www.domainesia.com
BeritaKesehatanRegional

Pelayanan Buruk Belum Beres, RSUD Djoelham Justru Kutip Parkir Pasien

654
×

Pelayanan Buruk Belum Beres, RSUD Djoelham Justru Kutip Parkir Pasien

Sebarkan artikel ini
RSUD Djoelham
channel whastapp langkatoday

Binjai, Langkatoday.com – Di tengah keluhan publik terkait pelayanan yang dinilai masih buruk, manajemen RSUD Djoelham, rumah sakit milik Pemerintah Kota Binjai, justru menerapkan kebijakan parkir berbayar dengan memasang portal di pintu masuk dan keluar area rumah sakit. Kebijakan tersebut diduga dikelola oleh pihak ketiga.

Buruknya pelayanan RSUD Djoelham sebenarnya sudah lama menjadi sorotan. Hal itu dapat dilihat secara terbuka melalui berbagai ulasan dan keluhan masyarakat di media sosial.

Namun hingga kini, Plt Direktur RSUD Djoelham, dr Romy Ananda, belum memberikan penjelasan terkait penerapan parkir berbayar tersebut. Saat dikonfirmasi wartawan, dr Romy tidak memberikan tanggapan.

Ironisnya, beberapa waktu lalu dr Romy justru kedapatan wartawan memarkirkan kendaraannya di Balai Kota Binjai. Ia terlihat turun dari mobil hitam yang diparkir dekat masjid Balai Kota, lalu berjalan menuju RSUD Djoelham melalui akses belakang.

Menanggapi polemik tersebut, Koordinator Lingkar Wajah Kemanusiaan (Lawan) Sumatera Utara, Abdul Rahim Daulay, menilai kebijakan parkir berbayar di rumah sakit tidak memiliki empati terhadap kondisi masyarakat.

“Pelayanan dikeluhkan, tapi yang dipikirkan justru cara mengutip uang dari keluarga pasien lewat parkir. Ini kebijakan yang tidak berperasaan,” ujar Rahim, Senin (29/12).

Menurut Rahim, sikap bungkam pimpinan RSUD Djoelham justru memperkuat dugaan adanya persoalan dalam pengelolaan parkir. Sebagai pejabat publik, dr Romy dinilai wajib bersikap terbuka.

“Kalau memang sesuai prosedur, kenapa harus takut menjawab wartawan? Ketertutupan ini preseden buruk bagi keterbukaan informasi publik,” tegasnya.

Kebijakan parkir berbayar tersebut tidak hanya menyasar pasien dan keluarga yang menjenguk, namun juga tenaga kesehatan yang bekerja di RSUD Djoelham.

Sebelumnya, pelayanan RSUD Djoelham juga telah menjadi perhatian Wakil Wali Kota Binjai, Hasanul Jihadi. Ia melakukan inspeksi mendadak (sidak) setelah menerima banyak laporan buruk dari masyarakat, atas arahan Wali Kota Binjai.

Dalam sidak tersebut, Jihadi meninjau langsung fasilitas dan pelayanan mulai dari IGD, ruang rawat inap, hingga ruang cuci darah. Di lantai 4, ia terkejut mendapati ruang rawat inap dalam kondisi panas karena AC tidak berfungsi, sementara pasien hanya menggunakan kipas manual.

Selain itu, wastafel rusak dan kamar mandi yang tidak layak pakai turut ditemukan dalam pemeriksaan tersebut.

RSUD Djoelham juga sebelumnya disorot atas meninggalnya pasien cuci darah R br Ketaren (75) . Keluarga korban mempertanyakan proses layanan sebelum kematian, termasuk alarm mesin cuci darah yang berbunyi dan muncul tulisan no water. Kasus ini telah dilaporkan ke DPRD dan Inspektorat Binjai.

Kasus lain menimpa bayi MAP (11 bulan), anak dari Agung Pramana, yang meninggal dunia setelah disebut terlalu lama menunggu dokter spesialis anak hingga harus bermalam di rumah sakit.

Rangkaian persoalan ini kembali menempatkan RSUD Djoelham dalam sorotan publik, di tengah tuntutan masyarakat akan perbaikan layanan dasar kesehatan.