disebut akan memegang peranan utama dengan mengirimkan kontingen terbesar, yakni sekitar 5.000 tentara, bergabung bersama pasukan dari Maroko, Kazakhstan, Albania, dan Kosovo.
Misi di “Garis Kuning” dan Wilayah Rafah
Berdasarkan laporan tersebut, pasukan internasional ini awalnya akan ditempatkan di sekitar kota Palestina baru yang dibangun dengan dukungan Uni Emirat Arab (UEA) di wilayah Rafah, Jalur Gaza bagian selatan.
Kehadiran mereka kemudian akan diperluas ke area yang dikenal sebagai “Garis Kuning”. Ini merupakan batas sementara yang memisahkan zona kontrol militer Israel dengan wilayah pemukiman warga Palestina, sesuai dengan perjanjian gencatan senjata yang telah berlaku sejak 10 Oktober 2025.
Tugas Pasukan Stabilisasi Internasional
Sesuai dengan struktur pemerintahan transisi yang diumumkan Gedung Putih pada Januari lalu, pasukan stabilisasi ini memiliki mandat berat, di antaranya:
- Keamanan Wilayah: Mengawasi operasi keamanan harian di Gaza.
- Demiliterisasi: Melucuti senjata kelompok-kelompok bersenjata di dalam wilayah transisi.
- Logistik Kemanusiaan: Memastikan distribusi bantuan pangan dan material rekonstruksi berjalan lancar tanpa hambatan.
- Rekonstruksi: Mengawal pembangunan kembali infrastruktur sipil Gaza yang 90% hancur dengan estimasi biaya mencapai Rp 1.187 Triliun.
Sikap Tegas Presiden Prabowo Subianto
Meskipun Indonesia siap mengirimkan ribuan personel TNI sebagai pasukan perdamaian, Pemerintah RI tetap memegang teguh prinsip diplomasi bebas aktif. Pada 6 Maret 2026, Presiden Prabowo Subianto menegaskan posisi Indonesia di hadapan para ulama di Istana Kepresidenan Jakarta.
Indonesia mengancam akan menarik diri dari Dewan Perdamaian jika lembaga internasional bentukan rencana Trump tersebut gagal mendukung penuh kemerdekaan Palestina yang berdaulat. Langkah ini menegaskan bahwa kehadiran pasukan TNI di Gaza murni untuk misi kemanusiaan dan perdamaian, bukan untuk melegitimasi pendudukan jangka panjang.
Persiapan Matang di Yordania
Sebelum memasuki zona konflik, ratusan pasukan asing dilaporkan akan menjalani pelatihan intensif di Yordania pada bulan depan. Selain itu, delegasi militer dari negara peserta, termasuk Indonesia, diperkirakan akan tiba di Israel dalam dua pekan ke depan untuk melakukan survei lokasi (pengintaian) guna memastikan keamanan jalur pengerahan pasukan.

.png)






