sejasa
Nasional

Bisnis Online Diam-Diam dari Rumah? Kini Masuk Radar Sensus Ekonomi 2026

Tim Langkatoday
1378
×

Bisnis Online Diam-Diam dari Rumah? Kini Masuk Radar Sensus Ekonomi 2026

Sebarkan artikel ini
Wakil Kepala BPS RI, Sonny Harry Budiutomo Harmadi saat ditemui di kawasan Malioboro, Kota Jogja, Kamis (18/6/2026). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja
channel whastapp langkatoday

Yogyakarta, Langkatoday.com – Badan Pusat Statistik (BPS) memastikan pelaku usaha berbasis daring atau online turut menjadi sasaran pendataan dalam Sensus Ekonomi (SE) 2026.

Untuk menjangkau usaha yang tidak memiliki toko fisik, petugas akan melakukan pendataan secara door to door atau mendatangi rumah-rumah warga.

Wakil Kepala BPS RI, Sonny Harry Budiutomo Harmadi, mengatakan metode tersebut dipilih berdasarkan hasil uji coba Sensus Ekonomi yang dilakukan pada tahun sebelumnya.

Dari hasil evaluasi, banyak aktivitas usaha digital yang tidak terdeteksi hanya melalui pengamatan dari luar.

“Ketika dilakukan pendataan dari rumah ke rumah, ternyata banyak usaha online yang dijalankan dari dalam rumah dan sebelumnya tidak teridentifikasi,” ujar Sonny di kawasan Malioboro, Yogyakarta, Kamis (18/6).

Ia mencontohkan, dalam uji coba sensus pihaknya pernah menemukan seorang mahasiswa semester pertama yang menjalankan bisnis penjualan pakaian bekas secara daring dengan keuntungan mencapai sekitar Rp9 juta per bulan.

Menurut Sonny, temuan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan ekonomi digital semakin pesat dan perlu tercatat secara akurat dalam data statistik nasional.

Dalam pelaksanaannya, petugas BPS akan menempelkan stiker pada rumah yang telah didata. Stiker tersebut berfungsi sebagai penanda agar memudahkan pemantauan rumah yang sudah maupun belum dikunjungi petugas sensus.

“Kalau ada rumah yang belum ditempel stiker, berarti belum didatangi petugas atau pemilik rumah belum bersedia menerima pendataan,” jelasnya.

Selain melakukan pendataan langsung, BPS juga akan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk meningkatkan kualitas data.

AI digunakan untuk membantu petugas memverifikasi klasifikasi jenis usaha berdasarkan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI).

Teknologi tersebut akan memberikan peringatan apabila kode usaha yang dimasukkan tidak sesuai, sehingga petugas dapat melakukan koreksi sebelum data dikirim ke sistem.

BPS berharap penerapan teknologi digital dan metode pendataan langsung dapat menghasilkan data ekonomi yang lebih akurat, termasuk memotret pertumbuhan pelaku usaha online yang selama ini belum seluruhnya tercatat dalam statistik resmi.