BRIN Temukan Jejak Islam Abad ke-7 di Tapanuli Tengah, Sejarah Nusantara Bisa Berubah
Tapanuli Tengah, Langkatoday.com – Temuan arkeologi di Situs Bongal, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, berpotensi mengubah pemahaman mengenai sejarah awal masuknya Islam ke Nusantara.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap adanya temuan yang mengindikasikan keberadaan aktivitas terkait Islam di kawasan tersebut sejak abad ke-7 hingga ke-8 Masehi.
Kepala Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, Irfan Mahmud, menyampaikan temuan tersebut dalam Webinar Series Forum Kebhinekaan Seri #38 di Jakarta, Rabu (12/8).
Menurut Irfan, hasil ekskavasi di Situs Bongal memberikan petunjuk penting mengenai kemungkinan kedatangan Islam yang jauh lebih awal dibandingkan narasi sejarah yang selama ini banyak dikenal.
“Tim menemukan satu temuan penting tentang momen kedatangan Islam yang lebih awal dari yang diduga sebelumnya, abad 7 dan 8,” ujar Irfan.
Tujuh Abad yang Masih Menjadi Ruang Kosong
Irfan menjelaskan, temuan tersebut menarik karena terdapat rentang waktu sekitar tujuh abad dengan narasi sejarah yang selama ini lebih banyak menempatkan perkembangan Islam sebagai kekuatan politik atau kerajaan pada sekitar abad ke-13 hingga ke-15.
Menurutnya, rentang waktu tersebut justru menjadi bagian penting yang perlu diteliti lebih mendalam.
“Tujuh abad bukan rentang yang pendek dan banyak lokasi. Saya kira dengan penemuan kawan-kawan tersebut akan membuka kesempatan dan upaya-upaya untuk menemukan hal-hal yang baru,” katanya.
BRIN menilai Situs Bongal dapat membuka perspektif baru mengenai “Islam akar rumput”, yakni bagaimana masyarakat biasa berinteraksi dengan jaringan perdagangan, budaya, dan agama pada masa awal, bukan hanya melihat sejarah dari kehidupan kerajaan dan pusat kekuasaan.
Dengan pendekatan tersebut, sejarah masuknya Islam ke Nusantara tidak lagi semata-mata dilihat melalui narasi kerajaan, tetapi juga melalui jejak kehidupan masyarakat pesisir dan komunitas perdagangan.

Temuan Bongal Picu Perdebatan Akademis
Kepala Organisasi Riset Arkeologi Bahasa dan Sastra (Arbastra) BRIN, Herry Yogaswara, mengatakan temuan dari Situs Bongal telah memunculkan dialektika baru di kalangan ilmuwan.
Menurutnya, perbedaan tafsir terhadap temuan arkeologi merupakan bagian dari proses ilmiah selama seluruh argumen didasarkan pada bukti.
“Saya kira di dalam dunia riset perdebatan itu tidak ada masalah sepanjang berdasarkan evidence,” kata Herry.
BRIN bahkan berencana mendorong penelitian dalam skala lebih besar di kawasan Pantai Barat Sumatera untuk memperkuat bukti mengenai perkembangan awal peradaban Islam.
Herry mengatakan pihaknya tengah mempertimbangkan pembangunan stasiun lapangan yang memungkinkan penelitian dilakukan secara lebih panjang di kawasan Bongal maupun wilayah pesisir barat Sumatera.
“Khususnya yang berkaitan dengan peradaban Islam,” ujarnya.
Jika penelitian lanjutan berhasil menemukan lebih banyak bukti yang saling menguatkan, Situs Bongal berpotensi menjadi salah satu titik penting dalam penulisan ulang sejarah awal interaksi Islam dengan masyarakat Nusantara.
Namun, temuan tersebut tetap membutuhkan penelitian, verifikasi, dan kajian akademis lebih lanjut sebelum menjadi kesimpulan sejarah yang definitif.








