Iklan Bapenda Sumut
iklan bapenda
HUT RI
Sajian Khusus

Ketika Induk Semang Pergi, Sang Aktivis Kehilangan Kompas

Rahmatullah
815
×

Ketika Induk Semang Pergi, Sang Aktivis Kehilangan Kompas

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi

Stabat, Langkatoday.com – Di negeri yang demokratis ini, rupanya ada satu spesies aktivis yang cukup unik. Mereka bukan dikenal karena konsistensi memperjuangkan nilai, melainkan karena keahlian membaca arah angin kekuasaan. Selama angin bertiup dari arah yang menguntungkan, mereka berdiri paling depan sambil berteriak lantang tentang moralitas, keadilan, dan keberpihakan kepada rakyat.

Namun, ada satu masalah besar yang selalu menghantui: bagaimana jika sang induk semang tersandung kasus?

Saat itulah wajah kepanikan mulai terlihat. Telepon yang dulu tak pernah sepi mendadak sunyi. Undangan rapat menghilang. Amplop perjuangan tak lagi mampir. Sang aktivis pun mulai berkeliling, bukan mencari kebenaran, melainkan mencari sandaran baru.

Berbagai manuver pun dilakukan. Hari ini memuji tokoh A sebagai penyelamat bangsa. Besok bergeser memuji tokoh B sebagai harapan rakyat. Lusa sudah nongkrong di meja tokoh C sambil tersenyum seolah-olah mereka telah bersahabat sejak lahir.

Prinsip? Tentu masih ada. Prinsipnya sederhana: siapa yang memberi makan, dialah yang paling benar.

Dulu ia begitu garang membela induk semangnya. Siapa pun yang mengkritik akan dicap musuh rakyat. Kini, setelah sang pelindung terjerat masalah, pidato-pidato lama mendadak hilang dari media sosial. Foto kebersamaan ikut lenyap. Sejarah seakan dihapus hanya dengan beberapa kali menekan tombol “hapus”.

Ironisnya, lidah yang dahulu digunakan untuk membela kini berubah fungsi menjadi alat negosiasi. Sanjungan dilontarkan ke mana-mana. Pujian dipoles setebal mungkin. Bahkan orang yang dulu dicaci kini dielu-elukan dengan harapan pintu kekuasaan kembali terbuka.

Sayangnya, menjadi penjilat profesional pun membutuhkan reputasi. Para calon induk semang tentu juga berhitung. Jika hari ini seseorang rela meninggalkan majikan lamanya demi kepentingan pribadi, siapa yang bisa menjamin besok ia tidak melakukan hal yang sama?

Maka, sang aktivis pun terus berputar-putar seperti kompas yang kehilangan kutub. Ia hadir di setiap acara, menyapa setiap tokoh, memasang senyum paling ramah, berharap ada tangan yang mengelus kepala dan berkata, “Mulai hari ini, kamu ikut saya.”

Tetapi dunia politik bukan sekadar panggung bagi mereka yang pandai memuji. Kesetiaan yang diperjualbelikan nilainya selalu murah. Orang mungkin memanfaatkan, tetapi belum tentu mempercayai.

Barangkali inilah ironi terbesar. Aktivisme yang seharusnya menjadi jalan perjuangan berubah menjadi profesi berburu patron. Ketika idealisme digadaikan demi kenyamanan, maka yang tersisa hanyalah kegelisahan setiap kali sang pelindung tumbang.

Sebab aktivis sejati hidup dari keberanian menyuarakan kebenaran. Sementara aktivis pencari induk semang hidup dari pertanyaan yang tak pernah selesai: “Setelah ini, saya harus menjilat siapa lagi?”