DomaiNesia
InternasionalPolitik

Para Ekstremis Kristen di Balik Serangan Trump ke Iran

Tim Langkatoday
527
×

Para Ekstremis Kristen di Balik Serangan Trump ke Iran

Sebarkan artikel ini
channel whastapp langkatoday

Washington, Langkatoday.com – Kedekatan antara kelompok Kristen Evangelis di Amerika Serikat dengan Presiden Donald Trump kembali menjadi sorotan publik setelah beredar video doa bersama di Ruang Oval, Gedung Putih.

Dalam video yang beredar di media sosial, sejumlah pendeta dan pemimpin Kristen terlihat berkumpul di sekitar Trump sambil meletakkan tangan di bahunya dan memanjatkan doa. Momen tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan konflik yang melibatkan Iran di kawasan Timur Tengah.

Iklan
Promo Website Ramadhan
Iklan

Beberapa tokoh yang terlihat hadir di ruangan itu antara lain penasihat spiritual Trump, Paula White, pendeta megachurch asal California Greg Laurie, serta pemimpin evangelis Jentezen Franklin dan Johnnie Moore.

Dukungan Evangelis pada Trump

Kelompok Kristen Evangelis memang telah lama menjadi salah satu basis dukungan politik terbesar bagi Trump. Pada Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2024, sekitar 80 persen pemilih Evangelis dilaporkan memberikan suara mereka kepada Trump.

Data Pew Research Center menunjukkan dukungan tersebut menyumbang sekitar 26 persen dari total suara yang mengantarkan Trump meraih kemenangan.

Survei lembaga yang sama pada 2025 juga mencatat bahwa sekitar 72 persen pemilih Protestan Evangelis kulit putih menyatakan puas terhadap kinerja Trump sebagai presiden.

Peran Tokoh Evangelis di Lingkaran Pemerintahan

Sejumlah tokoh Evangelis diketahui memiliki pengaruh dalam lingkaran pemerintahan Trump. Paula White, misalnya, memimpin Kantor Kepercayaan Gedung Putih dan kerap disebut sebagai salah satu penasihat spiritual presiden.

White juga dikenal sebagai tokoh yang sangat pro-Israel dan terlibat dalam sejumlah agenda diplomasi Timur Tengah, termasuk dukungan terhadap pemindahan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem serta inisiatif Abraham Accords.

Di sisi lain, sejumlah pengamat menilai bahwa pengaruh kelompok Evangelis semakin terlihat dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat, terutama terkait dukungan terhadap Israel dan sikap keras terhadap Iran.

Kritik dari Organisasi Sipil

Kedekatan antara politik dan agama ini juga menuai kritik dari sejumlah organisasi masyarakat sipil. Council on American-Islamic Relations (CAIR), organisasi advokasi Muslim terbesar di Amerika Serikat, menilai retorika yang bernuansa agama dalam konflik geopolitik dapat memperburuk ketegangan global.

Menurut mereka, para pemimpin negara seharusnya berupaya meredakan konflik dan tidak menggunakan narasi yang dapat memicu sentimen terhadap kelompok agama tertentu.

“Perbedaan politik dengan pemerintah asing tidak boleh menjadi alasan untuk menyerang atau mendiskreditkan agama yang dianut miliaran orang di dunia,” tulis organisasi tersebut dalam pernyataan resminya.

Dinamika Politik dan Agama di AS

Fenomena kedekatan antara kelompok Evangelis dan pemerintahan Trump menunjukkan bagaimana faktor agama masih memainkan peran penting dalam dinamika politik Amerika Serikat.

Sejumlah analis menilai hubungan tersebut tidak hanya berkaitan dengan dukungan elektoral, tetapi juga memengaruhi narasi kebijakan luar negeri dan sikap geopolitik Washington di kawasan Timur Tengah.