Di Bawah Tekanan Pimpinan, PH Minta Saiful Abdi Bebas dari Jerat Pidana Smartboard

- Pewarta

Jumat, 21 Agustus 2026 - 17:18 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

☕ Traktir kopi buat penulis biar semangat
+ Traktir Kopi

Medan, Langkatoday.com – Persidangan kasus dugaan korupsi Pengadaan Smartboard Dinas Pendidikan Kabupaten Langkat Tahun Anggaran 2024 bernilai dugaan kerugian negara Rp29,5 miliar kembali menggelar agenda pembuktian di Pengadilan Tipikor Medan, Rabu (20/8) sore.

Dalam sidang yang menjerat mantan Kepala Dinas Pendidikan Langkat Saiful Abdi dan Direktur Utama PT Bismacindo Perkasa Budi Pranoto Seputra, tim penasihat hukum menghadirkan dua ahli hukum pidana: Dr. Andi Hakim Lubis (Universitas Medan Area) dan Dr. Khomaini (Universitas Pembangunan Masyarakat Indonesia).

Persidangan berfokus pada keabsahan kesaksian tunggal Bahrun Walidin alias Baron selaku broker, serta kejanggalan kalkulasi nilai kerugian keuangan negara yang diajukan Penuntut Umum.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kesaksian Tunggal Tak Lagi Jadi Alat Bukti Petunjuk

Di hadapan Majelis Hakim di Ruang Cakra 9, Dr. Khomaini menegaskan bahwa dalam pembuktian hukum acara pidana terbaru (UU No. 20 Tahun 2025/KUHAP Baru), keterangan saksi tunggal tidak dapat lagi diposisikan sebagai alat bukti petunjuk.

Baca Juga:  Mantan Kadisdik Tebing Tinggi Divonis 7,5 Tahun Penjara dalam Kasus Korupsi Smartboard

“Berdasarkan pasal 183 jo Pasal 244 KUHAP Baru, keterangan satu saksi bukan lagi alat bukti petunjuk. Pemidanaan mensyaratkan sekurang-kurangnya dua alat bukti sah yang relevan yang disertai keyakinan hakim. Dua alat bukti tanpa keyakinan, atau keyakinan tanpa dua alat bukti, tidak boleh menghukum seseorang bersalah,” tegas Khomaini merespons pertanyaan tim PH Saiful Abdi terkait pengakuan Baron soal aliran dana.

Pernyataan ahli tersebut langsung mendapat perhatian khusus dari Hakim Ketua untuk dicatatkan dalam risalah persidangan.

Disparitas Harga dan Keraguan Kalkulasi Kerugian Negara

Tim Penasihat Hukum Saiful Abdi, Jonson David Sibarani, turut membongkar ketidaksesuaian data kerugian negara. Berdasarkan kontrak kerja, harga 1 unit smartboard tercatat senilai Rp158 juta (sudah termasuk PPN 11%). Namun, auditor Kejaksaan justru menyebut harga per unit mencapai Rp165,7 juta (belum termasuk PPN 11%).

Menanggapi hal itu, Dr. Andi Hakim Lubis menilai bahwa apabila alat bukti perhitungan kerugian negara cacat atau tidak autentik, maka bukti tersebut harus dikesampingkan.

Baca Juga:  Mobil Angkutan Makan Bergizi Gratis (MBG) Tabrak Siswa SD yang Sedang Berbaris, Empat Anak Dilarikan ke Rumah Sakit

“Apabila bukti tersebut dikesampingkan dan tidak ada alat bukti lain yang mampu membuktikan unsur tertentu, maka unsur kerugian keuangan negara dapat dinilai tidak terbukti secara sah dan meyakinkan,” ujar Andi Hakim.

PH Sebut Saiful Abdi Bertindak dalam Kondisi Overmacht

Usai persidangan, Jonson David Sibarani menyatakan bahwa fakta persidangan dari keterangan ahli menguatkan posisi kliennya. Penandatanganan pencairan pengadaan smartboard yang dilakukan Saiful Abdi berada dalam kondisi overmacht (daya paksa) akibat tekanan perintah pimpinan yang berkuasa saat itu.

“Saiful Abdi terpaksa dan dalam keadaan tertekan menjalankan perintah pimpinan yang sah berkuasa. Berdasarkan azas hukum pidana, seseorang yang menjalankan perintah atas tekanan pimpinan tidak dapat dimintai pertanggungjawaban pidananya,” jelas Jonson.

Selain Saiful Abdi dan Budi Pranoto, kasus dugaan penyimpangan pengadaan smartboard ini juga menyeret Supriadi selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) sebagai terdakwa.

Follow WhatsApp Channel langkatoday.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

HIMMAH Langkat Dukung Evaluasi Kinerja Kapolres, Soroti Dugaan Berbagai Aktivitas Ilegal
KPK Buka Peluang Jemput Paksa Nusron Wahid
Safari Pers TNI AL di Kodaeral I, Waaspers Kasal Tinjau Fasilitas Kesehatan dan Barakuda
Batam dan Sekitarnya Blackout, Pasokan Air Bersih dan Internet Terganggu
Bobby Nasution Mengaku Pernah Dimintai Uang Oknum Jaksa, Kejati Sumut Benarkan Ada Dua Jaksa Disanksi
Hermawan Merasa Dikhianati, Muscab PPP Medan Disorot: Calon Tunggal Tersingkir, Nama Baru Muncul
Ada Apa dengan Polres Langkat? Sudah Jadi Tersangka Sejak Mei, Kasus KDRT Masih Berkutat di P-19
KPK Kejar Jejak Proyek Ondim, 16 Pihak Swasta Dipanggil Bersamaan

Berita Terkait

Senin, 19 Oktober 2026 - 22:10 WIB

HIMMAH Langkat Dukung Evaluasi Kinerja Kapolres, Soroti Dugaan Berbagai Aktivitas Ilegal

Jumat, 16 Oktober 2026 - 12:04 WIB

KPK Buka Peluang Jemput Paksa Nusron Wahid

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:11 WIB

Safari Pers TNI AL di Kodaeral I, Waaspers Kasal Tinjau Fasilitas Kesehatan dan Barakuda

Senin, 12 Oktober 2026 - 21:03 WIB

Batam dan Sekitarnya Blackout, Pasokan Air Bersih dan Internet Terganggu

Senin, 12 Oktober 2026 - 07:29 WIB

Bobby Nasution Mengaku Pernah Dimintai Uang Oknum Jaksa, Kejati Sumut Benarkan Ada Dua Jaksa Disanksi

Terbaru

Langkat Terkini

Pemkab Langkat Mulai Rancang Arah Pariwisata 20 Tahun ke Depan

Senin, 19 Okt 2026 - 20:40 WIB

Langkat Terkini

Tindak Lanjuti Sidak, Tiorita Apresiasi Pembenahan Kantor Camat Hinai

Senin, 19 Okt 2026 - 18:08 WIB