Jakarta, Langkatoday.com – Film dinilai dapat menjadi medium literasi digital yang efektif untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai bahaya pinjaman online (pinjol) ilegal, termasuk dampaknya terhadap korban, keluarga, dan lingkungan sosial.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, mengatakan, kekuatan cerita audiovisual dapat membantu masyarakat melihat secara lebih dekat proses seseorang terjerat pinjol ilegal hingga berbagai tekanan yang muncul setelahnya.
“Masyarakat bisa melihat bagaimana seseorang masuk ke dalam masalah, bagaimana tekanan berkembang, dan bagaimana dampaknya ikut dirasakan keluarga serta orang-orang di sekitarnya,” ujar Wamen Nezar saat menerima audiensi Indonesian Institute of Journalism (IIJ) bersama tim produksi film Menang untuk Kalah di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Senin (31/8).
Menurut Nezar Patria, pendekatan melalui film juga dapat membantu masyarakat memahami bahwa korban pinjol ilegal tidak selalu mengambil pinjaman untuk kebutuhan konsumtif.
Kondisi darurat dan tekanan ekonomi dapat membuat seseorang mengambil keputusan dalam situasi yang sulit.
Ia mengapresiasi tim produksi film Menang untuk Kalah yang mengangkat persoalan pinjol ilegal melalui drama kehidupan sebuah keluarga.
Menurutnya, aspek keluarga penting ditampilkan karena praktik pinjol ilegal dapat memanfaatkan data dan profiling untuk memberikan tekanan kepada korban.
Tekanan tersebut, lanjutnya, tidak hanya dirasakan peminjam, tetapi dapat meluas kepada keluarga, teman, dan lingkungan sosial.
“Para korban pinjol ilegal harus menerima tekanan psikologis yang besar dan tagihan dengan bunga tinggi, bahkan sampai dipermalukan di lingkungannya,” tandas Wamenkomdigi.
Wamen Nezar menilai film tersebut berpotensi dikembangkan sebagai bagian dari kegiatan literasi digital dengan melibatkan berbagai kelompok masyarakat.
Pemutaran film dapat disertai diskusi di kampus, komunitas, maupun ruang publik untuk memperluas pembahasan mengenai keamanan digital dan literasi keuangan.
Pendekatan tersebut diharapkan membuat pesan mengenai bahaya pinjol ilegal tidak berhenti pada tayangan film, tetapi dilanjutkan dengan pemahaman masyarakat mengenai cara menjaga keamanan data pribadi serta mengambil keputusan keuangan secara lebih bijak.
“Dengan cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat, pesan literasi digital dapat lebih mudah dipahami dan didiskusikan,” ujar Nezar Patria.
Ia berharap kolaborasi antara pemerintah, industri kreatif, media, komunitas, dan pelaku ekosistem digital dapat memperluas jangkauan edukasi mengenai risiko pinjol ilegal.
Film Menang untuk Kalah dijadwalkan tayang di bioskop pada 14 November 2026. Film tersebut dibintangi Surya Saputra dan Lulu Tobing, serta melibatkan Jujur Prananto sebagai penulis naskah dan Hasto Broto sebagai sutradara.
Editor : Fadli












