Iklan
DomaiNesia
DomaiNesia
BeritaKesehatan

Waspada Dampak “Toxic” Media Sosial pada Remaja: Dari Krisis Harga Diri hingga Gangguan Tidur

Tim Langkatoday
252
×

Waspada Dampak “Toxic” Media Sosial pada Remaja: Dari Krisis Harga Diri hingga Gangguan Tidur

Sebarkan artikel ini
channel whastapp langkatoday

Jakarta, Langkatoday.com – Di tengah pesatnya penetrasi digital, para ahli psikologi memberikan peringatan keras mengenai penggunaan media sosial yang tidak terkontrol pada kelompok remaja.

Meskipun menawarkan konektivitas, penggunaan berlebihan tanpa batasan dapat memicu dampak psikologis yang serius, mulai dari krisis identitas hingga gangguan kesehatan fisik.

Iklan
Promo Website Ramadhan
Iklan

Jebakan Perbandingan Sosial dan “Likes”

Psikolog Klinis Dewasa, Teresa Indira Andani, S.Psi., M.Psi., menjelaskan bahwa remaja berada pada fase pencarian identitas yang rentan. Konten media sosial yang selalu menampilkan “sisi terbaik” kehidupan orang lain sering kali disalahpahami sebagai realitas yang mutlak oleh remaja.

“Remaja bisa merasa tidak cukup menarik atau gagal karena melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna. Jika validasi diri hanya bergantung pada likes dan komentar, maka harga diri menjadi sangat rapuh karena bersifat eksternal,” ujar psikolog lulusan Universitas Indonesia tersebut, Sabtu (14/3).

Fenomena FOMO dan Kecemasan Digital

Selain masalah harga diri, intensitas penggunaan gawai yang tinggi memicu munculnya FOMO (Fear of Missing Out). Ini adalah rasa takut tertinggal informasi atau tren sosial yang sedang hangat. Rasa cemas akan timbul jika remaja tidak terlibat dalam percakapan digital terbaru dengan teman sebaya mereka, yang pada akhirnya meningkatkan tingkat stres harian.

Dampak Nyata pada Kualitas Tidur

Salah satu dampak fisik yang paling umum adalah gangguan tidur. Kebiasaan menggunakan gawai hingga larut malam bukan hanya mengurangi durasi istirahat, tetapi paparan cahaya biru (blue light) dari layar juga mengganggu produksi hormon melatonin.

Akibatnya, kualitas tidur menurun drastis, yang berujung pada sulitnya konsentrasi saat belajar di sekolah pada keesokan harinya.

Media Sosial Sebagai Pisau Bermata Dua

Meski menyimpan risiko, Teresa menekankan bahwa media sosial tidak selalu buruk. Platform digital bisa menjadi sarana belajar, membangun komunitas positif, dan wadah kreativitas.

“Masalahnya bukan pada medianya, tapi pada penggunaannya yang tidak seimbang. Di sinilah peran orang tua sangat krusial untuk membimbing remaja agar bisa menggunakan media sosial secara sehat dan proporsional,” tutup psikolog yang akrab disapa Tesya tersebut.