Peringatan ke-79 Brandan Bumi Hangus, Tiorita Ajak Masyarakat Lanjutkan Semangat Perjuangan
Stabat, Langkatoday.com – Semangat perjuangan para pahlawan kembali digaungkan dalam Peringatan ke-79 Peristiwa Berandan Bumi Hangus yang digelar di Lapangan Petrolia, Pangkalan Brandan, Kecamatan Babalan, Rabu (13/8).
Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Langkat, Tiorita Br. Surbakti, SH, mengajak masyarakat tidak hanya mengenang sejarah, tetapi juga meneruskan semangat perjuangan tersebut melalui pengabdian dan pembangunan daerah.
Peringatan tahun ini mengusung tema “Dari Berandan Untuk Negeri, Menjaga Kedaulatan, Membangun Peradaban” dan berlangsung meriah serta khidmat. Ribuan masyarakat hadir mengikuti berbagai rangkaian kegiatan sejak pagi.
Kegiatan diawali dengan pelepasan pawai yang melibatkan puluhan kelompok, mulai dari peserta tapak tilas, Paskibraka Kecamatan, purna Paskibraka, anak-anak TK, grup drumband hingga berbagai unsur masyarakat.
Pawai tersebut dilepas langsung oleh Plt. Bupati Langkat Tiorita Br. Surbakti.
Tiga Hari Peringatan Brandan Bumi Hangus
Sekretaris Daerah Kabupaten Langkat, Amril, S.Sos., M.AP., mengatakan peringatan Brandan Bumi Hangus tahun ini dikemas berbeda dibandingkan tahun sebelumnya.
Atas kebijakan Plt. Bupati Langkat, rangkaian kegiatan dilaksanakan selama tiga hari, mulai 11 hingga 13 Agustus 2026.
“Rangkaian kegiatannya mulai dari pameran expo dan IKM, lomba lagu perjuangan, lomba napak tilas, malam keakraban dan temu tokoh pejuang hingga acara puncak Peringatan Berandan Bumi Hangus,” ujar Amril.
Selain itu, pemerintah juga memberikan penghargaan kepada para pemrakarsa, tokoh dan keluarga pendukung Peristiwa Berandan Bumi Hangus, termasuk pihak yang berperan dalam lahirnya Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 1995.
Mengingat Kembali Perjuangan Pangkalan Brandan
Peristiwa Brandan Bumi Hangus merupakan salah satu catatan penting dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Kabupaten Langkat.
Dalam berbagai catatan sejarah, peristiwa tersebut berkaitan dengan masuknya pasukan Sekutu bersama Belanda ke wilayah Langkat sekitar 1947.
Setelah sejumlah wilayah seperti Stabat, Tanjung Pura dan Gebang berhasil dikuasai, pasukan tersebut kemudian berupaya menguasai kawasan Pangkalan Brandan yang memiliki sumber daya minyak strategis.
Di tengah situasi tersebut, para pejuang dan masyarakat mengambil keputusan untuk membumihanguskan instalasi minyak agar sumber daya strategis tersebut tidak jatuh ke tangan pihak yang ingin kembali menguasai Indonesia.
Pada dini hari 13 Agustus 1947, tanki-tanki minyak, fasilitas penyulingan hingga sejumlah bangunan perusahaan minyak diledakkan.
Api kemudian membakar kawasan Pangkalan Brandan. Peristiwa tersebut dikenang sebagai salah satu bentuk keberanian masyarakat dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia.
Tiorita: Jangan Hanya Mengenang, Lanjutkan Perjuangan
Di hadapan ribuan masyarakat, Tiorita mengajak seluruh warga menjadikan sejarah Berandan Bumi Hangus sebagai inspirasi untuk membangun daerah.
Dengan lantang, Tiorita menyerukan:
“Merdeka! Merdeka! Merdeka!”
Menurutnya, 79 tahun lalu masyarakat Pangkalan Brandan menghadapi situasi sulit dalam mempertahankan kemerdekaan. Kini, bentuk perjuangan tersebut harus diwujudkan melalui pengabdian sesuai bidang masing-masing.
“Mari kita lanjutkan perjuangan tersebut dengan semangat yang sama sesuai tugas kita masing-masing,” ajaknya.
Tiorita menegaskan, Pangkalan Brandan memiliki kontribusi penting dalam perjalanan sejarah bangsa. Karena itu, semangat para pejuang harus terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Mari bersama menguatkan persatuan, kesetiaan, melanjutkan semangat pengabdian untuk memajukan Kabupaten Langkat maupun Sumatera Utara,” tegasnya.
Semangat Perjuangan Harus Menjawab Tantangan Zaman
Mewakili Gubernur Sumatera Utara, Asisten Pemerintahan Sekretariat Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Drs. Basarin Yunus Tanjung, mengatakan Peristiwa Brandan Bumi Hangus bukan sekadar cerita masa lalu.
Menurutnya, kobaran api yang terjadi pada 1947 merupakan simbol keberanian masyarakat dalam mempertahankan tanah air.
Nilai perjuangan tersebut, kata Basarin, harus diterjemahkan dalam bentuk perjuangan baru sesuai tantangan zaman.
“Nilai semangat perjuangan ini harus diterapkan ke zaman sekarang dengan meningkatkan semangat dalam pendidikan, pembangunan, pelayanan kepada masyarakat serta meningkatkan perekonomian,” katanya.
Puncak peringatan kemudian diisi dengan drama kolosal Kilas Balik Peristiwa Berandan Bumi Hangus yang melibatkan ratusan pelajar bersama prajurit Marinir Yonif 8 Harimau Putih.
Pertunjukan tersebut menggambarkan kembali suasana perjuangan masyarakat dan para pejuang Pangkalan Brandan dalam menghadapi upaya penguasaan kembali wilayah tersebut.
Peringatan ke-79 Brandan Bumi Hangus akhirnya bukan hanya menjadi ruang untuk mengenang sejarah, tetapi juga menjadi pengingat bahwa semangat perjuangan harus terus hidup dalam bentuk persatuan, pendidikan, pelayanan publik, pembangunan dan pengabdian kepada masyarakat.









