Ramadhan Jadi Musim “Pinjol” Nasional: Tren Konsumtif dan Jebakan Emosi di Balik Dana Cepat

- Kontributor

Jumat, 27 Februari 2026 - 16:38 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Traktir kopi buat penulis biar semangat
+ Traktir Kopi

Jakarta, Langkatoday.com – Fenomena pinjaman online (pinjol) kembali menjadi sorotan tajam seiring masuknya bulan Ramadhan 1447 H. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan tren kenaikan penyaluran dana pinjol yang konsisten selama periode Ramadhan dalam dua tahun terakhir, yakni pada 2024 dan 2025. Tragisnya, pendanaan ini masih didominasi oleh kebutuhan konsumtif, bukan produktif.

OJK mencatat pertumbuhan penyaluran dana sebesar 8,90% (mtm) pada Ramadhan 2024 dan 3,80% (mtm) pada Ramadhan 2025. Hingga November 2025, nilai pembiayaan konsumtif mencapai angka fantastis Rp63,63 triliun atau sekitar 67% dari total industri pinjol.

Faktor FOMO dan Gengsi di Bulan Suci

Pakar Ekonomi Syariah IPB University, Dr. Ranti Wiliasih, menilai lonjakan ini dipicu oleh dorongan psikologis seperti Fear of Missing Out (FOMO) dan keinginan untuk mengikuti gaya hidup orang lain di tengah meningkatnya kebutuhan hari raya.

Baca Juga:  Zulhas Buka Rekrutmen 35 Ribu Lowongan untuk Koperasi Merah Putih, Status Pegawai BUMN

“Sebagian besar digunakan untuk konsumtif, padahal pinjaman hanya layak untuk kondisi mendesak seperti medis atau musibah. Jangan malu jika gaya hidup berbeda, justru harus malu jika berutang hanya karena ingin terlihat keren,” tegas Ranti dalam keterangannya, Jumat (27/2).

Ranti memperingatkan bahwa bunga yang membengkak serta risiko penagihan tidak etis (seperti teror hingga penyebaran data pribadi) dapat merusak kesehatan mental peminjam dan keluarganya.

Mekanisme Psikologis: Mengapa Kita Mudah Terjerat?

Penelitian mendalam dari Doktor Fakultas Psikologi UI, Miriam Rustam, mengungkap bahwa emosi memegang peranan dominan dalam keputusan berutang. Melibatkan lebih dari 900 responden, Miriam menemukan adanya “perang” antara emosi antisipatif (antusiasme seketika saat melihat uang) dan emosi yang diantisipasi (bayangan kesuksesan di masa depan).

Baca Juga:  Kabar Gembira bagi Insan Pers! Putusan MK: Wartawan Tak Bisa Langsung Dipidana, Wajib Lewat Dewan Pers

“Pertahanan psikologis seseorang melemah ketika informasi disajikan secara abstrak dan fokus pada keuntungan saja. Mereka gagal mempertimbangkan risiko kegagalan secara mendalam,” jelas Miriam.

Riset ini menjadi alarm penting karena sektor pinjol menyumbang kerugian nasional sebesar Rp120 triliun pada tahun 2023, menambah beban kerugian investasi bodong yang menyentuh Rp140 triliun sejak 2017.

Baca Juga:  Cuma Hukuman Mati yang Bisa Berantas Korupsi di Indonesia

Edukasi Bukan Sekadar Angka

Menyikapi fenomena ini, para ahli merekomendasikan perubahan pola edukasi literasi keuangan di Indonesia. Edukasi tidak boleh lagi hanya soal matematika dan angka, tetapi harus menyentuh manajemen emosi.

“Masyarakat perlu dilatih menyadari dorongan instan saat melihat tawaran keuangan. Informasi risiko juga harus disajikan secara konkret, seperti detail konsekuensi gagal bayar, agar tidak gegabah mengambil keputusan,” tambah Miriam.

Bagi masyarakat yang sudah terlanjur terjebak, Dr. Ranti menyarankan untuk segera mencari alternatif pinjaman tanpa bunga (Qardhul Hasan) dengan jangka waktu lebih panjang guna menutup lubang pinjol dan mengembalikan ketenangan batin dalam beribadah.

Follow WhatsApp Channel langkatoday.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wamen Komdigi: Film Bisa Jadi Medium Literasi Bahaya Pinjol Ilegal
PC HIMMAH Langkat Audiensi dengan Dinas Koperasi, Dukung Program Sertifikasi Halal Bagi UMKM
Bukan Cuma Soal PWI, Dewan Pers Mulai Bongkar Tata Kelola HPN 2027
KADIN Langkat Satukan Dunia Usaha, Pemerintah dan Perbankan Bahas Ekonomi Daerah
Hercules Turun ke Jalan Usai Demo DPR, Kuasa Hukum Ungkap Alasannya
Prabowo Yakin Indonesia Bangkit: Beberapa Tahun Lagi Tidak Akan Ada yang Bisa Bendung Kita
Tiorita Promosikan Produk Unggulan Langkat di APKASI Otonomi Expo 2026
Tiorita Dorong UMKM Langkat Percepat Sertifikasi Halal untuk Naik Kelas

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 04:06 WIB

Wamen Komdigi: Film Bisa Jadi Medium Literasi Bahaya Pinjol Ilegal

Selasa, 1 September 2026 - 15:55 WIB

Bukan Cuma Soal PWI, Dewan Pers Mulai Bongkar Tata Kelola HPN 2027

Senin, 31 Agustus 2026 - 12:29 WIB

KADIN Langkat Satukan Dunia Usaha, Pemerintah dan Perbankan Bahas Ekonomi Daerah

Minggu, 30 Agustus 2026 - 21:33 WIB

Hercules Turun ke Jalan Usai Demo DPR, Kuasa Hukum Ungkap Alasannya

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 17:00 WIB

Prabowo Yakin Indonesia Bangkit: Beberapa Tahun Lagi Tidak Akan Ada yang Bisa Bendung Kita

Berita Terbaru