MEDAN, Langkatoday.com – Pelaksanaan Manajemen Festival (MANFEST) V3 yang digelar di Kampus IV Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), Tuntungan, pada Rabu (4/11), menjadi perbincangan di media sosial.
Kegiatan yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UINSU tersebut menghadirkan sejumlah penampil musik, di antaranya Human After Rain, Nartok, serta Diskoyoks X Pasming Based.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
View this post on Instagram
Berdasarkan unggahan yang beredar di Instagram, acara hari ketiga MANFEST V3 berlangsung meriah. Ribuan mahasiswa tampak memadati area panggung untuk menyaksikan penampilan para pengisi acara.
Namun, kemeriahan festival tersebut justru memunculkan perdebatan di kalangan warganet.
Sejumlah pengguna media sosial mempertanyakan konsep kegiatan hiburan yang diselenggarakan di lingkungan perguruan tinggi beridentitas Islam.
Beberapa komentar bahkan menyinggung identitas UINSU sebagai kampus Islam.
Ada warganet yang menuliskan, “UINSU udah mulai liberal”, sementara pengguna lainnya mengaku prihatin melihat penyelenggaraan konser musik di lingkungan kampus tersebut.
Kritik juga mengarah pada persoalan aturan berpakaian mahasiswa.
Salah satu komentar mempertanyakan kebijakan penggunaan hijab bagi mahasiswi, khususnya ketika kegiatan berlangsung di lingkungan kampus Islam.
Di sisi lain, tidak sedikit pula warganet yang memberikan respons positif terhadap festival tersebut.
Mereka menilai kegiatan hiburan mahasiswa merupakan bagian dari kreativitas, ekspresi, dan aktivitas organisasi kemahasiswaan.
Perdebatan ini kemudian memunculkan pertanyaan lebih luas mengenai bagaimana UINSU menempatkan kegiatan seni dan hiburan dalam lingkungan akademik yang membawa identitas serta nilai-nilai keislaman.
Sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam negeri, UINSU memiliki pedoman etika akademik dan tata tertib mahasiswa yang dipublikasikan melalui laman resminya pada 7 Maret 2025.
Dokumen tersebut menjadi salah satu rujukan penting dalam melihat bagaimana nilai dan aturan kehidupan kampus diterapkan.
Ruang kreativitas mahasiswa dan identitas keislaman perguruan tinggi semestinya dapat berjalan beriringan tanpa mengabaikan karakter akademik maupun nilai-nilai yang menjadi landasan institusi.
Editor : Fadli



















Komentar